Chapter Eleven

Cemburu yang Sangat Tidak Elegan

POV: Luna Aurora Clarissa

Aku tidak tahu kapan tepatnya Elena masuk ke dalam percakapan kami.

Mungkin ketika laki-laki itu menyebut namanya saat sedang menjelaskan proyek baru. Mungkin ketika ia menerima telepon dan berkata, “Aku bakal hubungin kamu lagi habis rapat.” Atau mungkin ketika aku melihat seorang perempuan cantik dengan rambut tersisir rapi keluar dari studio sambil membawa map yang sama dengan milik laki-laki itu.

Aku tidak pernah menganggap diriku pencemburu.

Aku hanya memiliki rasa ingin tahu yang sangat spesifik.

“Elena siapa?” tanyaku ketika ia menghampiriku di lobi.

Ia berhenti. “Elena?”

“Perempuan yang baru keluar.”

“Rekan kerja.”

“cuma rekan kerja?”

laki-laki itu menatapku. “Apa ada jenis rekan kerja lain?”

“Ada. Rekan kerja yang pernah hampir menikah, rekan kerja yang sering menginap di rumah, atau rekan kerja yang punya hak membuka laci pribadi.”

“Aku nggak punya laci pribadi di studio.”

“Itu bukan inti pertanyaanku.”

Ia tampak menahan senyum. Aku langsung tahu ia menikmati ini.

“Elena memimpin tim interior untuk proyek kami,” katanya. “Kami udah bekerja sama selama empat tahun.”

“Empat tahun?”

“Ya.”

“Lebih lama daripada kita saling kenal.”

“Itu benar.”

Aku tersenyum, tetapi rasanya tidak sampai ke wajah.

laki-laki itu mengambil tasku dari kursi. “Kamu mau makan siang?”

“Ya udah. Aku nggak mau ganggu jadwalmu sama rekan kerja empat tahunmu.”

“Jadwalku memang buat kamu hari ini.”

“Kamu bisa batalin.”

“Aku nggak mau.”

Aku berjalan lebih dulu menuju pintu. Kalau terus berdiri di depannya, aku mungkin akan mengajukan pertanyaan yang tidak pantas untuk status kami.

Di restoran, aku membuka menu terlalu keras. laki-laki itu tidak berkomentar. Ia hanya memesan makanan yang biasanya kupilih, lalu menambahkan sup hangat karena cuaca sedang mendung.

“Kamu ingat pesananku, tapi juga kenal Elena selama empat tahun,” kataku.

“Aku kenal banyak orang.”

“Aku tahu.”

“Kamu lagi marah?”

“Nggak.”

“Kamu lagi tersinggung?”

“Nggak.”

“Kamu lagi cemburu?”

Aku menutup menu.

“Kamu nggak perlu terlihat begitu senang.”

“Aku nggak terlihat senang.”

“Sudut bibirmu naik.”

“Itu mungkin karena kamu lagi jujur.”

“Aku nggak cemburu.”

“Baik.”

“Aku cuma mau tahu kenapa perempuan kayak dia belom menjadi pasanganmu.”

“Perempuan kayak apa?”

Aku menyadari jebakan itu terlalu terlambat. “Cantik. Pintar. Terlihat cocok sama kamu.”

laki-laki itu menyandarkan punggung ke kursi. “Mungkin dia juga bertanya kenapa aku belom menjadi pasanganmu.”

“Jangan membalikkan pertanyaan.”

“Aku nggak ngebalikin. Aku cuma jawab kemungkinan yang ada.”

Aku mengambil sedotan dan mengaduk minumanku meskipun tidak ada yang perlu diaduk.

“Elena pernah suka sama kamu?”

laki-laki itu tidak langsung menjawab. Ia tidak tampak gugup, tetapi keheningan kecil itu cukup membuat dadaku mengencang.

“Kami pernah dekat,” katanya akhirnya.

“Dekat kayak apa?”

“Dekat sebagai teman.”

“Itu jawaban yang aman.”

“Karena pertanyaanmu berbahaya.”

Aku menatapnya. “Kalau aku bertanya langsung, apa jawabannya bakal berbeda?”

“Nggak.”

“Kalau aku memaksa?”

“Aku bakal minta kamu berhenti.”

“Kalau aku tetap nggak mau berhenti?”

Ia meraih gelas air dan mendorongnya ke arahku. “Aku bakal bayarin makan kamu, terus nganter kamu pulang.”

Aku ingin marah. Namun caranya tetap tenang membuatku sadar bahwa ia tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Ia sedang menjaga batas yang tidak ingin ia lewati.

Masalahnya, aku belum tahu apakah batas itu dibuat untuk melindungi dirinya, Elena, atau aku.

Makan siang berlangsung lebih sunyi daripada biasanya. Aku membahas pekerjaan, ia menanggapi. Aku tertawa pada satu hal yang tidak terlalu lucu, ia membiarkannya. Aku tahu ia memperhatikanku, dan justru itu membuatku semakin tidak nyaman.

Setelah kami selesai, aku berdiri terlalu cepat.

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak mau merepotkanmu.”

“Kamu nggak merepotkan.”

“Kamu punya banyak orang lain yang mungkin lebih menarik.”

laki-laki itu mengangkat wajah. Tatapannya tidak lagi santai.

“Luna.”

Aku terdiam mendengar namaku disebut seperti peringatan.

“Jangan nyalahin diri sendiri cuma karena kamu lagi ngerasa nggak aman.”

Kalimat itu menembus lebih jauh daripada yang kuinginkan.

Aku mengalihkan wajah ke jendela. “Aku nggak merasa nggak aman.”

“Baik.”

“Jangan jawab begitu.”

“Kamu mau aku membantah?”

“Aku mau kamu bilang bahwa aku nggak punya alasan untuk cemburu.”

laki-laki itu berdiri, lalu mengambil tasku. “Kalau itu yang kamu butuhkan, aku bakal bilang.”

Ia tidak langsung melanjutkan. Kami berdiri di antara meja dan pintu restoran, dikelilingi orang-orang yang tidak tahu bahwa aku baru saja meminta sesuatu yang seharusnya tidak perlu kuminta.

“Kamu nggak punya alasan untuk cemburu sama Elena,” katanya.

Aku menatapnya.

“Bukan karena dia nggak menarik. Bukan juga karena hubungan kami nggak pernah penting. Tapi karena aku nggak lagi memilih antara dia sama kamu.”

“terus kamu lagi memilih apa?”

“Aku lagi kenal kamu.”

“Itu belom menjawab.”

laki-laki itu mendekat satu langkah. “Aku nggak mau kamu ngerasa harus ngerebut posisi yang udah nggak diperebutin.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi aku meraih tasku, lalu berjalan menuju pintu.

Di luar, angin membuat rambutku berantakan. laki-laki itu berdiri di sampingku dengan payung terbuka, tidak menyentuhku, tetapi cukup dekat untuk membuatku tahu bahwa ia belum benar-benar melepaskan percakapan tadi.

“Aku minta maaf,” kataku.

“Untuk apa?”

“Karena aku cemburu dengan cara yang nggak elegan banget.”

“Menurut aku itu nggak nggak elegan.”

“Kamu pasti menganggapnya merepotkan.”

“Nggak.”

“Berarti kamu menganggapku lucu?”

“Sedikit.”

Aku memukul lengannya. Ia tertawa pelan.

Aku masih tidak menyukai Elena.

Namun untuk pertama kalinya, aku percaya bahwa laki-laki itu tidak sedang membuatku berdiri di antrean untuk mendapatkan perhatiannya.

Di dalam mobil, aku menatap pantulan wajahku di kaca. Aku tampak seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu, padahal belum ada yang benar-benar kumenangkan. laki-laki itu hanya menjelaskan batasnya. Ia belum berjanji bahwa batas itu akan selalu mengarah kepadaku.

Ponselku berbunyi sebelum ia menyalakan mesin.

Nara: gimana makan siangnya?

Aku membalas sambil melirik laki-laki itu.

Aku: Aku cemburu.

Nara: Sama siapa?

Aku: Elena.

Nara: Perempuan yang baru kamu lihat lima menit?

Aku: Dia kenal Fabian selama empat tahun.

Nara: Kamu kenal Fabian lebih sedikit, tapi udah diberi akses megang tangannya.

Aku menoleh kepada laki-laki di sebelahku. “Kamu mendengar?”

“Apa?”

“Nggak ada.”

Nara mengirim pesan lagi.

Nara: Yang penting bukan siapa yang lebih lama mengenalnya. Yang penting siapa yang ia cari ketika mau pulang.

Aku tidak membalas. Kalimat itu membuat dadaku terasa penuh dengan cara yang tidak nyaman.

laki-laki itu mengantarku sampai depan rumah. Sebelum aku turun, ia menyerahkan ponselku yang tertinggal di tempat duduk.

“Kamu lupa ini.”

“makasih.”

“Luna.”

Aku menoleh.

“Kalau kamu masih mikirin sesuatu, kamu boleh bertanya lagi.”

“Kalau pertanyaanku bikin kamu terganggu?”

“Aku bakal bilang.”

“Kalau jawabannya nggak menyenangkan?”

“Aku tetap bakal jawab.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat. “Kamu bikin aku susah tetap santai.”

“Aku nggak pernah minta kamu santai.”

“terus?”

“Aku cuma mau kamu jujur.”

Aku turun dari mobil dengan satu kesimpulan baru: laki-laki itu mungkin tidak mudah didekati, tetapi ketika seseorang sudah berada di dekatnya, ia tidak akan membiarkan orang itu tersesat sendirian.

Di kamar, aku menaruh tas di kursi dan langsung membuka daftar penilaian. Di bawah kategori “perhatian”, aku menambahkan satu baris baru: mampu bikin cemburu terasa aman untuk dibicarakan.

Aku menatap kalimat itu sampai merasa malu sendiri, lalu tidak mencoretnya.

Aku bahkan menambahkan tanda bintang di sampingnya, lalu menulis catatan kecil: jangan menyangkal kalau ternyata suka.