← Setengah Detik

Chapter Five

Satu Kata

POV: Alvaro


Reza Alfarizi punya kemampuan yang tidak dimiliki manusia lain, yaitu bisa mengubah pekerjaan sepuluh menit jadi empat puluh menit sambil membuat semua orang senang.

“Fa.” Dia menaruh satu galon air di lantai aula, salah tempat. “Fa, dengerin.”

“Itu bukan di situ.”

“Iya nanti. Dengerin dulu.”

“Nanti kamu lupa.”

“Aku nggak pernah lupa.”

Aku menunjuk galon yang dia taruh salah tempat minggu lalu, yang sampai sekarang masih di sana.

“Itu sengaja,” katanya.

Aku mengangkat kursi lipat berikutnya.

Reza itu satu-satunya orang yang bisa masuk ke ruang perlengkapan tanpa mengetuk dan tidak membuatku terganggu. Kami sekelas waktu kelas sepuluh. Waktu itu dia sudah punya delapan puluh teman dan aku punya nol, dan entah bagaimana dia memutuskan bahwa itu masalah pribadinya.

Dia tidak pernah menyerah. Itu kelemahan sekaligus kelebihannya.

“Jadi gini,” katanya, mengambil kursi lipat dan membawanya dengan gaya yang tidak efisien sama sekali. “Aku dapet info.”

“Nggak usah.”

“Info bagus.”

“Reza.”

“Sebelas IPS satu ada acara nonton bareng Sabtu.”

“Ya.”

“Kita diundang.”

“Kamu diundang.”

“Ya sama aja.” Dia menaruh kursinya di tumpukan, miring, dan aku harus membetulkannya sesudah dia pergi, seperti biasa. “Fa, kamu ini kalau nggak aku seret ke mana-mana, kamu bakal lulus SMA tanpa ada yang tahu nama kamu.”

“Nggak apa-apa.”

“Itu bukan jawaban orang normal.”

Aku mengangkat tiga kursi sekaligus. Reza mengangkat satu, dan berhenti di tengah jalan untuk membalas chat.


Kami membawa kursi-kursi itu ke lantai dua lewat tangga barat, yang sempit dan berbelok di tengah dan tidak pernah cukup untuk dua orang berpapasan sambil bawa barang.

Aku di depan. Reza di belakang, masih bicara.

“Jadi kata anak-anak, yang milih filmnya Zara. Dan dia milih film horor. Padahal—“

Aku berhenti mendadak di belokan, dan Reza menabrak punggungku.

“Woy.”

“Ada orang.”

Ada tiga orang turun dari atas, dan tangga itu sudah tidak muat.

Aku menempel ke dinding, memutar tumpukan kursi supaya vertikal. Reza melakukan hal yang sama di belakangku, dengan lebih banyak bunyi.

Tiga orang itu turun berurutan. Yang pertama bilang permisi. Yang kedua bilang makasih, Mas.

Yang ketiga berhenti.

“Al?”

“Iya.”

“Kamu ngapain bawa kursi sebanyak itu?”

“Bawa kursi.”

Zara membuka mulut, lalu menutupnya, lalu memilih untuk tidak melanjutkan.

Tangga itu benar-benar sempit. Dua orang di anak tangga yang sama, satu naik satu turun, dengan tumpukan kursi di antara kami — sebenarnya tidak ada cara untuk lewat tanpa bersentuhan.

Bahunya kena bahuku waktu dia lewat.

Bukan senggolan. Kena, menempel, bergeser sepanjang setengah langkah, lalu lepas.

Dia tidak berhenti. Dia sudah tiga anak tangga di bawah waktu dia menoleh dan bilang, “Sabtu dateng, ya.”

“Lihat nanti.”

“Itu artinya enggak.”

“Itu artinya lihat nanti.”

“Al.”

“Lihat nanti.”

Dia mendengus dan turun sambil bilang sesuatu ke temannya yang membuat temannya tertawa, dan suaranya menghilang di lantai bawah.

Aku meneruskan naik.

Aku sadar aku tidak menghitung apa-apa, dan aku sadar bahwa menyadari itu artinya aku memang sedang menghitung, dan aku memutuskan untuk berhenti memikirkan seluruh urusan ini.


Kami menaruh kursi-kursi itu di ruang OSIS lantai dua. Reza duduk di salah satunya, langsung, seolah kursi itu memang dibawa naik untuk pantatnya.

“Fa.”

“Hm.”

“Zara cantik banget, ya.”

Aku sedang menghitung ulang jumlah kursi.

“Iya,” kataku.

“Serius. Kayak nggak nyata.”

“Iya.”

“Kalau dia lewat itu, semua orang diem dulu satu detik. Kamu perhatiin nggak?”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Aku lagi ngitung.”

“Ngitung apa?”

“Kursi.”

Reza tertawa dan menendang kaki kursi di depannya. “Kamu tuh ya. Kadang aku ngerasa kamu bukan manusia.”

Aku menulis angka tiga puluh empat di buku inventaris.

Yang tidak aku katakan ke Reza, dan yang tidak akan pernah aku katakan ke siapa pun, adalah bahwa “iya” itu kata yang paling berbahaya yang aku ucapkan sepanjang hari.

Karena kalau aku bilang tidak, Reza akan bertanya kenapa.

Kalau aku diam, Reza akan curiga.

Kalau aku bilang iya dengan nada datar, Reza akan menganggapnya selesai, dan Reza memang menganggapnya selesai, dan dia sudah pindah ke topik lain sebelum aku menulis angka berikutnya.

Itu cara paling murah untuk menyembunyikan sesuatu: setuju.


“Fa.”

“Hm.”

“Kamu pernah suka orang nggak sih?”

Pensilku tidak berhenti. Aku memastikan pensilku tidak berhenti.

“Nggak.”

“Seumur hidup?”

“Nggak.”

“Nggak mungkin.”

“Ya.”

“Nggak mungkin, Fa. Umur delapan belas. Nggak pernah sekali pun?”

Aku menutup buku inventaris.

“Ngapain.”

“Ngapain gimana?”

“Ngapain suka orang.”

Reza menatapku selama tiga detik penuh, dan untuk pertama kalinya sore itu, dia tidak punya bahan untuk bercanda.

“Kadang aku kasihan sama kamu,” katanya akhirnya.

“Jangan.”

“Bukan kasihan yang jelek. Kasihan yang...” Dia menggerakkan tangannya, mencari kata, dan tidak menemukannya. “Ya kasihan aja.”

“Kursinya tiga puluh empat,” kataku. “Yang diminta empat puluh.”

“Terus?”

“Berarti kurang enam.”

“Ya ambil lagi.”

“Ya makanya.”

Dia mengeluh panjang dan berdiri, dan kami turun lagi ke aula, dan dia mulai cerita soal hal lain sebelum kami sampai di lantai dasar.

Itu satu hal yang aku syukuri dari Reza. Dia tidak pernah menyimpan pertanyaan. Semua yang ada di kepalanya keluar dalam waktu tiga detik, dan begitu keluar, dia lupa.

Aku sempat berpikir itu sifat yang aman.


Sabtu itu aku tidak datang ke acara nonton bareng.

Aku di bengkel, ganti kampas rem, dan HP-ku ada di rak alat dalam posisi tengkurap sampai jam sembilan malam.

Waktu aku balik, ada empat pesan.

Yang pertama dari Reza: fa serius lo gadateng Yang kedua dari Reza: filmnya jelek bgt btw Yang ketiga dari Reza: zara nanyain lo dua kali

Yang keempat dari nomor yang tidak tersimpan, yang aku tahu nomor siapa karena dia pernah menuliskannya di buku pengaduan dengan tulisan yang terlalu besar.

Katanya lihat nanti.

Aku menatap layar itu lebih lama dari yang perlu.

Lalu aku menaruh HP-nya kembali di rak alat, tengkurap, dan meneruskan ganti kampas rem sampai jam sebelas.

Aku tidak membalas malam itu.

Aku membalas jam enam pagi, satu kata, dan aku menghabiskan waktu yang memalukan lamanya untuk memilih satu kata itu.

Maaf.

Balasannya datang dalam dua belas detik, yang artinya dia sudah bangun, atau belum tidur.

Ganti rugi. Senin. Aku mau lihat bengkel kamu.