← Setengah Detik

Chapter Nine

Rantai

POV: Alvaro


Sepedanya sudah bunyi sejak dua minggu yang lalu.

Aku dengar tiap pagi. Bunyi rantai yang kering itu gampang dikenali — bukan bunyi keras, cuma bunyi kering yang berulang setiap kayuhan, seperti sesuatu yang minta tolong tapi tidak mau merepotkan.

Aku tidak bilang apa-apa selama dua minggu.

Ini bagian dari peraturan yang aku buat sendiri: aku boleh memperbaiki apa pun yang diminta. Aku tidak boleh menawarkan.

Alasannya sederhana. Kalau aku menawarkan, aku harus menjelaskan kenapa aku memperhatikan. Dan aku tidak punya jawaban untuk itu yang aman diucapkan.

Jadi selama dua minggu aku mendengar sepeda itu lewat gerbang setiap pagi, dan setiap pagi aku menghitung mundur, karena rantai yang bunyinya begitu punya umur.

Hari Kamis umurnya habis.


Aku sedang mengangkut galon ke ruang OSIS waktu Bagas datang setengah berlari.

“Fa. Fa. Ada yang jatuh di parkiran.”

“Siapa.”

“Anak IPS.”

Aku menaruh galonnya.

Aku ingin mencatat bahwa aku menaruh galon itu dengan cara yang wajar dan berjalan dengan kecepatan yang wajar, karena kalau tidak, Bagas akan punya bahan untuk seminggu.

Zara duduk di trotoar parkiran dengan sepeda tergeletak di sampingnya dan lima orang mengelilinginya, yang mana khas — kalau dia jatuh, akan selalu ada lima orang. Kalau aku yang jatuh, akan ada nol.

“Aku nggak apa-apa,” katanya, untuk yang jelas bukan pertama kali. “Beneran. Nggak apa-apa.”

Lututnya lecet. Telapak tangannya juga.

“Ya tapi berdarah, Zar.”

“Dikit.”

“Mau aku anter ke UKS?”

“Nggak usah.”

“Beneran nggak usah?”

“Nggak—“

Aku jongkok di sebelah sepedanya dan mengangkat rantainya dengan dua jari.

Putus. Bukan lepas dari gir. Putus di satu sambungan, dan sambungan itu sudah aus sejak lama, dan besinya sudah menipis sampai setengah.

Lima orang itu menoleh ke aku.

“Kamu ngapain?” tanya Zara.

“Lihat rantai.”

“Aku yang jatuh, bukan rantainya.”

“Kamu jatuh karena rantainya.”

Aku berdiri dan mengangkat sepeda itu dengan satu tangan di sadel.

“Kunci sepedanya mana.”

“Al—“

“Kunci.”

Dia menyerahkan kuncinya, dengan wajah orang yang menyerahkan sesuatu karena kalah debat, bukan karena setuju.

“Ke UKS,” kataku ke lima orang itu. “Tangannya juga.”

Lalu aku mendorong sepeda itu ke luar gerbang.


Bengkel Bapak jaraknya dua kilo dari sekolah.

Mendorong sepeda dua kilo di jam dua siang itu bukan pengalaman yang menyenangkan, dan aku sempat berpikir bahwa aku bisa menunggu sampai sore dan meminjam motor. Tapi kalau sore, bengkelnya ramai, dan aku tidak akan sempat.

Jadi aku dorong.

Bapak melihat aku masuk dengan sepeda yang jelas bukan sepedaku dan seragam yang basah di punggung.

“Punya siapa?”

“Teman.”

“Teman.”

“Iya.”

Bapak mengisap rokoknya dan tidak bertanya lagi, tapi caranya tidak bertanya itu jauh lebih menyebalkan daripada kalau dia bertanya.

Rantainya harus diganti seluruhnya. Aku juga menemukan hal lain begitu sepeda itu naik ke standar: gir belakang sudah tumpul di tiga mata, dan rem belakangnya sudah tinggal sepertiga, dan sadelnya miring dua derajat ke kanan yang artinya dia sudah lama duduk tidak lurus tanpa sadar.

Aku mengerjakan semuanya.

Aku tahu itu berlebihan. Yang putus cuma rantai. Yang lain masih bisa jalan berbulan-bulan.

Aku tetap mengerjakan semuanya.

Jam setengah tujuh, waktu aku memasang rem belakang, tanganku terpeleset dari kunci dan buku jariku menghantam gir depan.

Aku melihat darahnya sebentar, mengelapnya ke celana kerja, dan meneruskan.


Aku mengantar sepeda itu ke rumahnya jam delapan malam.

Aku tidak berencana masuk. Aku berencana menaruhnya di teras, mengirim pesan, dan pulang.

Aku sudah menaruhnya di teras waktu lampu depan menyala.

“Al?”

Dia keluar pakai kaus dan celana pendek dan rambut yang jelas-jelas belum disisir sejak mandi, dan wajahnya berubah tiga kali dalam dua detik: kaget, senang, lalu marah.

“Kamu dari tadi?”

“Baru sampai.”

“Kamu bawa ke bengkel?”

“Iya.”

“KAMU DORONG?”

“Iya.”

“DUA KILO?”

“Turunan.”

“ITU NAIKAN, AL. AKU TIAP HARI LEWAT SITU.”

Aku memutar pedalnya sekali untuk menunjukkan bahwa rantainya sudah jalan.

“Rantainya ganti. Gir belakang ganti. Rem belakang ganti. Sadelnya aku luruskan, kemarin miring dua derajat ke kanan.”

“Aku nggak minta semua itu.”

“Iya.”

“Al.”

“Nanti kalau miring terus, pinggang sebelah kanan sakit.”

Dia diam.

Lalu dia mengambil tanganku.

Bukan menyentuh. Mengambil — dia meraih pergelanganku dan menariknya ke bawah lampu teras dan memutar telapakku ke atas, seperti orang memeriksa barang belanjaan.

Buku jariku terbuka di tiga tempat dan sudah kering dan hitam di pinggirnya karena oli.

“Ini apa,” katanya.

“Kena gir.”

“KAMU—“

“Nggak dalam.”

“Ini kotor, Al. Ini oli. Ini luka kena oli.”

“Nggak apa-apa.”

“NGGAK APA-APA GIMANA.”

Dia masih memegang tanganku. Dia bahkan tidak sadar dia masih memegang tanganku, karena dia sedang sibuk memarahiku, dan dia memarahiku dengan sungguh-sungguh, dengan alis bertaut, sambil sesekali mengguncang tanganku sendiri untuk memberi penekanan pada kalimatnya.

Aku berdiri diam.

Aku berdiri diam karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, dan karena — dan aku akan menyangkal ini sampai mati — aku tidak ingin dia selesai.

“Tunggu di situ,” katanya. “Jangan ke mana-mana.”

“Aku pulang.”

“JANGAN KE MANA-MANA.”

Dia masuk. Pintunya dibiarkan terbuka.


Dia keluar membawa baskom kecil, air, dan kotak obat yang isinya sudah setengah kadaluarsa, dan dia menyuruhku duduk di kursi teras, dan dia jongkok di depanku dan mencuci buku jariku satu per satu sambil masih mengomel.

Yang dia omelkan sudah berkembang jauh dari luka.

Dia mengomel soal orang yang tidak makan siang. Dia mengomel soal orang yang pulang jam delapan. Dia mengomel soal orang yang mendorong sepeda dua kilo padahal bisa minta tolong. Dia mengomel soal orang yang bilang “nggak apa-apa” untuk semua hal di dunia ini seolah itu satu-satunya kalimat yang dia punya.

Aku mendengarkan semuanya.

Sesudah plesternya terpasang — tiga plester, bergambar, jelas milik anak kecil, dan aku tidak bertanya — dia mendongak.

“Kenapa kamu ngelakuin ini semua sih.”

Ada jawaban yang benar dan aku tahu persis apa jawaban yang benar.

“Rantainya putus,” kataku. “Aku benerin, ya.”

Dia menatapku.

“Itu udah kamu benerin. Itu udah selesai.”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu bilang gitu sekarang?”

Aku tidak punya jawaban untuk itu.

Aku berdiri, mengambil tas, dan bilang aku pulang. Dia tidak menahan. Dia cuma berdiri di teras sambil memegang baskom, dan waktu aku sudah sampai pagar, dia berkata satu kalimat yang aku pikirkan sepanjang jalan pulang dan sepanjang malam dan sepanjang minggu berikutnya:

“Al, kamu tuh capek nggak sih jadi orang kayak gitu terus?”

Aku bilang tidak.

Aku bohong, dan itu bohong yang paling gampang aku ucapkan seumur hidupku.