← Setengah Detik

Chapter Three

Ruangan yang Bau Debu

POV: Zara


Ruang perlengkapan itu ada di ujung koridor belakang, di sebelah gudang alat kebersihan, dan sebelum minggu ini aku bahkan tidak tahu ruangan itu ada.

Sekarang aku ke sana empat kali dalam enam hari.

“Kamu ke sana lagi?” Ipeh menaruh dagunya di meja, matanya menyipit. “Kemarin juga.”

“Kemarin aku minjem kunci aula.”

“Buat apa?”

“Buat—“ Aku berhenti. “Buat lihat aula.”

Ipeh diam. Ipeh punya cara diam yang lebih menuduh daripada kalau dia ngomong.

“Aulanya kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu lihat aula.”

“Iya.”

“Aula yang kamu udah lihat tiap hari Senin selama dua tahun.”

“Ipeh.”

“Aku cuma mengulang informasinya,” katanya, sambil membuka bungkus roti dengan gerakan santai orang yang sudah menang. “Biar jelas.”


Alasan sebenarnya jauh lebih memalukan dari itu, dan alasan sebenarnya adalah: ruangan itu enak.

Bukan enak yang bagus. Ruangan itu bau debu dan karet, isinya kursi lipat setinggi manusia, kabel-kabel yang digulung dan digantung di paku, kardus-kardus dengan tulisan spidol yang setengahnya sudah pudar. Ada satu kipas berdiri di pojok yang jelas-jelas rusak dan tidak pernah dibuang.

Yang enak adalah tidak ada yang mencariku di sana.

Kalau aku duduk di kantin, ada yang datang. Kalau aku duduk di taman, ada yang datang. Kalau aku duduk di kelas pun ada yang datang, membawa pertanyaan yang jawabannya sudah mereka tahu, cuma butuh alasan untuk berdiri di sebelah mejaku selama tiga menit.

Aku tidak marah soal itu. Sungguh. Cuma capek.

Di ruang perlengkapan, ada satu orang, dan orang itu tidak pernah menoleh waktu aku masuk.


“Boleh masuk?”

“Udah masuk.”

Aku duduk di atas tumpukan kursi lipat, yang sebenarnya bukan tempat duduk, tapi tidak ada tempat duduk lain.

Alvaro sedang membongkar sesuatu di meja. Sesuatu yang berbentuk kotak, hitam, dengan kabel keluar dari belakangnya. Dia tidak menjelaskan itu apa dan aku tidak bertanya, karena kalau aku bertanya dia akan menjawab dalam dua kata dan aku tetap tidak akan mengerti.

“Kamu tiap hari di sini?”

“Nggak.”

“Kemarin di sini. Kemarinnya lagi juga.”

“Berarti dua hari.”

“Terus tadi pagi?”

“Tiga hari.”

“Nah.”

“Tiga hari bukan tiap hari.”

Aku melempar tutup botol ke arahnya. Meleset jauh sekali, dan mengenai kardus bertuliskan TAPLAK (KOTOR).

Dia memungutnya, menaruhnya di meja, dan tidak melempar balik. Dia juga tidak protes. Dia cuma menaruhnya di meja seperti barang yang perlu disimpan.

Itu satu hal yang aku perhatikan sejak hari pertama: dia tidak pernah membuang apa pun.


Yang paling aneh dari Alvaro — dan aku sudah memikirkan ini selama enam hari, yang menurutku jumlah waktu yang tidak wajar — adalah dia tidak gugup.

Aku tahu ini kedengarannya sombong. Aku tidak bermaksud sombong. Tapi aku sudah delapan belas tahun hidup dengan wajah ini dan aku hafal urutannya: orang menoleh, orang berhenti bicara sebentar, orang mengecek rambutnya sendiri tanpa sadar, lalu orang mulai terlalu ramah.

Guru pun begitu. Satpam pun begitu. Ibu-ibu di warung depan gang pun begitu.

Alvaro tidak.

Waktu aku masuk, dia melirik sekali untuk memastikan ada orang, lalu kembali ke pekerjaannya. Waktu aku ngomong, dia menjawab pendek. Waktu aku diam, dia juga diam, dan diamnya tidak canggung, seolah dua orang diam di satu ruangan itu memang kegiatan yang normal.

Bagian dari diriku yang sudah lelah merasa lega.

Bagian lain dari diriku — bagian yang lebih kecil, yang aku tidak akan akui ke Ipeh sampai mati — agak tersinggung.

“Al.”

“Hm.”

“Kamu nggak nanya kenapa aku ke sini terus?”

“Nggak.”

“Kenapa nggak?”

Dia memutar sekrup terakhir dan menutup kotak hitam itu.

“Kamu bakal cerita sendiri kalau mau.”

Aku membuka mulut untuk membalas, lalu menyadari bahwa itu jawaban yang sangat sulit dibantah, lalu menutup mulutku lagi.

“Kamu ngeselin.”

“Ya.”


Bel terakhir sudah lewat empat puluh menit yang lalu waktu kami dengar sepatu bot di koridor.

Bunyi sepatu bot di sekolah ini cuma punya satu pemilik.

Aku berdiri dari tumpukan kursi lipat begitu cepat sampai kursinya bergeser dan bunyi. Alvaro menoleh ke pintu, lalu ke aku, lalu — dan ini bagian yang bikin aku tidak percaya — dia mulai jalan ke arah pintu.

“Eh.” Aku berbisik. “Eh, eh, eh.”

“Kenapa.”

“Itu Pak Hasan.”

“Iya.”

“Pak Hasan, Al.”

“Aku tahu.”

“Kamu mau ke mana?”

“Ngunci pintu.”

“Pintunya kalau kamu buka dia lihat kamu!”

“Aku emang boleh di sini.”

“Aku enggak!”

Dia berhenti. Kedengarannya baru saat itu informasi itu masuk ke kepalanya, dan aku sempat berpikir betapa luar biasanya seseorang bisa sepintar itu soal kabel dan sebodoh itu soal manusia.

Bunyi sepatu bot makin dekat.

Aku menarik lengan seragamnya.

Aku tidak merencanakan itu. Tanganku bergerak duluan, mencengkeram bahan seragam di dekat sikunya, dan menariknya mundur dua langkah ke belakang rak kabel — ke sudut ruangan yang tidak kelihatan dari jendela pintu.

Kami berdiri di situ. Aku masih memegang lengan seragamnya.

Senter Pak Hasan menyapu jendela pintu satu kali. Berhenti. Lalu bergerak lagi.

Sepatu botnya menjauh.

Aku menghitung sampai sepuluh sebelum berani menghela napas.

“Udah,” bisikku.

“Iya.”

“Ngeri banget.”

“Kamu yang panik.”

“Ya karena kamu enggak!”

Aku baru sadar aku masih memegang lengannya, dan aku melepasnya dengan gerakan yang jauh lebih pelan daripada yang seharusnya, dan aku berharap dia tidak menghitung.

Dia tidak bilang apa-apa.

Wajahnya juga tidak berubah sama sekali — masih datar, masih Alvaro. Tapi dia berdiri di situ satu detik lebih lama dari yang perlu sebelum akhirnya jalan ke pintu dan mengunci ruangan dari dalam, dan aku tidak tahu kenapa aku mencatat itu.

“Besok pintunya aku kunci dari awal,” katanya.

“Kenapa?”

“Biar kamu nggak panik.”

Aku menatap punggungnya.

“Besok?”

Dia berhenti sebentar, dengan tangan masih di kunci.

“Kalau kamu datang.”


Aku pulang jalan kaki sampai gerbang, sendirian, sambil mikir.

Yang aku pikirkan bukan Pak Hasan, dan bukan juga tangan yang menarik lengan seragam orang.

Yang aku pikirkan adalah: dia bilang kalau kamu datang. Bukan kalau kamu mau datang, bukan datang aja, bukan terserah.

Kalau kamu datang. Seolah dia sudah tahu jawabannya dan cuma sedang bersopan-sopan.

Dan yang paling bikin kesal — dia benar.

Aku sudah tahu aku akan datang besok, dan aku bahkan belum punya alasannya.