Chapter Twelve
Kamu Cemburu?
POV: Fabian Asher
Aku tahu perempuan itu cemburu sebelum ia mengucapkan nama Elena.
Ia menjadi lebih banyak bicara, tetapi tidak mengatakan hal yang sebenarnya ingin disampaikan. Ia mengaduk minumannya sampai es batu pecah, memilih kursi yang berhadapan denganku, dan menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah ia duga.
Aku tidak merasa terganggu.
Sebagian diriku justru ingin tersenyum karena perempuan itu, yang biasanya berani mengatakan apa pun, tiba-tiba menjadi sangat berhati-hati ketika takut kehilangan sesuatu.
Namun aku tidak ingin membiarkan kecemburuan menjadi permainan.
Aku mengenal Elena sejak masa awal studio. Ia adalah salah satu orang pertama yang percaya pada kemampuanku ketika kami hanya memiliki ruangan kecil, dua komputer, dan proyek yang dibayar terlambat. Kami pernah sangat dekat, tetapi tidak pernah menjadi pasangan. Kami hanya dua orang yang terlalu sibuk bertahan untuk memikirkan hal lain.
Elena tahu banyak tentang pekerjaanku. Ia tahu bagaimana aku menyusun jadwal, mengapa aku tidak menyukai rapat pagi, dan kenapa aku selalu memeriksa pintu dua kali sebelum pulang.
Ia tidak tahu bagaimana perempuan itu membuatku tersenyum ketika hari sedang buruk.
Perbedaan itu tidak bisa dijelaskan melalui lamanya waktu.
Setelah mengantar perempuan itu pulang, aku duduk di dalam mobil tanpa menyalakan mesin. Aku membuka pesan dari Elena yang masuk siang tadi.
Elena: Maaf kalau kedatangan saya bikin suasana makan siang kalian aneh.
Aku membalas.
Aku: Kamu nggak ngapa-ngapain.
Elena: Dia suka sama kamu.
Aku menatap layar.
Aku: Kami lagi saling kenal.
Elena: Itu bukan jawaban.
Aku hampir tersenyum. Ternyata orang-orang di sekitarku memiliki kebiasaan yang sama.
Aku: Aku nggak mau bikin dia ngerasa harus saingan.
Elena: Kalau gitu, jangan biarkan dia menebak.
Aku menyimpan ponsel.
Nasihat itu juga bukan hal baru. Tetapi aku mulai memahami bahwa diam, yang selama ini kuanggap bentuk penghormatan, dapat terasa seperti jarak bagi orang yang sedang menunggu kepastian.
Malamnya, aku mengirim pesan kepada perempuan itu.
Aku: udah sampai?
Ia baru membalas setelah tujuh menit.
Luna: udah. Elena baik-baik aja?
Aku mengembuskan napas.
Aku: Baik. Dia cuma nganter dokumen proyek.
Luna: Aku nggak bertanya.
Aku: Aku tahu. Aku tetap mau jelasin.
Tidak ada balasan.
Aku menunggu, lalu menulis lagi.
Aku: Kami pernah dekat sebagai teman. Nggak pernah lebih dari itu.
Tanda mengetik muncul, lalu menghilang.
Luna: Kenapa kamu jelasin kalau aku nggak meminta?
Aku: Karena aku nggak mau kamu menyusun cerita sendiri.
Luna: Aku memang suka menyusun cerita.
Aku: Aku tahu. Kamu editor.
Luna: Aku bisa bikin Elena menjadi tokoh antagonis.
Aku: Dia bakal kecewa. Dia lebih cocok jadi tokoh yang nyelametin proyek di bab terakhir.
Luna: Kamu belain dia lagi.
Aku: Aku cuma jaga cerita biar bener.
Luna: Kalau gitu, aku jadi apa?
Aku berhenti cukup lama sebelum menjawab.
Aku: Tokoh yang paling sering mau kutemui di setiap bab.
perempuan itu tidak membalas selama lima menit.
Kemudian sebuah pesan masuk.
Luna: Kamu tahu nggak, kalimat kayak itu bisa bikin seseorang semakin cemburu?
Aku: Kalau gitu, aku jelasin yang bener.
Luna: Berani?
Aku: Aku nggak becanda.
Ia menelepon.
“Kamu nggak perlu jelasin sampai kayak ini,” katanya setelah kuangkat.
“Aku tahu.”
“Tapi kamu tetap ngelakuinnya.”
“Aku mau.”
Di ujung sana, ia diam.
“Kamu beneran suka sama aku?” tanyanya akhirnya.
Aku memandang jalan di depan mobil yang sudah sepi.
“Ya.”
Ia menarik napas. “Seberapa?”
“Cukup untuk nggak mau kamu merasa sendirian dalam hal yang lagi kamu rasakan.”
“Itu bukan ukuran.”
“Aku nggak punya ukuran yang lebih jelas.”
“Kamu bisa bilang aku lebih penting daripada Elena.”
“Kamu mau denger?”
“Ya.”
“Kamu lebih penting daripada Elena.”
Ia tertawa kecil, tetapi suaranya masih gugup. “Kamu bilang karena aku meminta.”
“Aku bilang karena itu benar.”
“Kalau suatu hari aku cemburu lagi?”
“Tanya aku.”
“Kalau aku bertanya terlalu banyak?”
“Aku bakal jawab selama aku bisa.”
“Kalau kamu lelah?”
“Aku bakal bilang.”
Ia menghela napas, lalu terdengar lebih ringan.
“Aku masih nggak suka Elena.”
“Aku bakal titip salam.”
“Jangan. Nanti dia ngerasa menang.”
Aku tertawa. perempuan itu ikut tertawa, dan kecemburuan yang tadi mengisi percakapan kami perlahan menjadi sesuatu yang bisa kami bicarakan tanpa melukai siapa pun.
Sebelum tidur, ia mengirim pesan terakhir.
Luna: makasih udah bikin aku nggak perlu menebak.
Aku membalas singkat.
Aku: makasih udah bertanya.
Aku tahu percakapan itu tidak menyelesaikan semua rasa tidak aman. Namun malam itu, perempuan itu memilih untuk tetap berbicara.
Bagiku, itu lebih berarti daripada kemenangan apa pun.
Keesokan harinya, aku bertemu Elena di studio. Ia datang untuk membahas perubahan rancangan dan langsung melihat ekspresiku.
“Luna cemburu,” katanya.
“Kami udah ngomongin itu.”
“sama kamu senang.”
“Aku nggak nolak.”
Elena meletakkan map di meja. “Jangan terlalu menikmati rasa dibutuhkan.”
“Aku nggak.”
“Kamu tersenyum sejak tadi.”
Aku menatapnya datar. “Kamu datang untuk membahas rancangan.”
“Aku bisa ngelakuin dua hal sekaligus.”
Ia membuka gambar kerja, tetapi percakapan kami belum benar-benar selesai.
“Kamu tahu,” katanya, “Aku memang pernah suka seseorang di studio ini.”
Aku tidak mengangkat kepala. “Aku tahu.”
“Tapi itu bukan kamu.”
“Aku juga tahu.”
“Kamu terlalu mudah nerima informasi.”
“Kamu bilang dengan jelas.”
Elena tertawa pendek. “Dulu aku berpikir kamu nggak punya ruang untuk siapa pun. Sekarang aku tahu ruang itu ada, cuma kamu menyimpannya untuk orang yang datang tanpa meminta.”
Aku memikirkan perempuan itu yang masuk ke hidupku dengan suara ramai, pertanyaan berani, dan kecenderungan mengubah jadwal kerja menjadi alasan untuk bertemu.
“Dia nggak datang tanpa meminta,” kataku. “Dia meminta banyak hal.”
“kayak apa?”
“Kejujuran. Perhatian. sama hak untuk ganggu aku.”
“Kamu ngasih?”
“Aku lagi ngasih.”
Elena mengangguk seolah sudah mendapatkan jawaban yang ia butuhkan.
Sore harinya, aku mengirim pesan kepada perempuan itu.
Aku: Aku bertemu Elena tadi.
Balasannya datang hampir seketika.
Luna: Kamu sengaja memberitahuku?
Aku: Ya.
Luna: Supaya aku cemburu lagi?
Aku: Nggak. Biar kamu nggak perlu ngebayangin percakapan yang nggak terjadi.
Ia tidak langsung membalas.
Luna: Kamu sama dia membicarakanku?
Aku: Sedikit.
Luna: Dia bilang apa?
Aku: Bahwa kamu bikin aku tersenyum terlalu banyak.
Luna: Itu aja?
Aku: Dia juga bilang kamu mending nggak bikin aku terlalu nyaman kalau belom siap menanggung akibatnya.
Tanda mengetik muncul cukup lama.
Luna: Aku siap.
Aku menatap pesan itu. perempuan itu selalu mengatakan hal-hal berani terlebih dahulu, lalu membiarkanku menebak apakah ia benar-benar siap.
Aku: Jangan bilang itu kalau kamu cuma mau bikin aku diam.
Luna: Aku mau bikin kamu diam.
Aku: Kamu bakal kecewa. Aku nggak banyak bicara, tapi aku selalu bisa membalas.
Ia menelepon beberapa detik kemudian.
“Kamu lagi ngancam aku?”
“Aku cuma ngingetin kamu.”
“Aku nggak takut.”
“Aku tahu.”
“Fabian.”
“Baik. Aku nggak bakal bilang tahu.”
Ia tertawa di ujung telepon. Suara itu membuatku menyadari bahwa rasa cemburu tidak selalu harus dihilangkan. Kadang ia hanya perlu diberi tempat yang aman untuk dibicarakan.
“Kamu benar-benar nggak bakal memilih Elena?” tanyanya.
“Aku udah memilih seseorang.”
Hening.
“Siapa?”
“Perempuan yang lagi meneleponku sama berpura-pura nggak mengerti.”
Ia tidak menjawab selama beberapa detik.
“Aku belom ngasih jawaban,” katanya akhirnya.
“Aku nggak minta jawaban malam ini.”
“terus kenapa bilang?”
“Karena kamu perlu tahu.”
Aku mendengar napasnya berubah. Aku tidak melihat wajahnya, tetapi dapat membayangkan ia sedang berjalan mondar-mandir sambil mencari kalimat yang tepat.
“Aku masih takut,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kali ini boleh bilang tahu.”
Aku tersenyum.
“Aku bakal tetap di sini,” kataku. “Tapi aku nggak bakal maksa kamu jalan lebih cepet.”
“Kalau aku berhenti?”
“Aku bakal berhenti bareng kamu.”
Setelah panggilan berakhir, aku menyadari bahwa menenangkan perempuan itu bukan berarti menghapus semua keraguannya. Tugasnya adalah memastikan ia tidak harus menghadapi keraguan itu sendirian.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu? reading
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya