← Setengah Detik

Chapter Seven

Lima Sentimeter

POV: Alvaro


Ada minggu-minggu di sekolah yang bikin orang lupa bahwa sekolah itu tempat belajar.

Minggu itu salah satunya. Pentas seni tinggal sembilan hari, dan seksi perlengkapan mendadak jadi jabatan paling penting di gedung ini. Semua orang tiba-tiba tahu di mana ruang perlengkapan. Semua orang tiba-tiba tahu namaku.

“Mas, kabel roll-nya ada berapa?”

“Empat.”

“Kurang.”

“Ya.”

“Bisa ditambah?”

“Nggak.”

“Kok nggak bisa?”

“Karena adanya empat.”

Anak itu pergi dengan wajah seperti aku baru saja menolak permohonan naik banding.

Bagas datang sepuluh menit kemudian membawa daftar kebutuhan sepanjang dua halaman, yang setengahnya barang yang tidak ada, dan sepertiganya barang yang tidak pernah ada di sekolah mana pun.

“Mesin asap?”

“Iya.”

“Kita nggak punya mesin asap.”

“Ya makanya aku tanya.”

“Bagas.”

“Ya?”

“Kalau kita nggak punya, ngapain ditulis.”

“Biar kelihatan usaha.”

Aku mencoret tujuh baris dengan satu garis panjang dan menyerahkannya kembali.


Aku tidak pulang sampai jam tujuh malam selama empat hari berturut-turut.

Bukan karena harus. Karena kalau aku pulang, besok pagi tumpukannya lebih tinggi, dan aku lebih suka mengerjakan sesuatu sampai selesai daripada memikirkannya dua kali.

Malam keempat, hari Kamis, ruang perlengkapan sudah berubah bentuk. Kursi lipat dipindah ke aula. Kardus dibongkar semua. Ada tiga gulung kabel di lantai yang sedang aku periksa satu per satu, mencari titik yang isolasinya sudah retak, karena kabel roll yang dipakai untuk sound system itu urusannya bukan cuma nyala atau tidak nyala.

Zara datang jam setengah enam, membawa dua bungkus nasi.

“Aku nggak nyuruh,” kataku.

“Aku nggak nanya.”

Dia menaruh satu di meja, di depanku, lalu duduk di tumpukan kursi lipat — yang sekarang tinggal satu tumpukan, jadi lebih rendah dari biasanya, jadi dia duduk lebih dekat ke lantai dan lebih dekat ke aku.

“Kamu dari tadi di sini?”

“Dari jam tiga.”

“Sekarang jam setengah enam.”

“Iya.”

“Kamu tuh kenapa sih.”

Aku membuka bungkus nasi itu dengan satu tangan sambil tangan yang lain masih memegang kabel, dan dia menghela napas dan mengambil alih bungkusnya dan membukanya untuk aku, sambil mengomel soal orang yang tidak bisa berhenti satu menit.

Aku tidak protes.

Aku sudah lama berhenti protes soal hal-hal kecil, karena aku sudah menyadari bahwa dia tidak akan berhenti, dan karena — dan ini bagian yang aku sesali — aku tidak benar-benar ingin dia berhenti.


Jam tujuh, listrik koridor dimatikan otomatis. Ruang perlengkapan punya sakelar sendiri, jadi kami masih terang, tapi dari pintu kelihatan koridor sudah hitam.

Zara sudah tidak bicara sejak dua puluh menit yang lalu.

Aku pikir dia main HP. Waktu aku menoleh, HP-nya sudah tergeletak di pangkuannya, layarnya mati, dan kepalanya sudah miring ke arah dinding.

Tidur.

Aku berhenti bergerak, karena orang yang baru tidur itu gampang bangun.

Aku memandanginya sekitar tiga detik, yang aku sadar berlebihan, lalu kembali ke kabel.

Aku sudah memeriksa dua meter berikutnya waktu kepalanya bergerak.

Orang yang tidur duduk tidak diam. Kepalanya turun sedikit demi sedikit, lalu tersentak, lalu turun lagi. Dan tumpukan kursi lipat itu rendah, dan bahuku ada di ketinggian yang salah, dan arah miringnya bukan ke dinding lagi.

Ke aku.

Aku bisa mengukurnya. Sepuluh sentimeter. Lalu delapan.

Dia bergerak lagi. Enam.

Aku duduk sangat diam, dengan kabel di tangan, dan menghitung jarak antara pelipisnya dan bahuku seperti orang menghitung sisa bahan bakar.

Lima.

Dan aku bergeser.

Lima sentimeter ke kanan, pelan sekali, supaya kursinya tidak bunyi.

Kepalanya turun ke ruang kosong yang baru saja aku buat, tidak menemukan apa-apa, dan tersentak bangun.

“—hah?”

“Ketiduran.”

Dia mengerjap tiga kali, memegang lehernya, dan melihat sekeliling seperti orang yang perlu memastikan dia masih di planet yang sama.

“Aku ketiduran?”

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Dua puluh menit.”

“Kenapa nggak dibangunin?”

“Kamu capek.”

“Kamu juga capek.”

“Aku kerja.”

“Kerja itu capek, Al. Itu definisi capek.”

Dia meregangkan lehernya dan meringis. “Aduh. Kaku.”

“Sandarannya nggak ada.”

“Iya, ini kursi kok ditumpuk sih.”

“Karena kursi lipat.”

“Kamu tuh—“ Dia menunjuk aku dengan jari, lalu tidak menemukan lanjutannya, lalu menurunkan tangannya lagi. “Ya udah.”

Dia mengambil tasnya. Dia berhenti di pintu.

“Al.”

“Hm.”

“Besok kamu pulang jam berapa?”

“Nggak tahu.”

“Kalau aku dateng jam lima, kamu masih di sini?”

Aku memeriksa satu meter kabel berikutnya.

“Iya.”

Dia pergi.


Aku duduk di ruangan itu selama sepuluh menit sesudahnya tanpa mengerjakan apa-apa, yang merupakan sepuluh menit paling tidak produktif dalam hidupku.

Aku memikirkan lima sentimeter itu.

Bukan karena aku menyesal. Aku tidak menyesal. Aku akan melakukannya lagi besok kalau perlu, dan lusa, dan seterusnya, karena itu satu-satunya hal yang benar untuk dilakukan.

Dia bukan siapa-siapaku.

Dia datang ke ruangan ini karena ruangan ini sepi. Dia bawa nasi karena dia kasihan. Dia ketiduran karena dia capek, dan bahuku kebetulan ada di sebelah kirinya, dan kebetulan itu bukan izin.

Kalau aku diam saja, dan dia bangun dalam posisi itu, dan dia canggung — maka dia berhenti datang.

Dan aku tidak mau dia berhenti datang.

Jadi lima sentimeter itu bukan pengorbanan. Itu perhitungan. Aku menukar satu hal yang tidak akan pernah aku dapat lagi, dengan hak untuk duduk di ruangan yang sama seminggu lagi.

Aku memikirkannya sekali lagi, memutuskan bahwa aku benar, dan kembali ke kabel.

Aku menemukan titik yang retak di gulungan ketiga, di meter kesebelas, isolasinya sudah pecah dan tembaganya kelihatan.

Aku memotongnya, menyambung ulang, dan membungkusnya rapat.

Kabel itu dipakai tiga hari kemudian untuk sound system pentas seni, empat jam nonstop, dan tidak terjadi apa-apa sama sekali. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang perlu tahu.

Itu memang cara kerjanya.


Malamnya, di rumah, aku baru sadar aku belum makan nasi bungkus yang dia bawa.

Nasinya sudah dingin dan sudah tidak enak.

Aku memakannya sampai habis.