Chapter Four

Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan

POV: Fabian Asher

Aku tidak pernah menganggap perhatian sebagai sesuatu yang harus dipamerkan.

Di studio, orang-orang mengenalku sebagai seseorang yang selalu memeriksa ulang jadwal, menyiapkan dokumen sebelum diminta, dan mengingat bahwa Rendi alergi kacang mete. Hal-hal itu bukan kualitas khusus. Jika seseorang bekerja bersama kita, tinggal bersama kita, atau sedang berada di dekat kita, seharusnya kita memperhatikan keadaan mereka.

Namun sejak mengenal perempuan itu, aku mulai menyadari bahwa perhatian yang sama dapat terasa berbeda ketika diarahkan kepada seseorang yang ingin kita jaga.

Ia mengatakan tidak suka sarapan terlalu berat, tetapi selalu merasa pusing menjelang siang. Ia mengaku tidak pernah lupa membawa charger, lalu meminjam charger orang lain tiga kali dalam seminggu. Ia menertawakan dirinya sendiri setiap kali menyadari sesuatu, seolah kecerobohan adalah hiburan yang cukup untuk menutup rasa lelah.

Aku mulai menyimpan beberapa hal dalam catatan ponsel.

Kopi susu, kurang manis. Tidak suka bawang mentah. Akan mengatakan “Aku baik-baik aja” sebelum mengakui sedang tidak baik. Jangan mengirim pesan terlalu pagi pada hari ia menyunting naskah. Jangan biarkan ia pulang tanpa makan jika tenggatnya sedang dekat.

Catatan itu bukan rencana untuk mengendalikan hidupnya. Aku hanya tidak ingin mengandalkan ingatan saat seseorang mulai penting.

Pada hari Senin, ia mengirim pesan pukul sebelas lewat tiga puluh delapan menit.

Luna: Fabian, wajar nggak kalau aku pengin gigit meja gara-gara revisi penulis?

Aku sedang berada di tengah rapat. Tiga orang di depanku membahas ukuran jendela ruang keluarga, tetapi pikiranku langsung berpindah pada kemungkinan ia belum makan sejak pagi.

Aku: Mejanya nggak bersalah. Udah makan?

Balasannya datang cepat.

Luna: Aku lagi mikir, kopi bisa dianggap makanan nggak, sih?

Aku menutup pulpen.

Aku: Nggak. Kirim alamat kantor.

Ia membalas dengan tiga emoji tertawa, lalu mengirimkan alamat.

Rapat berlanjut dua puluh menit. Aku menyelesaikannya lebih cepat dari perkiraan, lalu memesan makanan dari restoran yang pernah ia sebutkan pada pertemuan kedua. Aku meminta mereka mengurangi bawang mentah dan menambahkan sup hangat.

Ketika makanan tiba di kantornya, aku tidak ikut mengantarkannya. Aku hanya meminta kurir menyebutkan namanya dengan benar dan memastikan ia menerima paket sendiri.

Tiga puluh menit kemudian, teleponku berdering.

“Fabian?”

“Ya.”

“Kamu ngirim makanan.”

“Katamu mau gigit meja.”

“Aku belum benar-benar melakukannya.”

“Syukur deh.”

Ia tertawa kecil. Suara itu membuat ruang rapat yang kosong terasa lebih ringan.

“Kamu nggak perlu ngelakuin semua ini,” katanya kemudian.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Aku memandang sketsa rumah yang belum selesai di meja. Ada banyak jawaban yang bisa kuberikan. Karena aku ingin. Karena aku tahu rasanya melewati hari dengan tubuh yang berjalan tetapi pikiran sudah terlalu lelah. Karena aku pernah melihatnya duduk sendirian di lorong rumah sakit dan tidak ingin menjadi orang yang menuntutnya kuat.

Namun aku belum siap menyebut alasan terakhir.

“Soalnya makan siang lebih enak daripada ngunyah meja kantor,” jawabku.

“Jawaban kamu aman banget.”

“Cara nanya kamu bahaya.”

“Aku emang begitu.”

“Aku mulai ngerti.”

Setelah telepon berakhir, aku menyadari bahwa register percakapan kami mulai berubah. Ia masih memanggilku dengan sapaan yang sama, aku masih pakai “Aku-kamu” ketika ngobrol, tetapi jarak di antara kata-kata kami tidak lagi sama seperti saat pertemuan pertama.

Sore itu, aku bertemu Ibu untuk makan malam. Ia bertanya tentang perempuan yang sedang kukenal sambil memotong sayuran terlalu kecil.

“Gimana dia?”

“Banyak bicara.”

Ibu tersenyum. “Berarti kamu suka sama dia.”

“Kesimpulanmu kecepetan.”

“Kamu nggak pernah mengeluhkan orang yang banyak bicara kalau kamu nggak peduli.”

Aku tidak punya bantahan yang cukup baik.

Ibu meletakkan pisau. “Jangan bikin dia merasa harus balas sesuatu, Fab.”

“Aku nggak akan.”

“Bahkan jika kamu udah mengenalnya lebih dulu?”

Aku mengangkat pandangan.

Ibu tidak bertanya lagi. Ia sudah tahu tentang rumah sakit, teh hangat, dan kertas kecil yang masih kusimpan. Ia juga tahu aku tidak ingin mengubah kenangan itu menjadi utang.

“Nanti aku kasih tahu kalau waktunya pas,” kataku.

“Jangan sampai dia tahu sendiri sebelum kamu ngomong.”

Aku mengangguk.

Keesokan harinya, ia datang ke studio untuk mengembalikan buku yang kupinjamkan. Ia berjalan masuk bersama aroma hujan dan membawa dua gelas minuman.

“Aku bawa kopi sebagai kompensasi.”

Aku menerima gelas itu. “Kamu ingat pesanan aku?”

“Aku editor. Aku dibayar untuk ingat hal-hal yang sebenarnya nggak penting.”

“Kopi aku nggak penting?”

“Belum tentu.”

Ia mengatakannya sambil menatapku terlalu lama.

Aku menaruh gelas di meja sebelum tangan yang memegangnya menunjukkan sesuatu yang tidak ingin kulihatnya.

Ia berkeliling studio, menyapa dua sahabatku seolah sudah pernah bertemu. Rendi langsung menyukainya. Dimas bahkan menawarkan untuk menunjukkan ruang kerja tanpa diminta. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ia sudah membuat semua orang tertawa.

Di dekat meja sampel material, seorang anak magang menjatuhkan beberapa lembar gambar kerja. Ia langsung berjongkok untuk memungutnya, tetapi aku lebih dulu menahan tangannya.

“Biar aku,” kataku.

Anak itu tampak panik. “Maaf, Mas. Aku nggak sengaja.”

“Nggak apa-apa. Yang penting lain kali jangan buru-buru nyusunnya.”

Aku membantu memisahkan kertas sesuai nomor, lalu menjelaskan cara menyimpannya agar tidak tertukar. Ia berdiri beberapa langkah dari kami, memperhatikan tanpa ikut campur. Setelah anak itu kembali ke mejanya, ia mendekat.

“Kamu nggak marah?”

“Buat apa?”

“Dia menjatuhkan gambar kerja yang kayaknya penting.”

“Salah kecil masih bisa dibenerin. Kalau orang sampai takut ngaku salah, itu yang bahaya.”

Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih kepada anak magang tadi, lalu kembali kepadaku.

“Kamu gini ke semua orang?”

“Aku usaha.”

“Merepotkan.”

“Kenapa?”

“Karena aku jadi nggak punya alasan untuk nganggap kamu cuma baik kepada aku.”

Aku menahan senyum. “Kamu mau jadi pengecualian?”

Ia tampak hendak menjawab, tetapi akhirnya hanya mendengus dan berpaling ke arah rak material. Aku menyimpan reaksi itu diam-diam. Ia mungkin belum tahu, tetapi ia sudah mulai meminta tempat khusus tanpa mengatakannya secara langsung.

Aku berdiri di dekat jendela, melihatnya menjelaskan kenapa sampul sebuah novel terlihat seperti dibuat oleh orang yang membenci kisah cinta.

Ia hidup dengan cara yang terang.

Mungkin itulah yang membuat dunia terasa berbeda ketika ia berada di dekatku.

Saat ia hendak pulang, aku memberinya payung.

“Aku punya mobil,” katanya.

“Tetap bawa.”

“Kamu terus punya alasan untuk ngasih aku sesuatu.”

“Nggak terus.”

“Kalau begitu, alasan kali ini apa?”

Aku memandang hujan di luar. “Supaya kamu nggak kehujanan.”

Ia tersenyum, tetapi tidak langsung mengambil payung itu.

“Fabian,” katanya, “Kalau aku terus biarin kamu memperhatikan aku, apa nanti kamu nganggap aku ngasih harapan?”

Aku menatapnya kembali.

“Aku nggak bakal nebak-nebak sebelum kamu ngomong sendiri.”

Wajahnya berubah. Untuk beberapa saat, ia tidak terlihat seperti perempuan yang selalu memiliki jawaban.

“Kamu benar-benar sulit dipancing,” gumamnya.

“Kamu belum nyoba dengan serius.”

Ia tertawa, akhirnya mengambil payung itu.

Aku menunggunya sampai masuk ke mobil. Baru setelah lampu belakangnya menghilang di ujung jalan, aku kembali ke studio.

Rendi menungguku dengan alis terangkat. “Lo ngasih payung terakhir?”

“Masih ada satu di mobil.”

“Bukan gitu maksudku.”

Aku melewati mejanya. “Gue nggak tahu maksud lo.”

“Iya, iya. Kamu cuma perhatian sama seorang cewek, ingat makan siangnya, kasih payung, terus senyum-senyum setelah dia pergi.”

Aku berhenti, tetapi tidak menoleh. “Lo kebanyakan ngomong.”

“Itu ketularan calon istrimu.”

Aku akhirnya tertawa. Mungkin Rendi benar. Sejak perempuan itu masuk ke hidupku, studio terasa sedikit lebih bising, tetapi tidak pernah benar-benar mengganggu.

Tidak ada seorang pun yang bertanya mengapa aku tersenyum.

Mungkin karena semua orang sudah tahu.