Chapter Twenty Four
Rumah yang Selalu Ada Lampunya
POV: Fabian Asher
Enam bulan setelah pernikahan, Luna masih belum bisa bangun tanpa mengeluh.
“Fabian,” katanya dari balik selimut. “Hari ini aku nggak sanggup menjadi manusia.”
Aku berdiri di ambang pintu kamar sambil membawa dua cangkir kopi. “Kamu nggak perlu menjadi manusia. Cukup menjadi istriku.”
Satu mata muncul dari balik selimut. “Kalimat itu terdengar kayak jebakan.”
“Aku menyiapkan sarapan.”
Selimut langsung turun sampai dagunya. “Aku mencintaimu.”
“Aku tahu.”
“Jangan terlalu percaya diri.”
“Kamu yang mengatakannya.”
“Aku bisa menariknya kembali.”
Aku meletakkan kopi di meja samping ranjang. “Terlambat. udah tercatat.”
Luna akhirnya duduk, rambutnya berantakan, wajahnya masih mengantuk. Ia menerima cangkir dari tanganku, lalu menyesapnya sambil memejamkan mata.
Rumah kami tidak besar. Hanya apartemen dengan dua kamar, balkon sempit, dan dapur yang terlalu kecil untuk dua orang yang sama-sama merasa bisa memasak. Luna menyebutnya rumah pertama kami. Aku menyebutnya tempat di mana semua barang miliknya perlahan mengambil alih ruangku.
Tanaman di dekat jendela adalah miliknya. Bantal berbentuk awan di sofa adalah miliknya. Mug dengan tulisan “Suami Siaga” juga miliknya, meskipun aku tidak tahu kapan ia membelinya.
“Kamu memakai mug itu lagi,” katanya.
“Mug bersih.”
“Tulisan di depannya terlihat.”
“Aku nggak keberatan.”
“Padahal itu memalukan.”
“Nggak.”
Luna tersenyum puas. “Kamu memang suami siaga.”
Aku tidak menjawab. Ia tahu jawabannya dari caraku sudah menyiapkan roti panggang sebelum ia meminta.
Pagi itu kami memiliki rencana sederhana: membeli rak buku baru, makan siang, lalu mengunjungi rumah orang tua Luna. Rencana sederhana bersama Luna biasanya berubah menjadi rangkaian keputusan spontan.
Di toko furnitur, ia menemukan kursi berbentuk aneh.
“Ini cocok untuk sudut baca,” katanya.
“Kita udah punya sofa.”
“Sofa untuk duduk. Kursi ini untuk membaca dengan estetika.”
“Apa bedanya?”
“Kalau kamu bertanya begitu, berarti kamu nggak siap menjadi suami dari perempuan yang punya visi.”
Aku mendorong keranjang belanja. “Masukkan.”
“Kamu mengalah lagi.”
“Aku lagi berinvestasi pada visimu.”
Ia mendekatkan wajah. “Kalau aku punya visi untuk membeli meja makan baru?”
“Kita lihat anggarannya.”
“Kalau aku punya visi untuk membeli seprai satin?”
Aku berhenti berjalan.
Luna menahan tawa. “Kenapa diam?”
“Aku lagi menghitung apa kita perlu membeli seprai itu hari ini.”
Wajahnya memerah, tetapi ia tetap tersenyum. “Akhirnya kamu belajar.”
“Aku belajar dari istri yang nggak pernah memakai rem.”
“Kamu suka.”
“Aku nggak bilang nggak suka.”
Ia memasukkan kursi itu ke keranjang dengan wajah menang.
Sore harinya, setelah makan bersama keluarga, kami pulang melewati jalan yang mulai ramai. Luna tertidur di kursi penumpang, kepalanya miring ke jendela. Aku menurunkan volume radio dan memperlambat kendaraan.
Dulu, sebelum mengenalnya, aku sering membayangkan seperti apa rasanya memiliki rumah yang lampunya menyala ketika aku pulang. Bukan rumah mewah. Bukan tempat yang sempurna. Hanya ruang sederhana dengan seseorang yang menunggu, bahkan jika ia menunggu sambil mengomel.
Sekarang aku memilikinya.
Lampu balkon kami terlihat dari kejauhan. Luna yang menyalakannya setiap malam, katanya agar rumah tidak terlihat gelap ketika kami pulang. Ia tidak tahu bahwa aku sering memperlambat kendaraan beberapa detik hanya untuk melihat cahaya itu.
Sesampainya di rumah, aku membangunkannya.
“Sampai rumah,” kataku.
“Aku udah tahu. Ada bau kamu.”
“Bau apa?”
“Sabun dan kesibukan.”
“Itu bukan bau.”
“Menurutku iya.”
Ia turun dari mobil, lalu berjalan masuk sambil menguap. Aku membawa tas dan kursi baru yang ternyata jauh lebih berat daripada perkiraanku.
Di ruang tengah, Luna menyalakan lampu dan langsung membentangkan tubuh di sofa.
“Aku mau makan sesuatu,” katanya.
“Kamu baru makan.”
“Aku mau makan sesuatu yang berbeda.”
“Apa?”
“Kamu.”
Aku menatapnya.
Luna tersenyum tanpa dosa. “Kamu terlihat mudah dimakan.”
“Kalimat itu nggak masuk akal.”
“Tapi kamu tetap dengerin.”
Aku meletakkan tas, lalu berjalan mendekat. Ia mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. Aku menunduk dan mencium keningnya.
“Aku bakal bikin sup.”
“Aku nggak mau sup.”
“Nasi goreng?”
“Boleh.”
“Duduk yang benar.”
“Kalau aku duduk di meja dapur, kamu bakal menyuapiku?”
“Kalau kamu nggak ganggu.”
“Aku nggak bisa menjanjikan itu.”
Aku tersenyum kecil. “Aku tahu.”
Malam itu kami makan nasi goreng di meja kecil dekat jendela. Luna menceritakan hal-hal acak tentang toko furnitur, tetangga baru, dan rencana membeli kucing meskipun kami belum berdiskusi soal itu. Aku mendengarkan, sesekali menjawab, sesekali menyelipkan godaan yang membuatnya mengangkat alis.
Setelah makan, ia mencuci piring sementara aku mengeringkannya. Kami hampir bertengkar tentang siapa yang lebih banyak bekerja, lalu berakhir dengan saling menyiram air.
“Fabian!”
“Kamu memulai.”
“Aku cuma menyentuh tanganmu.”
“Dengan spons basah.”
“Itu kecelakaan.”
“Kecelakaan yang kamu ulangi tiga kali.”
Ia mengambil handuk dan melemparkannya ke wajahku. Aku menangkapnya, lalu menariknya mendekat.
“Jangan,” katanya, tetapi tawanya membuat larangan itu tidak meyakinkan.
“Kenapa?”
“Aku masih megang piring.”
“Letakkan.”
“Kalau pecah?”
“Kita beli lagi.”
“Kamu mengira uang tumbuh di balkon?”
“Nggak. Tapi aku punya istri yang bisa mengomel sampai penjual ngasih diskon.”
Ia mencubit lenganku. Aku mencium pipinya sebelum ia sempat protes.
Ketika malam semakin larut, kami berdiri di balkon. Kota di bawah tampak seperti lautan cahaya. Luna bersandar pada pagar, kepalanya di bahuku.
“Kamu bahagia?” tanyaku.
“banget.”
“Nggak nyesel?”
“nyesel.”
Aku menoleh.
“nyesel nggak jatuh cinta lebih cepat,” lanjutnya.
Aku mengusap punggung tangannya. “Kamu nggak perlu mengejar waktu yang udah lewat.”
“Aku tahu. Tapi aku tetap mau menggodamu.”
“Kamu bakal terus menggodaku?”
“Sampai tua.”
“Kalau aku udah tua dan nggak kuat balas?”
“Aku bakal menggoda lebih keras.”
Aku tertawa pelan. “Kamu nggak pernah berubah.”
“Kamu juga.”
“Aku banyak berubah.”
Luna mengangkat wajah. “Kamu sekarang lebih banyak bicara.”
“Karena kamu terlalu banyak bicara untuk kami berdua.”
Ia memukul dadaku pelan, lalu kembali bersandar.
Aku memandang lampu rumah kami yang menyala dari balik pintu kaca. Rumah itu tidak selalu rapi. Tidak selalu tenang. Kadang penuh suara Luna, kadang penuh diamku, kadang diisi perdebatan kecil tentang sarapan atau seprai.
Namun lampunya selalu menyala.
Dan setiap kali kami pulang, kami pulang kepada satu sama lain.
“Luna.”
“Hm?”
“Makasih udah memilihku.”
Ia menggenggam tanganku, lalu mengecup cincin di jariku.
“Makasih udah menungguku memilih.”
Aku menunduk mencium rambutnya.
Kami bertemu karena perjodohan. Kami jatuh cinta karena kebersamaan. Kami menikah bukan karena siapa pun menyuruh kami, melainkan karena kami sama-sama ingin tinggal.
Selama Luna masih menyalakan lampu rumah, aku tahu ke mana harus pulang.
Dan selama aku masih bisa membuka pintu untuknya, rumah itu akan selalu ada.
Beberapa hari kemudian, rak buku baru kami tiba. Kursi berbentuk aneh yang dibeli Luna ternyata tidak muat di sudut baca tanpa memindahkan meja kecil. Kami menghabiskan satu sore untuk menggeser furnitur, mengukur dinding, dan saling menyalahkan karena tidak membaca petunjuk pemasangan.
“Kamu bilang bisa merakitnya,” kata Luna sambil memegang dua papan yang bentuknya sama.
“Aku bisa.”
“Kamu udah memasang bagian ini terbalik.”
“Itu bagian dari proses.”
“Proses menuju perceraian?”
Aku menariknya mendekat menggunakan ujung kausnya. “Kita baru menikah enam bulan.”
“Aku lagi menguji kesabaranmu.”
“Kesabaranku kuat.”
“Aku tahu. Itu sebabnya aku memilihmu.”
Luna sering mengucapkan kalimat manis dengan cara paling tidak terduga. Ia bisa menggabungkan ancaman, candaan, dan pengakuan cinta dalam satu napas. Anehnya, aku selalu tahu mana bagian yang paling jujur.
Kami akhirnya berhasil memasang rak itu. Buku-buku Luna memenuhi dua tingkat pertama. Buku-bukuku hanya menempati setengah tingkat, tetapi ia berjanji menyediakan ruang tambahan untuk buku yang akan kami beli bersama.
Dulu, masa depan bagiku hanya daftar kewajiban yang harus diselesaikan. Sekarang masa depan memiliki tempat untuk buku-buku baru, kursi aneh, piring yang mungkin pecah, dan seorang perempuan yang tidak pernah berhenti membuat rumah terasa hidup.
Malamnya, sebelum tidur, Luna mematikan lampu ruang tengah dan menyisakan lampu kecil di dekat pintu.
“Kamu menyalakan lampu lagi,” kataku.
“Supaya besok pagi kita nggak tersandung.”
Aku tahu itu bukan satu-satunya alasan. Lampu itu adalah tanda kecil bahwa rumah ini menunggu kami untuk pulang, bahkan ketika kami sudah berada di dalamnya.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya reading