Chapter Six
Jalan Pulang
POV: Kira
Pada hari keenam sejak bertemu Nora, tujuh anak menghilang dalam jarak sebelas menit.
Mika menampilkan rute penculikan di layar BFA. Titik-titik merah bergerak dari taman, halte, dan halaman sekolah menuju terowongan servis di bawah Asterra. Tidak ada saksi yang mengingat wajah penculik. Mereka hanya mendengar bunyi lonceng dan melihat angin bergerak melawan arah.
Aku belum tidur tanpa suara Nora sejak memakai Lunar Veil. Tiga malam mendengar dia membaca buku melalui telepon membuat tubuh aku mengenali ritme napasnya lebih cepat daripada alamat sendiri. Aku tidak mengatakan itu kepadanya. Dia sudah terlalu puas karena berhasil membuat aku mengikuti jadwal makan.
“Hollow-nya berpindah setiap empat puluh detik,” kata Nora di ruang kendali. “Jejak Echo pada barang anak-anak selalu berakhir sebelum lokasi berikutnya.”
Seorang ibu menyerahkan sepatu putrinya. Nora menyentuh talinya dan memejamkan mata. Cahaya emas muncul di bawah kelopak.
“Angin,” katanya. “Bau logam basah. Anak-anak masih sadar. Mereka mengikuti suara seseorang yang menjanjikan jalan pulang.”
Lyra memetakan anomali. WRAITH CLASS. TEMPORAL VELOCITY SIGNATURE. ESTIMATED CAPTURE WINDOW: NINE MINUTES.
Kami turun ke terowongan melalui akses stasiun lama. Bekas telapak kaki anak-anak berakhir di persimpangan enam jalur. Pada setiap dinding terdapat pintu yang seharusnya tidak ada. Ketika salah satu dibuka, kami melihat lokasi berbeda: atap gedung, gang pasar, jembatan pesisir.
Wraith itu tidak hanya cepat. Ia memotong kota menjadi jalan-jalan palsu.
“Kalau kita memilih salah, ia memindahkan mereka lagi,” kata Nora.
Aku mengaktifkan Stellar Form dan menembakkan garis cahaya ke setiap pintu. Lima pantulan kembali. Satu lenyap.
Kami menerobos pintu keenam dan tiba di atap pusat perbelanjaan. Sosok kurus berjubah pita angin berdiri di sisi lain sambil menggiring tujuh anak menuju retakan udara. Wajahnya berupa lonceng perak tanpa mata.
Aku menyerang. Pedang Stellar hanya memotong bayangan. Wraith muncul tiga puluh meter di belakang, membawa anak-anak bersamanya.
“Kecepatannya bukan gerakan,” teriak Nora. “Dia memilih jalur yang sudah selesai ditempuh.”
Pernyataan itu masuk akal bagi seseorang yang belum dihantam pusaran angin. Aku menabrak papan reklame, bangkit, dan melihat retakan terbuka di langit. Anak paling kecil hampir terseret masuk.
Lyra mengaktifkan slot baru. TEMPEST CORE AVAILABLE. FUNCTION: PURSUIT AND ROUTE DOMINANCE. PROJECTED COST: SPATIAL MEMORY.
Tempest Core berwarna hijau-cyan, terbentuk dari jejak angin yang dikumpulkan Nora. Dia memegangnya di tepi atap dengan wajah yang sudah kukenal sebagai tanda akan melarang sesuatu.
“Kalau kamu pakai ini, kamu bisa kehilangan semua peta di kepalamu.”
“Anak-anak itu kehilangan jalan pulang sekarang.”
“Aku tahu.” Dia menatap Core, lalu aku. “Kita pasang penanda. Suara, tali, apa pun.”
Dia menghubungkan pemutar suara aku ke saluran BFA dan merekam satu kalimat: Kira, ikuti suara Nora.
Aku memasukkan Tempest Core ke slot bawah Driver dan memutar cincin tujuh segmennya.
TEMPEST FORM. MEMORY CONVERSION ACTIVE.
Zirah aku berubah hitam-perak dengan garis hijau-cyan menyerupai aliran angin. Pelindung kaki menipis, bahu meruncing, dan dunia berhenti menjadi tempat. Yang tersisa hanya jalur.
Wraith membuka pintu ke gang pasar. Aku sudah berada di sana sebelum pintu tertutup. Ia berpindah ke jembatan. Aku mengejar melalui sisi gedung, menginjak dinding dan aliran udara seperti tangga. Setiap perpindahan mencabut sesuatu dari kepala: nama jalan, arah laut, letak planetarium.
“Belok kanan setelah menara jam,” suara Nora terdengar melalui helm.
Aku melihat tiga menara dan tidak tahu mana yang dimaksud kanan.
“Arah pukul dua,” koreksinya cepat. “Ikuti cahaya hijau dari drone Mika.”
Wraith memecah dirinya menjadi tujuh bayangan, masing-masing membawa satu anak ke rute berbeda. Tempest Form memperlihatkan garis kemungkinan di udara. Enam palsu berakhir pada lingkaran tertutup. Satu garis berdenyut mengikuti ketakutan anak-anak.
Aku berlari melintasi ketujuh jalur sekaligus—bukan dengan membelah diri, tetapi dengan memilih urutan langkah sebelum waktu menyadarinya. Satu per satu, anak-anak terlepas dari pita angin dan jatuh ke jaring evakuasi BFA.
Anak terakhir adalah gadis pemilik sepatu. Wraith membawanya ke terowongan awal dan menutup semua pintu. Aku kehilangan gambar pintu masuk BFA, lalu nama distrik, lalu pemahaman tentang utara dan selatan.
“Kira, dengar aku.” Suara Nora tetap ada. “Ada lonceng setiap kali dia pindah. Jangan kejar tubuhnya. Kejar gema yang datang lebih dulu.”
Aku menutup sensor visual. Dalam gelap, lonceng berbunyi dari belakang sebelum Wraith muncul di depan. Aku berbalik dan menghantam ruang kosong. Tempest Blade menembus inti saat makhluk itu baru mulai tiba.
Angin meledak. Aku menangkap gadis itu dengan satu tangan dan menancapkan pedang ke lantai dengan tangan lain. Retakan ruang runtuh menjadi pusaran yang mencoba menelan kami.
TEMPEST CIRCUIT. ROUTE LOCKED.
Garis hijau-cyan membentuk satu jalan lurus dari posisi kami menuju Nora. Aku berlari di atasnya saat terowongan palsu pecah di belakang. Begitu gadis itu berada dalam pelukan ibunya, zirah aku terurai.
Semua orang tahu ke mana harus pergi setelah operasi selesai. Aku tidak.
Mika menunjukkan tangga menuju kendaraan medis. Tangga itu tampak sama dengan lorong lain. Aku membuka peta di ponsel, tetapi simbol jalan tidak berarti apa-apa. Bahkan panah biru yang menandai posisi aku terasa seperti bahasa asing.
Nora menghampiri. “Kamu ingat aku?”
“Nora. Konservator. Pencuri kopi.”
Bahu yang sejak tadi tegang turun sedikit. “Bagus. Kita pulang.”
Kata pulang tidak menunjukkan lokasi mana pun di kepala aku.
Di tengah pemeriksaan medis, alarm kecil berbunyi di sisi lain terowongan. Petugas berlari. Ketika aku menoleh lagi, Nora sudah tidak ada. Mungkin pergi membantu korban. Mungkin berdiri hanya beberapa meter dari aku. Arah telah menjadi konsep yang tidak dapat aku pegang.
Aku mencoba mengikuti petunjuk menuju kendaraan BFA, tetapi setiap persimpangan menghapus persimpangan sebelumnya. Setelah beberapa menit, aku berada di jalan kota tanpa tahu bagaimana keluar dari sana.
Aku berjalan berdasarkan kebiasaan tubuh. Belok ketika kaki ingin berbelok. Menyeberang ketika tangan secara otomatis mencari tombol lampu. Gedung-gedung tidak punya hubungan satu sama lain. Planetarium bisa saja berada di balik aku atau di kota berbeda.
Pemutar suara di saku memutar pesan Nora: Kira, ikuti suara Nora.
Tidak ada suara lain setelahnya. Namun tubuh aku terus bergerak.
Hujan tipis turun ketika langkah aku berhenti di depan sebuah apartemen. Aku tidak mengenali jalan, bangunan, atau nomor di pintu masuk. Aku hanya tahu napas aku menjadi lebih mudah.
Nora keluar dari lobi sambil masih berbicara melalui telepon. “Mika, dia nggak ada di kendaraan. Cari rekaman CCTV dari—”
Dia melihat aku dan berhenti.
“Aku tersesat,” kataku.
Nora menutup telepon. Dia tidak tertawa atau menanyakan kenapa aku membutuhkan waktu lama. Dia turun ke trotoar, berdiri cukup dekat agar aku dapat melihatnya tanpa memilih arah, lalu menggenggam tangan aku.
“Kamu datang ke apartemenku.”
“Aku tahu?”
“Seharusnya nggak. Aku belum pernah memberimu alamat.”
Kami sama-sama melihat tangan yang saling menggenggam. Aku tidak tahu jalan pulang, tetapi sesuatu di dalam tubuh mengenali tempat aman sebelum pikiran aku sempat memberi nama.
“Gimana kalau besok aku lupa jalan ke sini?”
Jemarinya mengencang. “Kita cari jalan bersama.”
Nora membimbing aku melewati lobi. Untuk pertama kalinya sejak Tempest mengambil semua peta dari kepala, aku tidak takut pada persimpangan berikutnya.
Mungkin rumah bukan lokasi yang dapat ditandai. Mungkin, sebelum seseorang menjadi kenangan, tubuh memilihnya sebagai tujuan.
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang reading
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira
- 19 Dunia Tanpa Rasa Sakit
- 20 Satu Janji Tersisa
- 21 Malam Terakhir yang Biasa
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang