Chapter Twenty Seven

Tulisan Tangan

POV: Arga

Aku tidak ingat menyetir pulang.

Aku ingat duduk di kursi pengemudi di depan toko kelontong yang buka dua puluh empat jam. Aku ingat tanganku di setir. Aku ingat burung beo yang masih berteriak maling dari kejauhan. Aku ingat kotak beludru biru tua di saku celanaku yang menekan pahaku setiap kali aku menginjak pedal.

Lalu aku ingat gerbang hitam rumahku di Pondok Indah. Pak Jono yang membukanya dengan salam hormat yang terlalu bersemangat, lalu menurunkan tangannya pelan-pelan ketika melihat wajahku.

Di antara keduanya, tidak ada apa-apa. Satu jam empat puluh menit perjalanan dari Bekasi Timur ke Pondok Indah, hilang begitu saja. Seperti halaman yang dirobek dari buku.

Aku memarkir mobil di carport. Aku tidak keluar.

Aku duduk di kursi pengemudi dengan mesin mati, menatap dinding garasi, dan mengulang tiga baris di kepalaku.

Untuk Wiwi.
Jangan takut gelap.
Pakde jaga.

Tiga huruf g. Tiga ekor panjang yang melengkung ke bawah.

Mungkin aku salah lihat. Mungkin tulisan tangan banyak orang mirip. Huruf g berekor panjang bukan sesuatu yang unik. Pasti ada ribuan, jutaan orang di Indonesia yang menulis huruf g dengan ekor panjang.

Aku insinyur sipil. Aku tidak mengambil kesimpulan dari satu sampel.

Aku keluar dari mobil.


Mama sedang tidur siang. Mbok Darmi di dapur, mencuci piring. Ia menoleh ketika aku masuk lewat pintu samping, dan senyumnya, yang awalnya lebar, langsung hilang begitu melihat wajahku.

“Mas Arga? Kok sudah pulang? Katanya ke—”

Aku tidak menjawab. Aku berjalan melewatinya, melewati ruang makan, melewati ruang tengah, naik tangga. Anak tangga ketujuh berderit.

Ruang kerjaku sunyi. Lampu meja mati. Tirai setengah terbuka, membiarkan cahaya siang masuk miring ke atas meja.

Aku berdiri di depan dinding dengan bingkai-bingkai. Ijazah. Foto ruko. Penghargaan majalah.

Dan bingkai kecil di ujung.

Kartu krem. Logo lilin. Tinta biru.

Untuk Arga. Selamat atas kelulusanmu.
Terus menyala.

Aku melepas bingkai itu dari paku di dinding. Aku membawanya ke meja. Aku menyalakan lampu meja dan menaruh bingkai itu di bawah cahayanya.

Lalu aku mengeluarkan kotak sepatu biru dari lemari.

Aku membuka karet gelangnya. Aku menjajarkan kartu-kartu itu di atas meja. Satu per satu. Lima puluh satu kartu, ditambah satu di bingkai. Lima puluh dua.

Aku tidak membaca isinya. Aku hanya menatap tulisannya.

Miring ke kanan. Agak kaku. Seperti ditulis oleh seseorang yang tidak sering menulis.

Huruf g.

Untuk Arga. Lima puluh dua kali. Lima puluh dua huruf g di nama Arga, semuanya dengan ekor yang melengkung panjang sekali ke bawah, hampir menyentuh baris berikutnya.

Semangat ujiannya. Huruf g di semangat.

Juara lagi? Hebat. Huruf g di lagi.

Jaga ibumu. Huruf g di jaga.

Jaga.

Aku menatap kata itu lama sekali.

Pakde jaga.

Jaga ibumu.

Tulisan yang sama. Kata yang sama. Huruf g yang sama, dengan ekor yang sama panjangnya, melengkung ke sudut yang sama persis.

Aku memejamkan mata.

Aku tidak perlu sampel kedua. Aku sudah punya lima puluh dua.


Pakde Dewi adalah Yayasan Pelita.

Atau setidaknya, Pakde Dewi yang menulis kartu-kartu itu. Sopir truk yang menyewa kamar belakang di rumah keluarga Dewi selama dua puluh tahun. Sopir truk yang membayar kuliah keperawatan Dewi dengan gajinya. Sopir truk yang sakit ginjal, yang menangis waktu termosnya disita.

Sopir truk itu juga yang membayar sekolahku. Dari SMP sampai kuliah. Sepuluh tahun. Lima puluh dua kartu.

Kenapa?

Kenapa seorang sopir truk di Bekasi membiayai sekolah anak tukang kerupuk di Tangerang yang tidak pernah ia kenal?

Aku menatap kartu-kartu di atas meja.

Lalu, satu per satu, potongan-potongan itu mulai jatuh ke tempatnya. Seperti beban yang ditambahkan ke struktur, satu per satu, sampai kamu mulai mendengar retakan.

Kopi. Pahit. Gula aren. Sejumput garam. Resep sopir truk itu. Dan aku pernah meminumnya, waktu kecil sekali, di lantai semen, dengan bau minyak tanah dan minyak mesin. Dari gelas belimbing yang diulurkan seseorang yang tertawa keras.

Lagu. Lagu keroncong yang Dewi senandungkan untuk Mama. Dari orang rumah, katanya. Ada yang suka nyanyi itu di rumah saya. Setiap malam. Dari saya kecil. Dan Mama yang berhenti ketakutan begitu mendengarnya. Dulu ada yang suka nyanyi itu kalau Ibu nggak bisa tidur. Pakai susu hangat.

Amplop. Puluhan amplop kuning di kotak jahit Mama. Cap pos Semarang, Cirebon, Surabaya, Tegal, Kudus. Kota-kota di sepanjang pantai utara Jawa. Jalur truk.

Mbok Darmi. Yang menyebut nama Dewi terlalu cepat di meja sarapan lalu bilang lupa nama belakangnya. Yang wajahnya berubah lega ketika Dewi datang ke rumah ini pertama kali. Yang berkata Mbok sudah janji dengan mata basah, di dapur, setelah kotak jahit jatuh.

Janji sama siapa?

Dan kalimat itu.

Kalimat yang diucapkan Dewi di tengah lahan kosong di Tangerang, di antara rumput liar dan daun ketapang yang memerah. Kalimat yang membuatnya pucat. Kalimat yang ia bilang cuma ungkapan, saya sering bilang ke pasien.

Kalimat yang selama dua puluh enam tahun hidup di kepalaku sebagai suara tanpa wajah. Suara berat dan serak, dengan bau kopi dan minyak mesin, dengan tangan besar yang mengusap rambutku dalam gelap.

Matamu masih nyala, Ga?

Aku tahu sekarang dari mana Dewi mempelajarinya.

Dan aku tahu siapa pemilik suara itu.


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di depan meja itu.

Cahaya siang yang masuk dari jendela bergeser perlahan, dari meja ke lantai, dari lantai ke dinding. Kartu-kartu krem itu tetap di sana, berjajar rapi di bawah lampu meja, lima puluh dua huruf g yang melengkung panjang.

Aku tidak menangis. Aku tidak merasakan apa-apa. Seperti seseorang yang baru saja ditabrak mobil dan belum merasakan sakitnya, karena tubuhnya masih belum percaya.

Lalu aku berdiri.

Aku turun tangga. Anak tangga ketujuh berderit.

Mbok Darmi masih di dapur. Ia sedang berdiri di depan bak cuci dengan tangan yang tidak bergerak, menatap jendela, dengan piring di tangan yang sudah lama tidak ia cuci. Ia mendengar langkahku dan menoleh.

Ia melihat wajahku.

Piring di tangannya jatuh ke bak cuci. Pecah.

“Mbok,” kataku.

Mbok Darmi tidak menjawab. Ia mundur selangkah sampai punggungnya menempel di meja dapur. Tangannya yang basah mencengkeram pinggiran meja.

“Mbok tahu,” kataku. Bukan pertanyaan.

“Mas…”

“Pakde Dewi. Sopir truk di Bekasi. Yang menyewa kamar belakang dua puluh tahun.” Suaraku datar. Tenang. Suara laporan progres proyek. “Siapa dia, Mbok?”

Mbok Darmi menggeleng. Air matanya sudah jatuh. “Mas, Mbok sudah janji—”

“Siapa, Mbok.”

“Mbok nggak bisa—”

“MBOK.”

Suaraku keluar begitu keras sampai jendela dapur bergetar. Aku belum pernah berteriak pada Mbok Darmi. Seumur hidupku. Tidak sekali pun. Tidak waktu aku kecil dan ia memaksaku makan sayur. Tidak waktu aku remaja dan ia membuang poster-poster di kamarku. Tidak waktu aku dewasa dan ia memasak opor tiga panci setiap hari.

Mbok Darmi tersentak seperti dipukul.

Lalu ia merosot. Pelan. Punggungnya meluncur di sepanjang meja dapur sampai ia terduduk di lantai keramik, dengan kaki terlipat dan wajah yang ditutup kedua tangannya yang basah.

“Mas Har,” isaknya dari balik tangan. “Itu Mas Har, Mas. Haryanto.”

Aku berdiri di tengah dapur.

“Bapakmu, Mas,” bisik Mbok Darmi. “Itu bapakmu.”


Kata itu tidak langsung masuk.

Seperti tadi pagi di kamar Dewi. Seperti waktu dr. Hendra menyebut demensia Alzheimer onset dini. Kata-kata itu terdengar dengan sangat jelas, satu per satu, rapi seperti barisan angka. Tapi tidak bisa dimengerti.

Bapakmu.

Aku berdiri di dapur rumahku sendiri, rumah dengan pagar hitam tinggi dan pohon mangga yang Mama tanam dari biji, dan menatap perempuan tua yang terduduk di lantai.

“Mbok kenal dia,” kataku. Masih datar. “Selama ini.”

Mbok Darmi mengangguk di balik tangannya.

“Dari kapan?”

“Dari dulu, Mas. Dari kontrakan. Mbok tetangga Mas Har sama Mbak Ratih. Mbok yang…” Ia berhenti, terisak. “Mbok yang lihat Mas Har pergi. Subuh. Pakai sandal jepit hitam. Mbok yang dikasih nomor telepon. Mas Har bilang, Darmi, kalau Ratih sama Arga kenapa-kenapa, telepon aku. Cuma kamu. Jangan bilang siapa-siapa.”

Sandal jepit hitam.

Satu, dua.

Aku menahan sesuatu di dadaku dengan seluruh kekuatan yang kupunya.

“Dan Dewi,” kataku.

Mbok Darmi menurunkan tangannya. Wajahnya basah, keriput, hancur. Ia menatapku dengan mata yang memohon.

“Mas Har yang minta, Mas,” katanya. “Waktu Ibu didiagnosis. Mbok telepon Mas Har jam sebelas malam. Mbok nangis. Mbok nggak tahu harus gimana. Terus Mas Har bilang, dia punya anak angkat, perawat. Pinter. Baik. Kerja di agensi yang bagus. Mas Har minta Mbak Dewi ke sini. Jaga Ibu. Jaga Mas.”

“Dia minta.”

“Mas Har nggak bayar apa-apa, Mas. Sumpah. Mbak Dewi mau karena Mas Har yang minta. Mas Har yang biayain dia kuliah. Dia nggak bisa nolak.”

“Jadi dia dikirim.”

“Mas—”

“Dia dikirim.” Aku mengulang kata itu pelan. Mencobanya di lidahku. Seperti mencoba kopi termos untuk pertama kali. “Dikirim, Mbok. Ke sini. Ke rumah ini. Buat jaga Mama. Buat jaga saya. Karena dia yang minta.”

Mbok Darmi menangis lebih keras.

“Roti bakarnya,” kataku. Suaraku mulai bergetar sekarang, untuk pertama kalinya. “Dia yang suruh?”

“Mas, bukan begitu—”

“Jangan lupa makan. Itu di kartunya. Lima puluh dua kartu. Kuliah itu berat, jangan lupa makan. Dan dia bilang itu ke saya setiap hari. Setiap hari, Mbok. Notes kuning di bawah gelas kopi. Dia yang suruh?”

“Mbak Dewi sayang sama Mas! Beneran sayang!”

“Lagu itu. Yang dia nyanyiin buat Mama. Dia yang ajarin?”

Mbok Darmi tidak menjawab. Ia hanya menangis.

“Kopi termos. Garamnya. Gula arennya. Dia yang ajarin?”

Diam. Isak.

“Matamu masih—”

Aku berhenti. Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Suaraku pecah di tengah, seperti beton yang patah di titik terlemahnya.

Mbok Darmi mengangkat kepala dan menatapku. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun lebih, ia melihatku seperti anak kecil. Bukan Mas Arga, CEO dengan tiga rumah dan Lexus hitam. Anak lima tahun yang duduk di depan pintu kontrakan sampai magrib, menunggu sepasang sandal jepit hitam yang tidak pernah kembali.

“Mas,” bisiknya. “Mas Har itu nggak jahat. Mas Har pergi karena—”

“Cukup.”

“Mas, dengerin dulu, Mas Har pergi karena ada—”

“CUKUP, MBOK.”

Mbok Darmi menutup mulutnya.

Aku berdiri di tengah dapur dengan napas terengah-engah. Tanganku gemetar. Seluruh tubuhku gemetar. Rasanya seperti seseorang mencabut fondasi dari bawah gedung dua puluh dua lantai, dan aku masih berdiri di lantai paling atas, merasakan semuanya mulai miring.

“Aku nggak mau dengar,” kataku pelan. “Aku nggak mau dengar kenapa dia pergi. Aku nggak mau dengar alasannya. Dua puluh enam tahun aku hidup tanpa alasan. Aku nggak butuh sekarang.”

“Mas…”

“Dia pergi, Mbok. Itu yang aku tahu. Dia pergi, dan Mama goreng kerupuk sampai tangannya melepuh. Dia pergi, dan ada orang yang datang ke kontrakan tengah malam nagih utang. Dia pergi, dan aku duduk di depan pintu sampai magrib selama seminggu.” Suaraku naik, pecah, turun lagi. “Dan sekarang dia kirim kartu. Dia kirim uang. Dia kirim perawat. Dia kirim—”

Aku tidak bisa menyelesaikannya.

Dia kirim perempuan yang aku cintai.

Aku berbalik dan keluar dari dapur.


Aku tidak naik ke ruang kerja. Aku tidak masuk ke kamar. Aku berjalan keluar lewat pintu samping, ke carport, dan masuk ke Lexus.

Aku tidak menyalakan mesin.

Aku duduk di kursi pengemudi, kursi yang tidak pernah disentuh siapa pun selain aku, dan menatap dinding garasi.

Kotak beludru biru tua di saku celanaku menekan pahaku.

Aku mengeluarkannya. Membukanya.

Cincin emas putih dengan satu berlian kecil dan ukiran sulur seperti melati. Teddy mencobanya di jari kelingkingnya. Empat puluh lima menit. Sebelas cincin. Kayak melati, Pak.

Aku menutup kotak itu.

Lalu aku mengeluarkan buku cokelat dari laci konsol tengah, tempat aku memindahkannya kembali minggu lalu, setelah Dewi membacanya di ruang kerja dan menangis di pelukanku. Aku membukanya di halaman tengah.

Menikah dengan Dewi.

Belum dicoret.

Aku membalik ke halaman paling belakang.

Jangan pernah jadi seperti Ayah.

Tulisan tangan anak sembilan tahun. Huruf besar-besar, ditekan terlalu keras sampai kertasnya hampir sobek.

Aku menatap dua halaman itu bergantian. Depan dan belakang. Janji dan target. Ayah dan Dewi.

Lima puluh dua kartu dari seorang laki-laki yang pergi.

Satu perempuan yang dikirim oleh laki-laki yang sama.

Dan aku, di tengah-tengahnya, tiga puluh satu tahun, dengan tiga rumah dan ratusan miliar dan Lexus hitam dan perusahaan dengan seratus empat puluh karyawan. Semuanya kubangun sendiri. Semuanya dari nol. Tidak ada ayah yang membiayai. Tidak ada yang membantu.

Kecuali lima puluh dua kartu.

Kecuali sepuluh tahun uang sekolah.

Kecuali seorang perempuan yang membuatku tidur sebelum jam sebelas, makan dalam empat menit, tertawa sampai kedengaran ke dapur, dan menangis di tangga untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun.

Semuanya dari dia.

Aku menutup buku cokelat itu. Aku menaruhnya di kursi penumpang, di sebelah kotak beludru biru tua.

Lalu aku menyandarkan kepala di setir, dan untuk kedua kalinya dalam dua puluh dua tahun, aku menangis.

Kali ini tidak ada yang memelukku.


Ponselku bergetar berkali-kali sepanjang sore.

Dewi: Ga.

Dewi: Ga, tolong angkat.

Dewi: Aku tahu kamu sudah tahu.

Dewi: Kamu janji dengerin sampai habis.

Dewi: Ga, please.

Dewi: Aku mau jelasin. Semuanya. Dari awal.

Dewi: Pakde nggak pernah bayar aku. Aku nggak pernah pura-pura. Semua yang aku lakuin di rumah kamu, itu aku. Bukan Pakde. Aku.

Dewi: Ga.

Dewi: Aku sayang kamu.

Dewi: Itu bukan suruhan siapa-siapa.

Dimas: Bang. Maaf. Ini salah aku. Bukan Kakak. Aku yang kasih alamat.

Dimas: Bang, Kakak nangis dari tadi siang. Nggak berhenti.

Dimas: Bang tolong.

Teddy: Pak, Mbok Darmi telepon saya. Beliau nangis. Saya nggak ngerti beliau ngomong apa. Bapak di mana?

Teddy: Pak?

Teddy: Pak, saya ke rumah sekarang.

Aku tidak membalas satu pun.

Pukul tujuh malam, aku masih di garasi. Mbok Darmi mengetuk kaca mobil dua kali. Aku tidak membuka. Mama bangun dan menanyakan aku, dan Mbok Darmi bilang aku sedang kerja.

Pukul delapan, waktu tensi, tidak ada ketukan di pintu ruang kerja.

Karena aku tidak di ruang kerja. Karena perempuan yang biasa mengetuk tidak ada di rumah ini.

Pukul sepuluh tiga puluh, lampu ruang kerja tidak menyala. Tidak perlu dimatikan.

Pukul dua pagi, lampu dapur juga tidak menyala.

Aku tetap di kursi pengemudi sampai subuh, dengan mesin mati dan kepala bersandar di jendela, menatap gelap, dan mendengarkan suara yang berat dan serak dengan bau kopi dan minyak mesin, berbisik di dalam kepalaku dengan cara yang tidak pernah berhenti.

Sekarang suara itu punya wajah.

Dan aku tidak mau melihatnya.