Chapter Twenty Four

Kopi Termos

POV: Arga

Senin pagi, Dewi datang membawa termos.

Termos itu jelek. Tidak ada kata lain untuk menggambarkannya. Warnanya hijau tentara yang sudah pudar, catnya mengelupas di banyak tempat sehingga logam abu-abu di bawahnya kelihatan seperti peta pulau-pulau. Di sisi kirinya ada penyok besar, cekungan dalam seukuran kepalan tangan, seolah termos itu pernah jatuh dari tempat tinggi dan memutuskan untuk tetap bekerja walaupun cacat. Tutupnya berwarna merah, jelas bukan tutup aslinya.

Dewi menaruhnya di meja dapur dengan bunyi logam yang berat. Tonk.

“Itu apa?” tanyaku dari meja makan.

“Termos.”

“Aku tahu itu termos. Kenapa kamu bawa?”

“Disita.” Dewi membuka tutup merahnya. Uap mengepul keluar, membawa bau kopi yang kental. “Ibu sita dari Pakde hari Minggu. Pakde minum kopi lima gelas Sabtu malam. Ibu bilang, kalau termosnya masih di rumah, Pakde bakal minum lagi. Jadi Ibu suruh aku bawa ke sini.”

“Ibumu menyita termos orang dewasa?”

“Ibuku menyita apa pun yang bikin Pakde masuk rumah sakit.” Dewi menuang kopi dari termos ke cangkirku. Warnanya hitam pekat, dengan ampas halus yang mengendap di dasar. “Pakde nangis waktu termosnya dibawa. Pura-pura nggak, tapi nangis.”

Aku tertawa. Aku membayangkan seorang laki-laki tua, sopir truk, yang membayar kuliah Dewi dengan gajinya, menangisi termos penyok di depan seorang ibu warung yang memegang sendok sayur.

“Pakde kamu lucu,” kataku.

Dewi berhenti menuang. Hanya sedetik. Lalu ia melanjutkan, dan menyodorkan cangkir itu padaku.

“Iya,” katanya pelan. “Lucu.”


Aku menyesap kopi itu.

Kopi tubruk. Kental, pahit, dengan ampas halus yang menempel di lidah. Tapi ada sesuatu yang lain di sana. Manis yang bukan manis gula pasir, tapi lebih dalam, lebih berat, seperti karamel. Gula aren. Dan di ujung rasa, sangat samar, hampir tidak terasa, sedikit asin.

Aku berhenti.

Aku menatap cangkir itu. Lalu aku menyesapnya lagi.

Pahit. Manis gula aren. Sedikit asin.

Dan tiba-tiba, tanpa peringatan, aku tidak lagi duduk di meja makan rumah Pondok Indah. Aku duduk di lantai. Lantai semen yang dingin. Di dapur kecil dengan dinding papan dan satu jendela yang menghadap gang. Ada kompor minyak tanah yang menyala biru. Ada bau minyak tanah, dan bau lain, bau minyak mesin dari baju kerja yang digantung di paku di dinding.

Dan ada seseorang yang duduk di bangku kayu di sebelahku, minum kopi dari gelas belimbing. Seseorang yang besar. Seseorang yang tertawa.

Mau coba, Ga?

Gelas itu diulurkan ke arahku. Aku, yang masih sangat kecil, menyesapnya. Pahit sekali. Aku meringis. Seseorang itu tertawa, keras, sampai bangku kayunya berderit.

Pahit, ya? Nanti kalau sudah gede, kamu suka.

“Ga?”

Aku tersentak.

Dewi berdiri di depanku, dengan termos hijau penyok di tangan. Ia menatapku dengan dahi berkerut. “Kamu kenapa? Kopinya terlalu pahit?”

Aku menatap cangkir di tanganku. Tanganku sedikit gemetar. Kopi di dalamnya bergoyang.

“Kopinya,” kataku pelan. “Ada garamnya?”

Dewi tidak menjawab langsung.

“Sedikit,” katanya akhirnya. “Sejumput. Pakde selalu tambahin garam. Katanya biar pahitnya nggak nyelekit.”

“Sama gula aren.”

“Iya.” Suaranya lebih pelan sekarang. “Kenapa, Ga?”

Aku menatap cangkir itu lama.

“Aku pernah minum ini,” kataku.

Dewi tidak bergerak.

“Dulu. Waktu kecil. Kecil sekali.” Aku menggeleng pelan. “Aku nggak ingat di mana. Aku cuma ingat… lantai semen. Bau minyak tanah. Ada orang yang ketawa. Dia kasih aku coba, terus aku meringis karena pahit.”

Aku mengangkat kepala dan menatap Dewi.

Wajahnya pucat. Sangat pucat. Termos di tangannya sedikit gemetar.

“Mungkin,” kataku, mencoba tertawa, “semua sopir truk minum kopi kayak gini. Mungkin itu resep umum. Kopi orang jalanan.”

“Mungkin,” bisik Dewi.

“Atau mungkin aku cuma kangen masa kecil. Kemarin Mama cerita soal kontrakan terus. Aku jadi kebawa.”

“Mungkin, Ga.”

Aku menghabiskan kopi itu. Sampai ampas di dasarnya. Rasanya pahit dan manis dan sedikit asin, dan setiap tegukan membawa potongan-potongan gambar yang tidak bisa kurangkai. Lantai semen. Kompor minyak tanah. Tawa yang keras. Tangan besar.

“Enak,” kataku, menaruh cangkir kosong. “Besok bikinin lagi, ya? Pakai termos itu.”

Dewi menatap cangkir kosong itu. Lalu menatapku. Matanya berkaca-kaca, dan ia cepat-cepat menunduk.

“Iya,” katanya. “Besok.”

Ia berbalik ke dapur dengan termos di pelukannya, memeluknya erat, seperti memeluk sesuatu yang rapuh.


Pukul delapan, Lexus-ku diangkut ke bengkel.

Servis berkala. Sudah lewat dua minggu dari jadwal, karena Mama sakit dan semua yang terjadi setelahnya. Dealer menelepon tiga kali minggu lalu. Teddy akhirnya membuat janji tanpa bertanya padaku, dan dealer mengirim petugas jemput.

Petugas itu datang dengan mobil derek.

Bukan karena mobilku rusak. Karena dealer sudah tahu.

“Pak Arga,” kata petugas itu dengan sangat sopan, sambil menyerahkan formulir. “Kami sudah dapat catatan dari kantor pusat. Mobil Bapak tidak boleh dikendarai orang lain. Jadi kami angkut pakai flatbed. Mesin tidak dinyalakan. Kami dorong ke atas pakai winch.”

Aku menandatangani formulir itu.

Lalu aku berdiri di carport dengan tangan di saku dan menonton Lexus hitamku ditarik pelan-pelan ke atas bak mobil derek dengan tali baja. Rodanya berputar tanpa mesin. Kap mesinnya yang berkilau, yang dua minggu lalu dicuci Dimas dengan sikat gigi, terangkat miring ke langit.

Di belakangku, Mbok Darmi menonton dari ambang pintu dengan celemek di tangan. Pak Jono menonton dari gerbang, dengan sepeda ontel. Mama menonton dari jendela kamarnya, dengan Dewi di sebelahnya.

Tidak ada yang bicara.

Lexus itu akhirnya duduk di atas bak derek. Petugas mengikatnya dengan empat tali. Mobil derek menyalakan mesin dan perlahan keluar dari gerbang.

Pak Jono, di gerbang, melepas topinya dan menunduk.

Seperti melepas jenazah.

“Pak Jono,” kataku. “Itu servis. Bukan pemakaman.”

“Siap, Pak.” Pak Jono memakai topinya lagi. Matanya sedikit basah. “Tapi saya sudah lima tahun lihat mobil Bapak keluar-masuk gerbang ini, Pak. Baru kali ini dia keluar nggak pakai Bapak.”

Dari jendela kamar Mama, aku mendengar suara tawa yang tertahan.


Pukul sepuluh, Mama dijadwalkan kontrol ke dr. Hendra.

Tanpa Lexus, Teddy menjemput kami dengan mobil kantor. Sedan Jepang berwarna perak, bersih, wangi, dengan Teddy di kursi sopir memakai kacamata hitam seperti sopir film aksi.

“Pak Udin!” seru Mama begitu melihatnya. “Pak Udin bawa mobil!”

Teddy melirikku. Aku mengangguk.

“Iya, Bu Ratih!” Teddy langsung berubah, dengan logat Sunda palsunya. “Hari ini Udin jadi sopir, Bu! Surat-suratnya libur!”

Mama tertawa senang dan minta duduk di depan, di sebelah Pak Udin. Jadi aku dan Dewi duduk di belakang.

Berdua.

Di jok belakang mobil yang tidak terlalu luas.


Kontrol dengan dr. Hendra berjalan baik. Mama menjawab sebagian besar pertanyaan dengan benar. Ia masih salah menyebut tanggal, masih lupa satu dari tiga kata yang harus diulang. Tapi gambar jamnya lebih baik. Angka-angkanya tidak lagi berdesakan di sisi kanan.

“Rutinitasnya berjalan bagus,” kata dr. Hendra, menatap catatan yang dibuat Dewi. “Tidurnya teratur. Makannya teratur. Tingkat kebingungannya stabil, bahkan sedikit membaik dibanding sebulan lalu.” Ia menatap Dewi dari balik kacamata bulatnya. “Kerja bagus, Suster.”

“Terima kasih, Dok.”

Lalu ia menatapku.

“Mas Arga. Tekanan darah Ibu bagus. Tekanan darah Mas sendiri bagaimana?”

Aku membuka mulut. Dewi yang menjawab duluan.

“Seratus dua puluh delapan per delapan puluh, Dok. Tadi malam. Membaik dari seratus empat puluh dua sebulan lalu.”

dr. Hendra mengangkat alis. “Suster ukur tekanan darah Mas Arga juga?”

“Setiap malam, Dok.”

“Setiap malam?”

“Pakai stetoskop,” tambah Mama dengan riang dari kursinya. “Ibu lihat. Arga buka kancing kemeja.”

Dewi menutup wajah dengan map catatan.

Aku menatap otak plastik yang bisa dibongkar pasang di atas meja dr. Hendra dan berharap bisa membongkar otakku sendiri.

dr. Hendra menatap kami bergantian. Dewi dengan map di wajah. Aku dengan otak plastik. Mama dengan senyum lebar. Lalu ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung batik, dan memakainya lagi.

“Nadinya, Suster?” tanyanya dengan wajah yang sangat datar. “Waktu pakai stetoskop?”

Dewi menurunkan map sedikit, hanya sampai matanya kelihatan. “Seratus tiga puluh delapan, Dok. Rekor.”

dr. Hendra mengangguk pelan, menulis sesuatu di resep.

Lalu ia merobek kertas resep itu dan menyerahkannya padaku, bukan pada Dewi.

Di kertas itu, dengan tulisan dokter yang hampir tidak terbaca, tertulis:

R/ Lanjutkan.
Dosis: setiap malam.
Jangan dihentikan.
— dr. H

Aku menatap resep itu. Lalu menatap dr. Hendra.

Ia tersenyum. Senyum kecil seorang neurolog lima puluh tahun yang sudah melihat banyak hal.

“Merawat orang tua dengan demensia itu maraton, Mas,” katanya. “Saya pernah bilang. Mas butuh seseorang.” Ia melirik Dewi. “Sepertinya Mas sudah ketemu.”


Perjalanan pulang dari rumah sakit memakan waktu satu jam karena macet di Fatmawati.

Mama tertidur di kursi depan setelah lima belas menit, kepalanya bersandar di jendela, dengan resep obat di pangkuannya. Teddy menyetir dengan kecepatan yang sangat hati-hati, sesekali melirik Mama untuk memastikan kepalanya tidak terbentur.

Di jok belakang, Dewi duduk di sebelahku, menatap jendela.

Tangannya ada di jok di antara kami. Tanganku juga.

Aku menggeser jari kelingkingku sedikit, sampai menyentuh jari kelingkingnya.

Dewi tidak menoleh dari jendela. Tapi jari kelingkingnya bergerak, melingkar di jari kelingkingku.

Kami duduk seperti itu sampai lampu merah Blok M. Dua jari kelingking yang saling mengait di jok belakang mobil kantor, seperti dua anak SD yang berjanji.

“Ga,” bisik Dewi tanpa menoleh.

“Hm.”

“Kopinya tadi pagi. Kamu beneran ingat sesuatu?”

Aku menatap jendela di sisiku. Mobil-mobil berderet di lampu merah. Pedagang asongan berjalan di antara mobil menjual tisu dan air mineral.

“Sedikit,” kataku. “Potongan-potongan. Kayak foto yang sobek.”

“Ingat apa?”

“Lantai semen. Kompor minyak tanah. Ada orang yang ketawa.” Aku diam sebentar. “Ketawanya kenceng. Kayak kamu kalau lihat Teddy jadi Pak Udin.”

Jari kelingking Dewi mengencang di jariku.

“Aku nggak tahu siapa,” lanjutku. “Mungkin tetangga. Mungkin Pak Darto, yang suka nggak bayar kerupuk. Mungkin orang lain.” Aku menggeleng. “Mungkin nggak penting.”

Dewi menoleh dari jendela.

Ia menatapku dengan mata yang basah dan sesuatu di wajahnya yang terlihat seperti seseorang yang berdiri di tepi kolam yang sangat dalam. Seperti di dapur jam dua pagi, ketika ia bilang Pak, ada yang harus saya— dan aku menciumnya sebelum ia selesai.

“Ga,” katanya pelan. “Itu penting.”

“Kenapa?”

Ia membuka mulut.

Dan aku tidak tahu apa yang ia akan katakan, karena aku melakukan hal yang sama seperti di dapur. Hal yang belakangan kusadari mungkin kulakukan karena aku takut, karena ada bagian dari diriku yang tidak mau mendengar apa pun yang membuat matanya sesedih itu.

Aku mencondongkan tubuh dan menciumnya.


Kali ini tidak kaku. Tidak miring. Tidak ada hidung yang bertabrakan.

Aku sudah belajar. Dari balkon. Dari bulan setengah dan kolam ikan dan stetoskop yang terjepit di antara kami.

Ciuman ini pelan dan singkat dan lembut. Bibirnya hangat dan sedikit pahit, sisa kopi termos tadi pagi. Jari kelingking kami masih saling mengait di jok. Tangannya yang bebas naik ke rahangku, menyentuh pipiku dengan ujung jari, seperti menyentuh sesuatu yang berharga.

Dua detik. Tiga.

Dari kursi depan, terdengar suara rem yang mendadak. Mobil tersentak.

Kami terpisah.

Teddy menatap kami dari spion tengah dengan mata yang terbelalak di balik kacamata hitamnya. Mulutnya terbuka. Tangannya mencengkeram setir. Mobil berhenti mendadak di tengah lampu hijau, dengan mobil di belakang membunyikan klakson panjang.

Di kursi depan, Mama terbangun dengan kaget. Kepalanya terangkat dari jendela.

“Pak Udin! Hati-hati!”

“Maaf, Bu!” Teddy langsung menginjak gas, terlalu keras, dan mobil melompat maju. “Maaf! Ada… ada kucing, Bu!”

“Kucing di mana?”

“Udah lewat, Bu! Udah lewat!”

Mama menatap jalan raya Blok M yang penuh mobil, tanpa satu ekor kucing pun. Lalu ia menoleh ke belakang, menatap kami.

Dewi sedang menatap jendela di sisinya dengan wajah merah padam. Aku sedang menatap jendela di sisiku dengan wajah yang sama.

Jari kelingking kami masih saling mengait di jok.

Mama menatap jari kelingking kami. Lalu ia tersenyum, senyum yang lebar dan jahil dan sangat jernih, dan kembali menghadap ke depan.

“Pak Udin,” katanya dengan riang. “Kucingnya lucu, ya?”

Teddy menatap Mama. Lalu menatap spion. Lalu menatap jalan.

“Lucu sekali, Bu,” katanya dengan suara yang bergetar. “Kucing paling lucu yang pernah Udin lihat.”


Malam itu, ponselku bergetar pukul sepuluh lewat lima belas.

Teddy: Pak.

Teddy: Saya mau minta maaf soal remnya.

Teddy: Saya kaget Pak.

Teddy: Lima tahun saya kerja sama Bapak. Saya pernah lihat Bapak marah, capek, menang tender, kalah tender, begadang tiga hari. Saya belum pernah lihat Bapak cium orang.

Teddy: Saya nggak siap secara mental Pak.

Teddy: Saya hampir nabrak bajaj.

Aku: Tidak apa-apa, Ted.

Teddy: Pak, satu lagi.

Teddy: Saya tidak akan bilang ke grup.

Teddy: Yang ini punya Bapak sama Mbak Dewi aja.

Aku menatap pesan itu lama.

Aku: Terima kasih, Ted.

Teddy: Sama-sama Pak.

Teddy: Tapi Bu Ratih sudah bilang ke grup Pak. Lima menit setelah sampai rumah. Katanya “Pak Udin hampir nabrak kucing karena anak saya cium Suster Cantik di belakang.”

Teddy: Saya sudah coba Pak.

Aku mematikan ponsel dan tertawa sendirian di kamar dalam gelap.

Dari lantai bawah, dari dapur, aku mencium bau kopi.

Pahit. Manis gula aren. Sedikit asin.

Dewi sedang menyiapkan termos untuk besok pagi.

Dan aku berbaring dalam gelap, menghirup bau itu, dan membiarkan potongan-potongan gambar yang tidak bisa kurangkai muncul satu per satu. Lantai semen. Kompor minyak tanah. Tawa yang keras. Tangan besar yang mengulurkan gelas belimbing.

Pahit, ya? Nanti kalau sudah gede, kamu suka.

Aku sudah gede. Dan aku suka.

Aku hanya tidak tahu siapa yang dulu bilang begitu.