← Setengah Detik

Chapter Thirty One

Zara

POV: Alvaro


Tanganku ada di tangannya dan aku tidak melepasnya.

Aku sudah melepas satu kali. Aku tahu cara melakukannya. Aku tahu urutannya, aku tahu berapa lama, aku tahu apa yang harus aku lakukan sesudahnya supaya bisa tidur.

Aku tidak melakukannya.

Dan begitu detik ketiga lewat tanpa aku melakukannya, seluruh sistem yang aku bangun selama tiga tahun berhenti bekerja sekaligus, seperti panel yang breaker utamanya turun.

Semua aturan itu saling mengunci. Jangan menyentuh, jangan menghitung, jangan berdua. Kalau satu jatuh, tidak ada yang menahan yang lain.

Aku sudah menyentuh. Aku sudah menghitung sejak bulan pertama. Dan aku sedang duduk di lantai kayu, di gelap, berdua.


“Al.”

“Hm.”

“Kamu bilang ‘nggak bisa’.”

“Iya.”

“Aku mau tahu nggak bisanya kenapa.”

Aku memikirkan berbagai cara untuk tidak menjawab.

Aku punya banyak. Aku sudah menyusunnya selama tiga tahun dan sebagian besar sudah teruji.

Yang aku sadari malam itu — di lantai kayu, dengan lilin kuning di ujung ruangan yang tidak sampai ke tempat kami — adalah bahwa semua cara itu dibuat untuk orang yang tidak akan bertanya dua kali.

Dia sudah bertanya dua puluh kali.

“Karena kamu nggak akan percaya,” kataku.

“Coba.”

“Zhafira—“

“Coba, Al.”


Aku bicara lebih banyak malam itu daripada yang aku ucapkan dalam satu bulan biasa, dan aku mengucapkannya dengan buruk, dan aku berhenti berkali-kali di tengah.

Aku akan menulisnya di sini seperti aku mengucapkannya.

“Orang datang ke aku kalau ada yang rusak.”

Diam.

“Itu bukan keluhan. Aku nggak keberatan. Aku emang bisanya itu.”

Diam.

“Tapi kalau kamu sepuluh tahun jadi orang yang didatengin karena ada yang rusak, lama-lama kamu nggak bisa bedain lagi.”

“Bedain apa?”

“Antara orang yang dateng ke aku,” kataku, “sama orang yang dateng ke yang bisa aku benerin.”

Aku merasakan tangannya berhenti bergerak.

“Waktu kamu di gudang solar,” lanjutku, “aku mikir: dia baru tahu. Dia baru dengar cerita Reza. Dia ngerasa nggak enak.”

“Al—“

“Dan itu bukan salah kamu. Itu emang kelihatannya begitu.”

“Kelihatannya begitu buat kamu.”

“Iya,” kataku. “Buat aku.”

Kami diam.

“Terus?” katanya.

“Terus aku mikir kalau aku bilang iya, terus tiga bulan lagi kamu sadar itu bukan suka, itu kasihan—“ Aku berhenti. Aku benar-benar berhenti, karena kalimat itu tidak mau selesai.

“Terus apa?”

“Terus aku nggak akan sanggup.”


Aku belum pernah mengatakan itu ke siapa pun.

Bukan ke Bagas, bukan ke Reza, bukan ke Oliv, bukan ke Bapak. Bahkan ke diriku sendiri aku tidak pernah mengucapkannya sejelas itu, karena selama aku tidak mengucapkannya, aku bisa berpura-pura bahwa aku menolak semua orang karena aku memang tidak tertarik.

Aku menolak empat orang karena aku pengecut.

Itu kalimat yang jauh lebih pendek dan jauh lebih benar dan aku baru menyadarinya di lantai kayu jam sepuluh malam di ketinggian tujuh ratus meter.

“Al,” katanya. “Aku mau tanya satu hal. Kamu boleh nggak jawab.”

“Ya.”

“Waktu di gudang perlengkapan. Kalau aku diem satu detik lagi. Kamu mau ngomong apa?”


Aku memikirkannya.

Bukan mencari jawabannya. Aku tidak perlu mencari.

Aku memikirkan apakah aku sanggup mengucapkannya.

“Aku nggak pernah sampai ke kalimatnya,” kataku akhirnya. “Aku cuma sampai ke namamu.”

“Za—“

“Iya.”

“Cuma itu?”

“Cuma itu yang keluar.”

Dia menarik napas dan bunyinya tidak rata.

“Al.”

“Hm.”

“Aku ngitung,” katanya. “Malam itu, waktu aku baru tahu, aku duduk di lantai kamar terus aku ngitung jaraknya. Antara kamu ngomong ‘Za’ sama aku motong.”

Aku menutup mata di gelap, yang tidak ada gunanya sama sekali.

“Setengah detik,” katanya.

“Kurang,” kataku.

“...Hah?”

“Kurang dari setengah.”

Aku merasakan seluruh tubuhnya berubah di sebelahku.

“Kamu ngitung juga?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Malam itu juga,” kataku. “Di bengkel. Sampai subuh.”


Ada bunyi dari ruang tengah. Reza berteriak bahwa lilinnya habis dan bahwa dia akan mencari lagi ke dapur, dan ada delapan orang yang berkomentar, dan ada langkah kaki menuju arah kami.

Aku berdiri.

Aku menariknya berdiri juga — dengan tangan yang masih aku genggam, yang aku sadari saat itu juga, dan yang tidak aku lepas.

Kami keluar lewat pintu samping ke halaman belakang.

Di luar gelap total. Seluruh dusun mati, jadi tidak ada satu pun lampu di lereng. Yang ada cuma langit, dan langit di ketinggian tujuh ratus meter tanpa listrik itu bukan langit yang biasa dilihat orang kota.

Kami berdiri di halaman belakang, di dekat gudang genset, dan aku masih memegang tangannya.

“Al.”

“Hm.”

“Kamu gugup nggak?”

Aku hampir bilang enggak. Itu jawaban otomatis. Itu jawaban yang sudah aku pakai lima tahun.

“Aku gugup dari dulu,” kataku. “Cuma nggak kelihatan.”

Dia diam.

“Dari kapan?”

“Dari kipas.”

“Al, itu—“

“Aku tahu.”

“Itu enam tahun.”

“Aku tahu.”


Aku ingin mencatat bagian ini dengan benar karena aku akan mengingatnya seumur hidup dan aku ingin versinya akurat.

Dia melangkah maju.

Kami hampir sama tinggi. Itu bukan hal yang pernah aku pikirkan sebelumnya, tapi malam itu aku memikirkannya, karena artinya tidak ada yang harus menunduk banyak dan tidak ada yang harus berjinjit.

Dahinya menyentuh dahiku.

Kami berdiri seperti itu cukup lama. Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak menghitung — dan aku ingin mencatat itu juga, karena itu pertama kalinya dalam enam tahun aku tidak menghitung apa pun.

Napasnya tidak rata. Tanganku masih memegang tangannya dan aku bisa merasakan denyut di pergelangannya, cepat sekali, jauh lebih cepat dari yang kelihatan dari luar.

“Kamu juga gugup,” kataku.

“Aku dari tadi gugup, bego.”

Aku tertawa.

Aku tidak tahu aku bisa tertawa dalam kondisi seperti itu.

Dan lalu aku mengucapkannya.

“Zara.”


Aku belum pernah mendengar orang bereaksi terhadap namanya sendiri seperti itu.

Dia mengeluarkan bunyi kecil — bukan kata, bukan isak, sesuatu di antaranya — dan tangannya yang bebas naik ke depan kausku dan mencengkeramnya.

“Sekali lagi,” katanya.

“Zara.”

Dan aku menciumnya.


Itu bukan ciuman yang bagus secara teknis, karena tidak ada satu pun dari kami yang punya pengalaman yang relevan, dan karena hidungku sempat kena hidungnya, dan karena dia tertawa di tengah dan aku juga.

Itu ciuman terbaik yang pernah terjadi kepada siapa pun.

Aku memegang belakang kepalanya dan rambutnya basah di ujung karena hujan sore tadi, dan tangannya masih mencengkeram kausku seperti orang yang takut jatuh, dan seluruh dusun gelap dan seluruh langit terbuka dan aku tidak memperbaiki apa pun malam itu.


“Al.”

“Hm.”

“Sekringnya belum kamu naikin.”

“Enggak.”

“Nggak mau naikin?”

“Nanti.”

Dia tertawa di dadaku dan bunyinya masuk ke tulang.


Aku masuk ke kamar jam setengah sebelas, mengambil ranselku, dan kembali ke halaman belakang.

Dia masih di situ, duduk di anak tangga gudang, memeluk lututnya.

Aku duduk di sebelahnya dan mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kaus lama.

Dia melihat bungkusan itu.

Lalu dia melihat aku.

Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan.


Kotaknya kayu, dicat putih, catnya sudah mengelupas di sudut. Aku tidak mengecatnya ulang. Aku sempat berpikir untuk mengecatnya ulang di tahun pertama kuliah dan aku memutuskan tidak, karena itu bukan barangku.

Aku memutar kuncinya tujuh kali.

Aku membuka tutupnya.

Balerinanya berputar. Bunyinya pelan, agak sumbang di dua nada, dan berhenti sebelum lagunya selesai.

Karena pernya sudah tua, dan aku tidak bisa memperbaiki tua.


Aku tidak akan menulis apa yang terjadi berikutnya secara detail, karena itu bukan milikku.

Yang bisa aku tulis: dia menangis dengan cara yang tidak bersuara, yang paling susah dilihat, dan dia memegang kotak itu dengan dua tangan seperti orang memegang sesuatu yang akan pecah kalau digenggam terlalu erat.

“Kapan,” katanya akhirnya.

“Kapan apa?”

“Kapan selesai.”

Aku memikirkan tanggalnya. Aku hafal tanggalnya.

“Tiga hari sebelum,” kataku.

Dia menunduk lebih dalam.

“Al.”

“Hm.”

“Kamu bawa ini di tas hari itu?”

“Iya.”

“Terus kamu bawa ke mana-mana selama tiga tahun?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memikirkan jawaban yang benar.

“Karena itu bukan barangku,” kataku.

Dia menoleh ke aku dengan wajah yang berantakan total.

“Bukan itu alasannya,” katanya.

“Iya,” kataku. “Bukan.”


Lampu dusun menyala jam setengah dua belas.

Bukan aku yang menaikkan. Ternyata Oliv yang keluar, sendirian, dengan senter, dan menaikkan sekringnya, dan tidak bilang apa-apa ke siapa pun.

Dari halaman belakang, kami mendengar seluruh posko bersorak. Reza paling keras. Ada yang bertepuk tangan. Ipeh berteriak sesuatu tentang kipas.

Empat puluh delapan rumah di lereng menyala satu per satu, dari bawah ke atas, seperti sesuatu yang diisi.

Kami duduk di anak tangga gudang, di bagian halaman yang tidak kena cahaya, dan tidak ada satu orang pun yang tahu kami di sana.

Kotak musik itu ada di pangkuannya.

Dia memutar kuncinya lagi.