Chapter Seven
Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
POV: Fabian Asher
Aku tidak pernah menganggap diriku orang yang mudah dibaca.
Di luar, orang-orang biasanya melihatku sebagai laki-laki tenang yang dapat diandalkan. Mereka melihat hasil akhir: proyek selesai tepat waktu, masalah teratasi, percakapan yang tidak pernah berubah menjadi pertengkaran. Mereka tidak melihat berapa kali aku menahan diri untuk tidak menjawab saat sedang marah, atau berapa lama aku memikirkan satu keputusan sebelum mengatakannya.
perempuan itu melihat lebih banyak daripada yang kukira.
“Kamu terlalu baik,” katanya suatu sore.
Kami sedang duduk di ruang kerjaku, masing-masing mengerjakan pekerjaan sendiri. Ia datang membawa naskah yang harus dibaca, sementara aku sedang memeriksa revisi denah. Selama hampir satu jam, kami tidak banyak berbicara. Keheningan di antara kami sudah tidak terasa canggung.
Itulah mungkin masalahnya.
“Baik banget menurut siapa?” tanyaku.
“Menurut pengamatan lapangan.”
Ia mengangkat daftar kecil yang dibuatnya. Sudah ada banyak coretan di sana.
“Kamu nganter aku, ngirim makanan, membantu orang di studio, ingat ulang tahun pegawai, dan nggak pernah balas pesan dengan satu kata kalau tahu aku lagi kesal.”
“Aku pernah balas satu kata.”
“Kapan?”
“Saat kamu ngirim foto kucing dan bertanya apa kucing itu tampak menghakimi.”
“Jawabanmu ‘iya’ nggak sensitif banget.”
“Tapi benar.”
Ia memukul lenganku dengan ujung pulpen. “Lihat? Kamu bahkan bisa menyebalkan dengan sopan.”
Aku menyandarkan tubuh ke kursi. “Apa yang sebenarnya mau kamu katakan?”
perempuan itu menutup naskahnya. Ketika ia serius, sorot matanya berubah. Suaranya tetap ringan, tetapi bahunya menjadi sedikit kaku.
“Aku nggak percaya kamu selalu kayak ini.”
“Kayak apa?”
“Tenang. Sabar. Punya jawaban untuk semuanya. Kamu pasti pernah marah, kan?”
“Pernah.”
“Pernah membenci seseorang?”
“Pernah.”
“Pernah mau balas orang yang menyakitimu?”
“Pernah.”
Ia menunggu, mungkin mengira aku akan memberikan cerita panjang. Aku hanya kembali menatap denah di meja.
“Lalu?”
“Lalu aku nggak melakukannya.”
“Kenapa?”
“Karena mau balas nggak selalu berarti kita harus melakukannya.”
Ia mendesah. “Jawabanmu selalu begitu.”
“Aku tahu.”
“Masalahnya, Fabian, aku lagi nyoba kenal kamu. Kalau kamu terus cuma menunjukkan bagian terbaikmu, aku bakal merasa lagi berbicara dengan brosur promosi.”
Aku menatapnya. “Aku bukan brosur.”
“Kamu tahu maksudku.”
Aku tahu.
Aku juga tahu bahwa perempuan itu tidak sedang menuduhku berbohong. Ia hanya takut menyukai sesuatu yang ternyata tidak nyata.
“Aku nggak berpura-pura baik,” kataku.
Ia diam.
“Aku emang pernah marah. Aku pernah egois. Aku pernah bikin keputusan yang menyakiti orang lain. Aku cuma nggak nganggap semua perasaan harus ditunjukkan tepat saat muncul.”
“Berarti kamu menekan semuanya?”
“Nggak. Aku memilih gimana harus merespons.”
Ia memutar pulpen di antara jemari. “Capek nggak?”
“Kadang.”
“Kalau capek, kamu ngelakuin apa?”
“Pulang, matiin HP, terus bikin kopi.”
“Nggak curhat?”
“Nggak selalu.”
“Nggak menangis?”
Aku membiarkan jeda tumbuh di antara kami. “Pernah.”
Wajahnya berubah. Ia tidak terlihat puas karena berhasil menemukan retakan. Ia justru menatapku dengan kelembutan yang membuatku ingin mengalihkan pandangan.
“Kapan terakhir kali?”
“Pertanyaan itu terlalu pribadi.”
“Oke.” Ia mengangkat kedua tangan. “Aku nggak bakal maksa.”
Itulah perempuan itu. Berani menerobos, tetapi selalu tahu kapan harus berhenti ketika diminta.
Aku kembali memeriksa gambar kerja. Beberapa menit kemudian, ia menyodorkan sebuah permen ke dekat tanganku.
“Apa ini?”
“Buat ganti rugi karena tadi nginterogasi kamu.”
“Aku nggak merasa diinterogasi.”
“Kamu cuma terlihat kayak lagi menjalani pemeriksaan latar belakang.”
Aku mengambil permen itu. “Aku bakal nyimpen.”
“Jangan dimakan.”
“Kenapa?”
“Itu untuk ngingetin bahwa kamu punya satu orang yang berhak ganggu kamu.”
Aku menatapnya cukup lama.
“Satu orang?”
perempuan itu langsung salah tingkah. “Maksudku… untuk sementara.”
“Aku bakal ingat batas waktunya.”
“Jangan. Nanti aku tersinggung.”
“Kalau begitu, jangan ngasih batas.”
Ia mendengus, tetapi tersenyum.
Sebelum melanjutkan pekerjaan, perempuan itu menatapku lagi. “Kalau kamu lagi marah, apa aku boleh tahu dulu atau harus nunggu sampai kamu siap?”
“Tanya aja.”
“Kalau kamu belum mau jawab?”
“Aku bakal bilang.”
“Kamu benar-benar akan bilang, ‘Aku belum siap jawab’?”
“Aku bakal nyoba.”
“Nyoba bukan janji.”
“Aku nggak mau janji kalau belum yakin bisa nepatin.”
Ia mengangguk pelan. “Oke. Aku lebih suka gitu daripada janji manis.”
Aku menatap layar, tetapi tidak lagi membaca angka-angka di sana. Dalam waktu singkat, perempuan itu sudah menemukan bagian diriku yang paling sering kulewati: keinginan untuk dipahami tanpa harus menjelaskan semuanya sekaligus.
“Luna,” kataku.
“Ya?”
“Kalau suatu hari aku terlihat terlalu tenang, jangan langsung nganggap aku baik-baik aja.”
Ia tersenyum kecil. “Aku bakal ganggu kamu sampai kamu jawab.”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak keberatan?”
“Belum.”
Ia melempar permen ke arahku. Aku menangkapnya sebelum jatuh ke meja.
“Nilai kemungkinan menyebalkanmu naik lagi,” katanya.
“Aku bakal pertahanin.”
Kali ini aku tidak menyembunyikan senyum.
Malam itu, setelah ia pulang, aku menerima pesan singkat.
Luna: Aku nggak takut lihat kekurangan kamu. Aku cuma takut kamu nggak ngasih aku kesempatan buat lihat itu.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Aku: Aku bakal ngasih kamu kesempatan. Pelan-pelan.
Luna: Aku nggak pandai pelan-pelan.
Aku: Aku tahu.
Luna: Jangan terlalu sering bilang tahu. Nanti aku merasa mudah dibaca.
Aku: Kamu nggak mudah dibaca. Aku cuma memperhatikan lebih lama.
Tidak ada balasan selama beberapa menit. Aku membayangkan wajahnya yang pasti sedang mencari kalimat untuk mengalahkanku.
Luna: Kalau gitu, lanjut perhatiin aku. Tapi jangan kaget kalau nanti aku balik perhatiin kamu.
Aku menaruh ponsel di meja. Ancaman itu terdengar seperti janji yang ingin kutunggu.
Malamnya, setelah perempuan itu pulang, aku duduk sendirian di ruangan yang masih menyisakan aroma parfumnya. Ia menuduhku terlalu baik, seolah kebaikan adalah sesuatu yang dapat dipakai untuk menyembunyikan niat buruk.
Mungkin ia belum mengerti bahwa sebagian orang menjadi lembut bukan karena hidup mereka mudah, melainkan karena mereka tahu rasanya menghadapi hidup tanpa kelembutan.
Aku tidak perlu menceritakan semuanya malam ini.
Namun suatu hari nanti, jika perempuan itu memilih tinggal, aku akan membiarkan dirinya melihat seluruh bagian yang tidak selalu rapi.
Bukan karena aku ingin dikasihani.
Karena aku ingin dicintai tanpa perlu menyamar sebagai orang yang tidak pernah gagal.
Pagi berikutnya, aku menerima pesan dari perempuan itu sebelum matahari benar-benar tinggi.
Luna: Aku mikirin ucapanmu semalam.
Aku membaca pesan itu sebelum membalas.
Aku: Yang mana? Aku cukup banyak bicara kemarin.
Luna: Tentang nggak bikin orang yang kita cintai merasa sendirian.
Aku mengetik beberapa jawaban, lalu memilih yang paling jujur.
Aku: Bukan nasihat. Aku juga masih belajar.
Luna: Kamu terlihat kayak orang yang udah selesai belajar.
Aku: Penampilan sering menipu.
Luna: Aku tahu. Itu sebabnya aku masih menyelidiki.
Aku tersenyum di depan layar.
Aku: Kalau gitu, jangan buru-buru nyimpulin.
Luna: Aku nggak terburu-buru. Aku cuma bergerak lebih cepat dari orang lain.
Kalimat itu terdengar seperti peringatan, tetapi aku tidak merasa ingin menghindar. perempuan itu memang datang dengan kecepatan yang tidak biasa. Ia menabrak keheningan, membuka jendela yang sudah lama kututup, dan memaksa cahaya masuk tanpa meminta izin.
Di siang hari, aku menyimpan permen yang ia berikan di laci paling atas. Rendi melihatnya ketika mencari penggaris.
“Itu apa?”
“Permen.”
“Kamu nyimpen permen kayak dokumen rahasia?”
“Jangan menyentuhnya.”
Rendi mengangkat kedua tangan. “Oke, gue mulai ngerti bahayanya.”
Aku tidak menjelaskan bahwa benda kecil itu bukan sekadar permen. Itu adalah tanda bahwa seseorang sudah berani mengganggu hidupku, dan aku tidak ingin mengusirnya.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik reading
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya