Chapter Fifteen

Matamu Masih Nyala?

POV: Arga

Rabu siang, aku membawa Mama pulang ke Tangerang.

Bukan pulang dalam arti sebenarnya. Rumah Mama sekarang di Pondok Indah, dengan pagar hitam tinggi dan pohon mangga yang ia tanam dari biji. Tapi ketika aku bilang kami akan ke Cikokol untuk survei lahan, Mama langsung berdiri dari kursinya dan bilang, “Pulang? Kita pulang ke kontrakan?”

Aku tidak mengoreksinya. Dewi juga tidak.

Lahan itu dua hektar, bekas pabrik kerupuk yang bangkrut sepuluh tahun lalu, hanya lima ratus meter dari gang sempit tempat aku tumbuh besar. Aku sudah mengincarnya sejak tiga tahun lalu. Bulan lalu, pemiliknya akhirnya setuju menjual. Minggu depan aku akan menandatangani akta jual beli.

Di atas lahan itu, aku akan membangun rumah susun murah. Tidak untuk dijual. Untuk disewakan, dengan harga yang bisa dibayar oleh tukang kerupuk, sopir angkot, dan buruh pabrik. Dengan dinding yang tebal dan lorong yang terang.

Belum ada yang tahu soal ini selain Teddy dan tim legal. Dewan direksi belum tahu. Majalah bisnis belum tahu. Proyek ini tidak akan menghasilkan uang. Proyek ini justru akan menghabiskannya.

Aku ingin Mama melihatnya sebelum ia lupa tempat ini pernah ada.


Kami berangkat pukul satu siang dengan dua mobil.

Lexus di depan, aku yang menyetir, dengan Mama dan Dewi di jok belakang. Mobil kantor di belakang, dengan Teddy dan dua orang dari tim survei. Mama minta duduk di belakang karena katanya, “Mama mau duduk sama Suster Cantik, Ga. Kamu di depan sendirian aja. Kayak sopir.”

Jadi aku menjadi sopir ibuku sendiri, di mobil yang tidak boleh disetir siapa pun selain aku, dengan perawat ibuku di kursi belakang yang dua hari lalu mengecup pipiku lalu bilang lunas.

Kami belum membicarakannya.

Senin pagi, Dewi menyiapkan sarapan seperti biasa. Ia menaruh roti bakar dan satu gelas kopi di depanku dengan notes kuning di bawahnya: Dahinya sudah dikompres? Kata Mbok Darmi benjol. Lalu ia kembali ke Mama, mengajak jalan pagi, menyuapi bubur ayam suwir, seolah tidak terjadi apa-apa.

Senin malam, ia mengukur tensiku. Seratus tiga puluh lima per delapan puluh lima. Ia memasang stetoskop. Nadiku seratus dua puluh enam. Ia menyebut angka itu dengan wajah datar dan mata yang tertawa, lalu menambahkan pelan sambil melepas stetoskop: “Pipinya masih panas, Pak?”

Aku menabrak pinggiran meja ketika berdiri.

Selasa malam, ia tidak menyinggung apa-apa. Aku juga tidak. Kami seperti dua orang yang berdiri di dua sisi sungai, sama-sama tahu ada jembatan di tengah, sama-sama belum berani melangkah duluan.

Sekarang, di dalam mobil, dengan Mama di antara kami, aku menyetir dengan sangat hati-hati dan sesekali melirik spion tengah.

Itulah penemuan terbesarku minggu ini.

Lewat spion, aku bisa menatapnya.

Lama. Selama yang aku mau. Tanpa jantungku berlari, karena di spion ia terlihat kecil dan jauh dan terbingkai, seperti foto. Ia duduk di sebelah Mama, rambut dicepol, memakai kemeja putih dan celana kain, menatap keluar jendela dengan dagu bertumpu di tangan. Cahaya siang menyentuh pipinya. Lesung di pipi kirinya tidak muncul, karena ia tidak tersenyum, tapi bayangan tipisnya tetap ada di sana, seperti janji.

Aku menatapnya di spion di lampu merah Kebayoran. Di lampu merah Bintaro. Di gerbang tol.

Di gerbang tol Karang Tengah, ia menoleh dari jendela dan matanya bertemu mataku di spion.

Ia tidak membuang muka. Ia menatap balik, lewat cermin kecil itu, dengan alis sedikit terangkat. Lalu bibirnya bergerak tanpa suara, membentuk dua kata yang bisa kubaca dengan sangat jelas:

Jalan, Pak.

Aku menatap jalan. Telingaku terbakar.

Dari kursi belakang, Mama bertanya, “Ga, kamu kenapa? Kok merah? AC-nya kurang dingin?”

“Dingin, Ma.”

“Merah begitu kok dingin.”

Dewi menutup mulutnya dengan tangan dan menatap jendela lagi. Bahunya bergetar.


Mama mengenali gang itu sebelum aku berhenti.

Kami masih di jalan raya, sekitar seratus meter dari mulut gang, ketika ia tiba-tiba menegakkan tubuh dan menunjuk keluar jendela.

“Itu! Itu gangnya! Belok, Ga! Belok kiri!”

“Ma, kita ke lahan dulu—”

“Belok!”

Aku belok.

Gang itu masih sempit. Masih hanya muat satu mobil, dengan selokan di kedua sisi dan rumah-rumah yang berdempetan seperti gigi yang tumbuh terlalu rapat. Tapi banyak yang berubah. Rumah-rumah yang dulu berdinding papan sekarang sudah disemen. Ada minimarket di ujung gang, tempat yang dulu tanah kosong tempat aku main layangan. Kabel listrik berseliweran lebih padat dari dulu.

Aku memarkir Lexus di depan minimarket, karena mobil itu tidak akan muat masuk lebih jauh. Teddy memarkir mobil kantor di belakang.

Mama turun lebih dulu, sebelum Dewi sempat membukakan pintu. Ia berdiri di mulut gang dengan topi pandan dan selendang, menatap ke dalam, dan matanya berkaca-kaca.

“Pak Udin!”

Ia menoleh ke belakang dan melambaikan tangan dengan semangat ke arah Teddy, yang baru turun dari mobil kantor dengan tablet di tangan.

Teddy berhenti. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari Pak Udin. Lalu ia menunjuk dadanya sendiri dengan bingung.

“Pak Udin, ada surat buat Arga?” tanya Mama, berjalan cepat ke arah Teddy. “Hari ini tanggal berapa? Sudah tanggal dua? Kartunya sudah datang?”

Teddy menatapku. Aku menatap Dewi. Dewi, dengan sangat tenang, berjalan ke sebelah Teddy dan berbisik sesuatu di telinganya.

Teddy berkedip dua kali. Lalu wajahnya berubah. Ia menegakkan tubuh, membetulkan kerah kemejanya, dan berbicara dengan suara yang tiba-tiba lebih tua, lebih berlogat Sunda.

“Aduh, Bu Ratih. Hari ini belum, Bu. Belum tanggal dua. Masih tanggal dua puluh tiga.”

“Oh, belum, ya?” Mama terlihat kecewa.

“Belum, Bu. Tapi nanti tanggal dua, Udin antar pagi-pagi. Janji.” Teddy mengangkat tangan seperti bersumpah. “Udin taruh di depan pintu. Pasti.”

Mama tersenyum lega dan menepuk lengan Teddy. “Makasih, Pak Udin. Arga suka sekali kartunya. Dia simpan semua di kotak sepatu.”

“Iya, Bu. Sama-sama, Bu.”

Mama berbalik dan mulai berjalan masuk ke gang dengan langkah riang. Dewi menyusul, menggandeng lengannya.

Teddy berdiri di tempatnya, menatap punggung Mama, lalu menatapku. Matanya merah.

“Pak,” katanya pelan, dengan suara Teddy yang biasa. “Kotak sepatu?”

“Jangan tanya.”

“Siap, Pak.” Ia menarik napas dalam-dalam dan mengusap matanya dengan cepat. “Saya Pak Udin hari ini, Pak. Sampai sore.”


Rumah kontrakan kami sudah tidak ada.

Di tempatnya sekarang berdiri rumah dua lantai bercat kuning dengan pagar besi dan motor yang diparkir di depan. Tidak ada pintu kayu berwarna cokelat. Tidak ada teras semen yang retak. Tidak ada tempat di depan pintu di mana dulu tiga pasang sandal berderet.

Mama berdiri di depan rumah kuning itu lama sekali. Ia tidak bilang apa-apa. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap.

Lalu ia berkata, sangat pelan, “Pintunya sudah diganti.”

“Iya, Ma.”

“Dulu pintunya cokelat.”

“Iya, Ma.”

“Bapakmu yang cat.”

Aku membeku.

Mama tidak menoleh padaku. Ia menatap pagar besi rumah kuning itu dengan mata yang jauh sekali, jauh ke masa yang aku tidak pernah ikut hidup di dalamnya.

“Dia cat pintunya cokelat,” kata Mama, “karena katanya cokelat itu warna tanah. Warna rumah. Katanya, biar Arga tahu ini rumahnya.”

Aku tidak bisa bernapas.

Dua puluh enam tahun. Dua puluh enam tahun Mama tidak pernah sekali pun menyebut ayahku dengan kalimat yang lebih panjang dari tiga kata. Bapakmu pergi, Ga. Hanya itu. Dan sekarang, di depan rumah yang sudah bukan rumah kami, dengan ingatan yang mulai bolong-bolong, ia tiba-tiba ingat warna cat pintu, dan siapa yang mengecatnya, dan kenapa.

Di sebelah Mama, Dewi menggenggam lengannya. Aku melihat tangan Dewi gemetar.

“Ma,” kataku pelan. “Bapak—”

“Mak Ijah!”

Mama tiba-tiba berbalik dan berjalan cepat ke arah warung kecil di seberang jalan. Warung kayu dengan atap seng yang sudah berkarat, dengan stoples-stoples permen dan kerupuk berderet di etalase kaca yang buram.

Warung itu masih ada.

Dan di baliknya, duduk di bangku plastik dengan kipas tangan dari anyaman bambu, seorang nenek bertubuh kecil dengan kerudung lusuh dan wajah yang keriputnya lebih banyak dari peta jalan Jakarta.

Mak Ijah.

Ia mengangkat kepala, menyipitkan mata, menatap Mama. Lalu menatapku.

Lalu matanya membesar.

“Ya Allah,” katanya dengan suara serak. “Ratih? Ratih tukang kerupuk?”

“Mak Ijah!” Mama memeluknya melewati etalase. “Mak masih hidup!”

“Masih, Tih. Belum dipanggil.” Mak Ijah tertawa dengan gigi yang tinggal empat. Lalu ia menatapku lagi, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jas abu-abu. Kemeja putih. Sepatu kulit. “Ini… ini Arga?”

“Iya, Mak,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kumaksud.

“Arga yang suka minta permen?”

“Iya, Mak.”

Mak Ijah menatapku lama. Lalu ia membuka stoples kaca di etalase dengan tangan yang gemetar, mengambil tiga butir permen jahe yang dibungkus plastik bening, dan mengulurkannya padaku.

“Nih,” katanya. “Kayak dulu.”

Aku menerima permen itu. Tiga butir. Sama seperti dulu, setiap pagi, ketika aku mengantar kerupuk ke warungnya sebelum berangkat sekolah, dan Mak Ijah selalu memberiku tiga butir permen jahe karena katanya anak yang kerja harus dapat upah.

Aku tidak bisa bicara. Aku hanya mengangguk, dan memasukkan permen itu ke saku jas, dan tidak sanggup menatap siapa pun.

Di belakangku, aku mendengar suara Teddy menarik napas panjang dan bergetar.


Lahan itu luas dan kosong.

Bekas pabrik kerupuk sudah dibongkar bertahun-tahun lalu. Yang tersisa hanya pondasi beton yang retak-retak, rumput liar setinggi pinggang, dan beberapa pohon ketapang besar di pinggiran yang daunnya mulai memerah. Angin sore bertiup dari arah barat, membawa bau tanah basah dan asap sampah bakar dari kejauhan.

Tim survei langsung bekerja dengan alat ukur mereka. Teddy, yang masih menjadi Pak Udin, menemani Mama duduk di bawah pohon ketapang dengan dua botol air mineral dan sekantong gorengan dari warung Mak Ijah.

Aku berjalan ke tengah lahan. Dewi mengikutiku.

Kami berdiri di atas pondasi beton yang retak, di tengah rumput liar yang bergoyang ditiup angin. Dari sini, aku bisa melihat atap-atap rumah di gang sempit tempat aku tumbuh besar. Aku bisa melihat menara masjid tempat aku dulu salat Jumat. Aku bisa melihat ujung atap warung Mak Ijah.

“Di sini,” kataku.

Dewi menunggu.

“Empat tower. Masing-masing dua belas lantai. Delapan ratus unit.” Aku menunjuk ke kiri, ke kanan, ke depan, membentuk bangunan-bangunan yang belum ada dengan tanganku. “Unitnya kecil. Dua kamar. Tapi dindingnya tebal. Tebal sekali. Lima belas senti, beton bertulang, bukan bata ringan. Jadi kalau tetangga bertengkar, anakmu nggak dengar. Kalau ada orang ketuk pintu tengah malam, suaranya nggak tembus ke kamar anak.”

Angin bertiup lebih kencang. Rambut Dewi yang dicepol mulai lepas, helai-helai hitam terbang ke wajahnya.

“Lorongnya terang,” lanjutku. Aku tidak bisa berhenti. Kata-kata itu keluar seperti air dari bendungan yang jebol. “Lampu LED setiap tiga meter. Nggak ada sudut gelap. Lantai dasar buat warung-warung kecil, sewanya murah, buat ibu-ibu yang mau jualan. Ada taman di tengah, ada lapangan buat anak-anak main layangan. Ada pos kesehatan dengan perawat jaga dua puluh empat jam. Bangkunya empuk.”

Aku menoleh padanya.

“Sewanya tiga ratus ribu sebulan,” kataku. “Tiga ratus ribu. Itu bisa dibayar sama orang yang jualan kerupuk dua ratus perak per bungkus. Nggak ada yang perlu nangis di dapur sambil pura-pura motong bawang. Nggak ada yang perlu duduk pakai lilin karena listrik dicabut. Nggak ada anak yang perlu bikin daftar umur sembilan tahun.”

Aku berhenti. Napasku terengah-engah, seperti habis berlari.

Dewi menatapku.

Ia tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Angin terus bertiup, menerbangkan rambutnya, menggoyangkan rumput liar di sekitar kaki kami. Dari bawah pohon ketapang, terdengar tawa Mama dan suara Teddy yang sedang bercerita dengan logat Sunda palsu.

Lalu Dewi tersenyum.

Bukan senyum menggoda. Bukan senyum miring yang ia pakai waktu bilang Lexus-ku setia, atau waktu ia bilang lunas. Senyum ini lain. Senyum yang pelan dan dalam dan sangat lembut, senyum yang membuat lesung di pipi kirinya muncul perlahan seperti matahari terbit.

“Matamu masih nyala, ya?” katanya pelan.


Dunia berhenti.

Bukan seperti waktu ia mengecup pipiku. Bukan seperti waktu ia berbisik di dapur. Bukan seperti waktu stetoskop menyentuh dadaku.

Ini berhenti yang lain. Dingin. Mendadak. Seperti seseorang mencabut kabel listrik dari seluruh tubuhku.

Matamu masih nyala?

Suara itu.

Bukan suara Dewi. Suara yang lain. Suara yang berat dan serak, dengan bau kopi dan minyak mesin. Tangan besar di rambutku. Seseorang yang membungkuk di atasku dalam gelap.

Matamu masih nyala, Ga?

Aku menatap Dewi. Aku tidak membuang muka. Aku tidak bisa membuang muka. Aku menatapnya dengan mata yang aku tahu sedang terbuka terlalu lebar, dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

Dewi berhenti tersenyum.

Wajahnya berubah perlahan. Dari lembut, ke bingung, ke sesuatu yang lain. Warna hilang dari pipinya. Kuning langsat yang bersih itu memucat, seperti seseorang menyiramkan air dingin ke atas lukisan. Bibirnya terbuka sedikit. Tangannya, yang tadi santai di sisi tubuh, naik pelan ke mulutnya.

Ia terlihat seperti orang yang baru saja menjatuhkan sesuatu yang sangat berharga dan mendengarnya pecah.

“Kamu bilang apa?” tanyaku. Suaraku nyaris tidak terdengar.

Dewi menurunkan tangannya. Ia menelan ludah.

“Saya…” Ia berhenti. Mencoba lagi. “Saya cuma bilang mata Bapak… semangat. Mata Bapak kelihatan semangat.”

“Bukan. Kamu bilang matamu.”

“Maaf, Pak. Saya kelepasan. Nggak sopan.” Ia mundur selangkah. “Maksud saya mata Bapak.”

“Kamu bilang masih nyala.”

Dewi tidak menjawab.

Aku menatapnya, dan ia menatap rumput di bawah kakinya. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, ia yang tidak sanggup menatapku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa menang karenanya.

Angin bertiup lagi. Daun ketapang yang memerah berjatuhan di sekitar kami.

Mungkin seorang guru, pikirku. Mungkin tetangga. Mungkin cuma mimpi yang tertukar dengan ingatan. Itu yang selalu kubilang pada diriku sendiri setiap kali suara itu muncul. Suara tanpa wajah. Kalimat yang tidak punya asal.

Tapi kenapa sekarang, setelah dua puluh enam tahun, kalimat itu keluar dari mulut perempuan yang berdiri di depanku?

Mungkin kebetulan. Itu bukan kalimat yang aneh. Orang bisa saja mengucapkannya pada siapa pun yang terlihat bersemangat. Itu cuma ungkapan. Kebetulan.

Aku tidak percaya kebetulan. Aku insinyur sipil. Aku percaya beban dan tegangan dan titik patah.

Tapi aku juga tidak tahu harus percaya apa lagi.

“Pak!”

Teddy melambai dari bawah pohon ketapang. “Pak, tim survei sudah selesai! Bu Ratih minta pulang, katanya mau nonton acara masak jam lima!”

Aku menoleh ke arah Teddy. Lalu kembali ke Dewi.

Ia sudah berbalik, berjalan ke arah pohon ketapang dengan langkah yang terlalu cepat, rambut terlepas dari cepolan dan berkibar ditiup angin.

Aku berdiri sendirian di tengah lahan kosong itu, di atas pondasi beton yang retak, dengan tiga butir permen jahe di saku jas.


Perjalanan pulang sunyi.

Mama tertidur di bahu Dewi setengah jam setelah keluar tol. Dewi tidak bergerak supaya Mama tidak terbangun. Ia menatap keluar jendela sepanjang jalan, dan setiap kali aku melirik spion, ia tidak menoleh.

Di lampu merah Kebayoran, aku tidak tahan lagi.

“Dewi.”

“Iya, Pak.” Ia tidak menoleh dari jendela.

“Kalimat tadi. Soal mata saya.” Aku menggenggam setir. “Kamu dengar dari mana?”

Hening.

Lampu merah masih menyala. Di spion, aku melihat Dewi memejamkan mata sebentar. Tangannya, yang tidak menahan kepala Mama, menggenggam ujung kemejanya erat-erat.

“Nggak dari mana-mana, Pak,” katanya akhirnya. “Itu cuma ungkapan. Saya sering bilang ke pasien. Kalau pasien kelihatan semangat.”

“Ke pasien?”

“Iya.”

“Pasien umur tujuh puluh tahun?”

Dewi tidak menjawab.

Lampu berubah hijau. Aku melaju, karena mobil di belakang sudah membunyikan klakson.

Aku tidak bertanya lagi. Aku tidak tahu harus bertanya apa. Aku tidak tahu kenapa kalimat itu membuatku begitu goyah, dan kenapa reaksinya membuatku lebih goyah lagi. Aku hanya tahu bahwa ada sesuatu yang tidak benar, seperti retak rambut di cetakan kolom yang hanya terlihat kalau kamu menatapnya dari sudut yang tepat.

Dan aku belum menemukan sudutnya.


Malam itu, setelah lampu ruang kerja dimatikan pukul sepuluh tiga puluh, aku duduk di kamar dalam gelap dan mengeluarkan tiga butir permen jahe dari saku jas.

Aku membuka satu dan memakannya. Rasanya pedas dan manis, persis seperti dua puluh dua tahun lalu.

Dari lantai bawah, dari kamar tamu, tidak ada senandung malam ini.

Hanya hening. Dan sesekali, sangat pelan, nyaris tidak terdengar, sesuatu yang terdengar seperti seseorang yang sedang menangis dengan wajah ditekan ke bantal.

Aku berdiri dan berjalan ke tangga. Aku sampai di anak tangga ketujuh, anak tangga yang berderit, dan berhenti.

Aku tidak turun.

Aku tidak tahu apakah ia ingin ditemani, atau ingin tidak dilihat.

Jadi aku duduk di anak tangga ketujuh, dalam gelap, sampai suara itu berhenti. Dan setelah suara itu berhenti, aku masih duduk di sana, menatap pintu kamar tamu di ujung lorong, dengan permen jahe yang sudah habis dan kalimat yang tidak mau pergi.

Matamu masih nyala, Ga?

Siapa kamu?

Dan kenapa dia tahu?