Chapter Twenty Two
Api Unggun
POV: Zara
Malam itu tidak direncanakan.
Yang direncanakan cuma bakar jagung, karena Bu Sarni panen dan karena sepuluh mahasiswa yang sudah dua bulan makan menu yang sama akan melakukan apa saja demi variasi.
Yang terjadi adalah api unggun di halaman belakang, jam delapan malam, dengan sepuluh orang duduk melingkar di atas terpal dan tiga warga yang ikut nimbrung dan Pak Karso yang datang membawa singkong lalu pulang lagi karena besok pagi harus ke sawah.
Malamnya bagus. Itu yang bikin aku ingat semuanya sampai sekarang.
Tidak hujan untuk pertama kalinya dalam sembilan hari. Langitnya bersih dan bintangnya banyak sekali dengan cara yang tidak pernah terjadi di kota. Api unggunnya kecil dan hangat dan bikin semua orang duduk lebih dekat.
Alvaro tidak ada.
Dia keluar jam setengah delapan, membawa senter dan tas perkakas, karena genset cadangan yang baru dipinjam dari kecamatan bunyinya tidak beres dan besok harus dipakai untuk pengelasan tiang.
“Lama?” tanya Oliv.
“Sejam.”
“Makan dulu.”
“Nanti.”
Dan dia pergi ke gudang belakang, dan bunyi gensetnya mulai terdengar sepuluh menit kemudian — hidup, mati, hidup, mati — bunyi latar yang berlangsung sepanjang malam itu tanpa ada yang memperhatikan.
Aku memperhatikan.
Aku sudah mulai memperhatikan hal-hal seperti itu, dan aku belum mau memikirkan kenapa.
Cerita SMA selalu keluar di malam kesembilan atau kesepuluh sebuah perkumpulan. Itu hukum alam.
“Reza, kamu dulu SMA gimana?”
“Aku? Populer.”
“Ngaku sendiri.”
“Ya emang.”
“Buktinya?”
“Buktinya aku sekarang bisa ngomong sama kalian tanpa gemeteran.”
“Itu bukan bukti, itu penyakit.”
Reza tertawa paling keras, seperti biasa, atas leluconnya sendiri.
“Alvaro gimana?” tanya seseorang. “Dari dulu emang kayak gitu?”
Dan aku merasakan sesuatu di perutku sebelum Reza membuka mulut, dan aku tidak tahu kenapa.
“Alvaro?” Reza duduk lebih tegak. “Alvaro tuh dari SMA udah jadi tukang. Serius. Semua barang di sekolah dia yang benerin.”
“Bukan OSIS?”
“OSIS. Tapi bagian perlengkapan. Yang nggak ada yang mau.”
“Dia mau?”
“Dia yang minta.”
Semua tertawa.
“Ada satu cerita legendaris,” lanjut Reza, dan aku bisa melihat dia sudah masuk ke mode bercerita, badan condong ke depan, tangan mulai bergerak. “Jadi ada kipas rusak di kelas dua belas IPA tiga—“
“Sebelas IPS satu.”
Semua kepala menoleh ke aku.
Aku menutup mulutku setengah detik terlambat.
“Nah iya,” kata Reza, sama sekali tidak curiga. “Bener. IPS satu. Kelasnya Zara.”
“Terus?”
“Terus dia manjat pakai tangga—“
“Meja.”
“...Meja. Iya. Meja.” Reza menunjuk aku dengan jagung. “Kamu inget banget ya.”
“Ya kelasku.”
“Terus dia jatuh. Bunyinya kayak lemari roboh. Satu sekolah denger.”
“Satu kelas.”
“SATU SEKOLAH,” kata Reza, karena dia tidak akan pernah menyerahkan bagian terbaik dari ceritanya.
Semua tertawa. Aku juga tertawa. Aku ingat aku tertawa, dan aku ingat itu tawa yang sungguhan.
Itu bagian terakhir malam itu yang aku ingat sebagai menyenangkan.
“Tapi ada yang lebih lucu,” kata Reza.
“Apa?”
“Ini nggak ada yang tahu. Serius. Ini aku dapet dari Bagas, temen kita satu lagi.”
“Bagas siapa?”
“Nggak penting. Pokoknya.”
Dia melempar bonggol jagung ke api dan menyandarkan tangannya ke belakang.
“Jadi si Alvaro ini,” katanya, “seumur hidupnya, sekali doang mau nembak orang.”
Aku berhenti mengunyah.
“Sekali doang?”
“Sekali. Kelas dua belas. Dan itu pun batal.”
“Batal gimana?”
“Ya batal. Nggak jadi ngomong.”
“KENAPA?”
“Nah, itu dia. Nggak ada yang tahu.” Reza mengangkat bahu. “Yang aku tahu cuma versi Bagas. Katanya si Alvaro udah nyiapin dari jauh-jauh hari. Udah latihan. Udah bawa barang di tas seharian, katanya. Terus dia janjian ketemu di gudang perlengkapan, sore, sebelum pulang.”
Api unggunnya berbunyi.
“Terus?”
“Terus dia pulang,” kata Reza. “Barangnya masih di tas. Nggak pernah dikasih.”
“YAH.”
“Kasihan banget.”
“Terus orangnya siapa?”
Reza tertawa. Tertawa beneran, tanpa beban, dengan mulut penuh jagung.
“Nah, itu yang paling parah,” katanya. “Sampai sekarang aku nggak tahu. Bagas juga nggak tahu. Dia nggak pernah mau bilang. Delapan tahun kenal, dan sampai sekarang aku nggak tahu si Alvaro dulu suka sama siapa.”
Aku ingin mencatat, dengan sejelas mungkin, apa yang terjadi di kepalaku dalam empat detik berikutnya.
Karena empat detik itu adalah empat detik terpenting dalam hidupku dan aku tidak menyadarinya waktu itu.
Detik pertama, aku menghitung tempat. Gudang perlengkapan. Ruangan itu cuma dipakai satu orang dan cuma satu orang yang punya kuncinya, dan aku ada di sana hampir tiap hari selama dua tahun.
Detik kedua, aku menghitung waktu. Kelas dua belas. Sore. Sebelum pulang.
Detik ketiga, aku menghitung siapa. Kalau dia janjian ketemu di gudang perlengkapan sore itu, artinya ada orang yang datang ke gudang perlengkapan sore itu.
Dan aku tahu persis siapa yang datang ke gudang perlengkapan sore itu, karena akulah yang datang, dan aku ingat sore itu, dan aku ingat semuanya tentang sore itu karena sore itu adalah sore di mana aku bilang aku suka Reza.
Detik keempat.
Detik keempat aku tidak menghitung apa-apa.
Detik keempat aku cuma duduk di terpal dengan jagung setengah dimakan di tanganku dan mendengar bunyi genset dari gudang belakang — hidup, mati, hidup — sementara seseorang di sebelahku bertanya “kok bisa nggak jadi sih” dan Reza menjawab sesuatu yang tidak sampai ke telingaku sama sekali.
Aku mendongak.
Dan aku melihat dua hal.
Yang pertama: Reza berhenti tertawa.
Dia masih memegang jagung. Mulutnya masih setengah terbuka dari kalimat terakhirnya. Dan dia sedang melihat aku — bukan dengan curiga, bukan dengan tuduhan, tapi dengan wajah orang yang sedang menyusun sesuatu dan menemukan bahwa potongannya muat.
Aku melihat momen itu terjadi di wajahnya. Aku melihat delapan tahun pertemanan dan satu sore di gudang perlengkapan bertemu di kepalanya, dan aku melihat detik di mana dia sadar apa yang baru saja dia ucapkan, dan kepada siapa.
Warna wajahnya berubah.
“Za—“
Dia tidak menyelesaikan namaku.
Yang kedua, dan yang butuh waktu lebih lama untuk aku sadari: Oliv juga melihat aku.
Oliv duduk di seberang api, dan Oliv sudah melihat aku sejak sebelum Reza berhenti bicara.
Dia tidak kaget. Wajahnya tidak berubah sama sekali.
Dia cuma menatapku dengan tenang, dari seberang api unggun, dengan tatapan seseorang yang baru saja menerima jawaban dari pertanyaan yang sudah lama dia simpan, dan yang jawabannya ternyata persis seperti yang dia takutkan.
Kami bertiga diam.
Tujuh orang lain tidak.
“Ya udah sih, namanya juga nggak berani.” “Kasihan banget itu ceweknya juga nggak tahu.” “Untung nggak jadi. Kalau jadi terus ditolak, malu.”
Setiap kalimat itu masuk ke telingaku dan berbunyi seperti benda jatuh.
Ipeh yang memecahnya.
“Aku dulu nembak lewat surat,” katanya, keras, dengan timing yang terlalu cepat.
“Terus?”
“Dibales ‘ok’.”
“OK DOANG?”
“Ok titik.”
Semua tertawa, dan tawanya panjang, dan tawanya menyelamatkan malam itu di mata delapan orang.
Ipeh tidak tertawa.
Dia menyodorkan botol air ke tanganku tanpa melihat ke arahku, di bawah level pinggang, di mana tidak ada yang bisa lihat.
Aku menerimanya dan tidak minum.
Genset itu menyala jam setengah sepuluh.
Bunyinya berubah dari hidup-mati-hidup jadi satu bunyi panjang yang stabil, dan lampu-lampu di halaman belakang yang tadi mati ikut menyala, dan seluruh halaman jadi terang.
Sepuluh orang di sekitar api unggun bersorak dan menoleh ke arah lampu.
Aku tidak menoleh ke arah lampu.
Aku menoleh ke arah gudang.
Dia keluar sambil melap tangan ke kain, dengan senter terselip di ketiak, dan berjalan pelan ke arah api unggun seperti orang yang tidak sedang membawa apa-apa.
“Udah?” tanya Oliv.
“Udah. Karburatornya kotor.”
“Makan.”
“Iya.”
Dia duduk di sisi lain lingkaran, di tempat kosong yang paling dekat dengan tempat dia berdiri, dan mengambil jagung dari nampan.
Dia melihat sekeliling sekali.
Dan aku tahu — aku tahu, dengan cara yang tidak bisa aku buktikan — bahwa dia menyadari ada yang berbeda di lingkaran itu, karena dia orang yang menyadari kalau ada satu kipas dari empat yang mati.
“Kenapa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa,” kata Reza. Terlalu cepat.
Alvaro menoleh ke Reza.
Lalu dia menggigit jagungnya dan tidak bertanya lagi.
- 1 Kipas Angin Kelas Sebelah
- 2 Obeng Plus, Gagang Kuning
- 3 Ruangan yang Bau Debu
- 4 Dua Detik
- 5 Satu Kata
- 6 Jaket Bengkel
- 7 Lima Sentimeter
- 8 Kotak Musik
- 9 Rantai
- 10 Sepuluh Sentimeter
- 11 Setengah Detik
- 12 Yang Bisa Dibenerin
- 13 Kelompok Empat
- 14 Ditaruh di Meja
- 15 Bahasa yang Aku Nggak Ngerti
- 16 Tudung
- 17 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 18 Tiga Tahun
- 19 Punggung Tangan
- 20 Air
- 21 Dua Detik Lagi
- 22 Api Unggun reading
- 23 Yang Aku Tahu Sejak Awal
- 24 Hitungan Mundur
- 25 Alasan Nomor Enam
- 26 Obeng Baru
- 27 Nggak Bisa
- 28 Sandal
- 29 Salah Orang
- 30 Duduk
- 31 Zara
- 32 Pagi Pertama
- 33 Asisten
- 34 Payung yang Sama
- 35 Yang Harus Diselesaikan
- 36 Api Unggun Kedua
- 37 Datar
- 38 Empat Puluh Delapan Rumah