Chapter Ten

Aku Mulai Menunggu Pesannya

POV: Luna Aurora Clarissa

Aku mulai menunggu pesan laki-laki itu pada minggu ketiga masa perkenalan kami.

Awalnya hanya pada pagi hari. Aku ingin tahu apakah ia sudah berangkat kerja. Kemudian menjelang makan siang, aku ingin tahu apakah ia sudah makan. Setelah itu, setiap kali ponselku berbunyi, tanganku bergerak lebih cepat daripada pikiranku.

Kalau pesannya bukan dari laki-laki itu, aku merasa kecewa.

Kalau pesannya dari laki-laki itu, aku merasa lebih kecewa karena harus berpura-pura tidak menunggu.

Aku mengirim pesan kepadanya pada pukul sepuluh pagi.

Aku: Kamu udah berangkat?

Fabian: Udah. Kamu?

Aku: Aku baru duduk di depan laptop. Banget produktif.

Fabian: Layar laptopmu menyala?

Aku melihat laptop yang sejak lima belas menit lalu hanya menampilkan halaman awal.

Aku: Jangan menghakimi proses kreatifku.

Fabian: Aku nggak menghakimi. Aku ngingetin.

Aku: Kamu ternyata suka ngingetin calon istri.

Tidak ada jawaban selama beberapa menit. Aku menyesal sudah mengirim pesan itu, lalu menyesal karena menyesal.

Fabian: Kamu mau aku mulai ngebiasain diri?

Aku menatap layar dengan mulut terbuka.

Aku: Membiasakan diri apa?

Fabian: Memanggilmu calon istri.

Aku buru-buru menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.

Laki-laki itu seharusnya dilarang bekerja sebelum sarapan. Mungkin otaknya terlalu segar.

Aku tidak membalas selama lima menit, lalu mengirim foto tumpukan buku di meja.

Aku: Aku lagi sibuk.

Fabian: Aku bisa melihatnya.

Aku: Jangan membuatku terganggu.

Fabian: Kamu yang ngirim foto.

Aku: Aku lagi ngasih kesempatan untuk merindukanku.

Balasannya datang lebih cepat dari dugaanku.

Fabian: Aku nggak perlu kesempatan untuk itu.

Aku menjatuhkan ponsel ke meja.

Nara, yang sedang membaca naskah di seberang ruangan, mengangkat kepala. “Kamu baik-baik aja?”

“Nggak.”

“Apa yang dia katakan?”

“Nggak ada.”

“Kalau nggak ada, kenapa wajahmu kayak baru baca adegan dewasa?”

Aku menyodorkan ponsel kepadanya.

Nara membaca percakapan itu, lalu mengembalikannya dengan ekspresi puas.

“Kamu udah jatuh.”

“Aku cuma lagi menikmati proses.”

“Proses apa?”

“Mengenal.”

“Kamu bilang nunggu pesan setiap jam sebagai mengenal?”

Aku mengambil bantal sofa dan melemparkannya.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin buruk. laki-laki itu tidak selalu mengirim pesan lebih dulu, dan aku membenci betapa mudahnya aku menyadari hal itu. Jika sampai siang ia belum menghubungi, aku akan membuka percakapan kami, mengetik sesuatu, menghapusnya, lalu memutuskan untuk tidak terlihat putus asa.

Biasanya aku bertahan dua puluh menit.

Pada Kamis sore, aku mengirim foto tanganku yang penuh noda tinta.

Aku: Lihat, aku terluka di medan kerja.

Fabian: Kamu udah mencuci tangannya?

Aku: Kamu nggak khawatir?

Fabian: Aku khawatir kamu akan menyentuh wajah sebelum mencucinya.

Aku: Aku bisa mati karena kecerobohan.

Fabian: Jangan. Aku belum sempat ngajak kamu makan malam lagi.

Aku tersenyum begitu lebar sampai Nara mengeluh bahwa aku mengganggu konsentrasinya.

“Dia ngajak kamu bertemu?”

“Belum. Dia cuma bilang belum sempat.”

“Itu bahasa laki-laki pendiam untuk ngajak kamu bertemu.”

“Aku nggak mau bikin kesimpulan.”

“Kamu?” Nara menatapku seolah aku baru mengaku tidak suka makanan manis. “Kamu bikin tiga belas kesimpulan sebelum sarapan.”

Aku tidak membantah.

Nara menyarankan aku mengirim pesan lebih berani. Katanya, seorang calon istri tidak boleh kalah hanya karena calon suaminya memiliki kemampuan membalas dengan tenang.

“Tanyakan apa dia lagi mikirin kamu,” katanya.

“Terlalu langsung.”

“Kamu pernah nawarin ciuman lewat chat.”

“Itu konteks penelitian.”

“Kamu bilang semua hal sebagai penelitian.”

Aku menyimpan ponsel di bawah bantal, tetapi lima menit kemudian mengambilnya lagi. Aku mengetik pertanyaan yang disarankan Nara, membaca ulang, lalu menggantinya dengan foto secangkir kopi.

Aku: Kopi ini mengingatkanku ke kamu.

Balasan laki-laki itu datang cukup cepat.

Fabian: Karena pahit?

Aku tertawa keras sampai Nara menoleh dari mejanya.

Aku: Karena hangat dan membuatku ketagihan.

Aku menekan kirim sebelum keberanianku hilang.

Beberapa detik tidak ada balasan.

Lalu ia mengirim satu kalimat.

Fabian: Jangan salahkan kopinya kalau kamu memang memilih kembali setiap hari.

Aku menaruh ponsel di dada. Dinding kantor, suara printer, dan aroma kertas mendadak terasa terlalu jelas.

“Apa lagi?” tanya Nara.

“Dia balas.”

“Seberapa parah?”

Aku menyerahkan layar kepadanya.

Nara membacanya, kemudian bersandar ke kursi. “Dia bukan pendiam. Dia cuma ngirit tenaga untuk menghancurkanmu.”

Aku mengambil kembali ponsel. “Aku masih bisa menghadapinya.”

“Kamu yakin?”

“Aku selalu yakin.”

“Itu yang membuatku khawatir.”

Aku memasukkan ponsel ke tas dan mencoba melanjutkan pekerjaan. Namun sepanjang sore, aku memikirkan makan malam besok. Aku membuka lemari, memilih pakaian, menggantinya, lalu memilih yang pertama. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya karena tempat yang dipilihnya mungkin cukup bagus untuk difoto.

Ketika Mama menelepon dan bertanya apakah aku menyukai calon suamiku, aku menjawab terlalu cepat.

“Aku lagi mengenalnya.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku belum punya jawaban.”

“Tapi kamu tersenyum.”

Aku menyentuh sudut bibirku yang memang terasa pegal.

“Dia membuatku banyak bicara.”

“Kamu memang selalu banyak bicara.”

“Sekarang aku bicara kepadanya lebih banyak.”

Mama diam sejenak. “Berarti dia bikin kamu nyaman.”

Aku tidak segera menjawab. Kata nyaman terdengar terlalu sederhana untuk sesuatu yang mulai memenuhi pikiranku. Tetapi mungkin justru itu yang paling tepat.

“Mungkin,” kataku.

Malamnya, aku mengirim satu pesan terakhir.

Aku: Besok jangan membuatku gugup.

Fabian: Aku nggak bisa menjanjikan itu.

Aku: Kenapa?

Fabian: Karena kamu udah gugup sebelum bertemu denganku.

Aku tidak menemukan balasan yang cukup cepat. Untuk pertama kali, aku membiarkan pesan itu terbaca tanpa berusaha menang.

Malamnya, laki-laki itu menelepon. Ia sedang berada di dalam mobil, menunggu hujan reda. Aku berbaring di kasur dengan rambut masih basah dan sengaja tidak mengatakan bahwa aku sudah menunggu teleponnya sejak pukul delapan.

“Kamu belum tidur?” tanyanya.

“Aku lagi nunggu kamu.”

“Aku belum bilang akan menelepon.”

“Aku tahu. Aku cuma mau bikin kamu merasa penting.”

“Berhasil.”

Aku tersenyum ke langit-langit. “Kamu gampang banget dibikin senang.”

“Nggak selalu.”

“Kalau begitu, gimana cara bikin kamu senang?”

“Kamu bisa mulai dengan nggak ngilang ketika lagi kesal.”

Aku terdiam. Ia mengingat percakapan kami tentang kekurangan, lalu menyampaikannya tanpa menuduh.

“Oke,” kataku. “Tapi kamu juga nggak boleh tiba-tiba diam ketika ada masalah.”

“Oke.”

“Kita mulai dari saling merepotkan.”

“Aku kira kita udah melakukannya.”

“Belum maksimal.”

“Kamu mau nyoba?”

Aku menggigit bibir. “Mungkin.”

“Besok malam makan sama aku.”

Aku berusaha terdengar tenang. “Itu ajakan atau perintah?”

“Ajakan.”

“Kalau aku nolak?”

“Minggu depan aku tanya lagi.”

“Kalau aku nolak lagi?”

“Aku bakal nunggu sampai kamu nggak nolak.”

Aku memejamkan mata. Ia benar-benar tidak pernah mengejar dengan suara keras, tetapi selalu membuatku merasa dirinya akan tetap berada di tempat yang sama.

“Oke,” kataku. “Aku ikut.”

“Aku tahu.”

Aku menyimpan jawaban itu di kepalaku, seperti menyimpan pesan-pesan lain yang diam-diam kubaca ulang ketika sedang merindukannya.

“Jangan sok tahu.”

“Kamu udah mau ikut sejak aku bilang makan malam.”

“Aku cuma lapar.”

“Jelas.”

Aku tertawa, lalu menatap layar ponsel setelah panggilan berakhir.

Aku bukan lagi sekadar menunggu pesan.

Aku sedang menunggu kehadirannya, menunggu satu kalimat pendek yang membuat hari biasa terasa lebih menarik, dan menunggu kesempatan untuk menggodanya sampai ia akhirnya menyerah.

Masalahnya, semakin sering laki-laki itu membalas, semakin aku takut bahwa yang akan menyerah lebih dulu bukan dia.

Mungkin aku. Dan untuk pertama kalinya, kemungkinan itu tidak terdengar menakutkan.