← Last Henshin

Chapter Twenty Two

Last Henshin

POV: Kira

Ketika penghapusan dimulai, orang-orang lupa kenapa mereka berlari.

Di jalan menuju Astral Gate, seorang ibu berhenti di tengah evakuasi dan melepaskan tangan anaknya. Sopir ambulans memandang setir seolah belum pernah melihat kendaraan. Nama rumah sakit lenyap dari papan, disusul nama jalan, nama distrik, lalu wajah-wajah pada layar peringatan.

Vesper tidak lagi menawarkan kedamaian. Dia mengambilnya.

Langit Asterra turun dalam gelombang hitam. Setiap kali gelombang menyentuh gedung, teriakan berubah menjadi diam.

Pita merah masih mengikat pergelangan aku dan Nora ketika kami mencapai ruang transformasi planetarium. Darian menahan pintu manual. Mika duduk di konsol komunikasi, menyebut namanya sendiri setiap tiga puluh detik agar tidak lupa.

“Mika Ren,” katanya. “Operator BFA. Tampan. Sangat penting.”

“Bagian terakhir tidak terverifikasi,” kata aku.

Dia tertawa, lalu wajahnya kosong sesaat. “Maaf. Kamu siapa?”

Nora menggenggam tangan aku lebih kuat.

“Orang yang akan menutup Gate,” jawab aku.

Darian memasang Astra Driver pada pinggang aku. Ketujuh Core sudah retak, tetapi masih memancarkan sisa warna. Last Astra tidak menggunakan mereka sebagai bahan bakar. Mereka hanya dapat membuka jalan sampai pusat Origin Hollow.

“Begitu Driver hancur, tidak ada jalan pulang melalui sistem,” kata Darian.

“Dipahami.”

“Aku minta maaf.”

Dia mengatakannya bukan sebagai kepala riset, melainkan orang yang pernah melihat hidup aku sebagai angka yang dapat dibelanjakan.

“Gunakan rasa bersalah itu untuk membangun sistem yang tidak memerlukan korban berikutnya.”

Darian mengangguk.

Nora memotong pita merah di antara pergelangan kami. Setengahnya tetap terikat pada tangan aku, setengah pada tangannya.

“Bukan dilepas,” katanya. “Dibagi.”

Aku menyentuh simpul itu. “Aku akan memilih hidup selama pilihannya ada.”

“Aku akan memilih pagi berikutnya.”

Alarm berubah menjadi suara panjang. Astral Gate mencapai ambang penuh.

Aku memasukkan Stellar Core.

STELLAR.

Armor biru-perak menutup tubuh. Kenangan tidak terbakar karena hampir tidak ada yang tersisa untuk diambil. Namun tubuh masih mengingat cara berdiri.

Nora mengangkat tangan ke helm aku. “Kira.”

Nama itu terasa milik aku karena dia mengucapkannya.

“Nora,” jawab aku.

Aku melompat menembus kubah planetarium.

Di luar, kota berubah menjadi laut bayangan. Vesper menunggu di pusat retakan dengan tubuh sebesar menara, tersusun dari ribuan wajah yang telah menyerahkan rasa sakit. Setiap wajah berbicara melalui mulut yang sama.

“Kau tidak punya kenangan untuk dipertahankan.”

“Aku punya janji.”

Shade memenuhi udara. Stellar Blade memotong jalur pertama, tetapi jumlah mereka menutup langit. Solar Flare Core menyala dari Driver yang retak. Aku tidak berubah penuh. Jejak merah membungkus lengan dan satu tebasan matahari membuka koridor cahaya.

Lunar Veil muncul sebagai sayap perak, memurnikan bayangan warga yang terikat pada tubuh Vesper. Suara-suara mereka kembali satu per satu. Ada yang menangis. Ada yang memanggil keluarga. Mereka mulai mengingat alasan untuk melawan.

Tempest menjadi kilat hijau pada kaki. Aku berlari di sisi gedung yang runtuh, menarik dua petugas dari jalur gelombang penghapusan. Terra Titan membentuk tangan batu di punggung dan menahan menara komunikasi agar siaran harapan tetap hidup.

Setiap form datang sebagai jejak, bukan tempat bersembunyi. Tidak ada kenangan baru untuk dibayar. Mereka memakai sisa tubuh, sisa kebiasaan, sisa keputusan.

Vesper membuka celah di bawah aku. Abyss Tide mengalir seperti air hitam-biru dan menumbuhkan kembali armor yang terkikis. Aku tidak dapat merasakan sedih. Aku tetap tahu kehilangan tidak boleh diberikan kepadanya.

Nebula Phantom memindahkan aku melewati ruang yang terlipat. Wajah Nora muncul pada setiap sisi retakan, lalu lenyap. Aku tidak tahu mana yang asli. Tangan memilih arah suara.

“Kiri, Kira!”

Aku berteleportasi ke kiri sebelum tombak Vesper menembus dada.

Mika menjaga saluran terbuka. “Semua warga, sebut satu hal yang tidak mau kalian serahkan!”

Jawaban memenuhi udara.

Nama anak. Resep ibu. Janji pernikahan. Bau rumah setelah hujan. Marah. Sedih. Cinta. Harapan.

Nova Breaker bangkit dari seluruh warna dan menghantam lapisan luar Origin Hollow. Tubuh Vesper pecah, tetapi di baliknya terdapat Gate tanpa ujung. Nova dapat melukai bentuknya. Tidak dapat menghapus kehendak yang menciptakannya.

“Lihat dirimu,” kata Vesper. “Kau telah menjadi kedamaian yang kutawarkan. Tanpa masa lalu. Tanpa rasa sakit. Tanpa diri.”

Aku melihat pita merah di pergelangan.

“Kalau begitu kenapa aku masih memilih?”

Vesper menjerit. Gelombang penghapusan menghantam dari segala arah. Eclipse bangkit tanpa dipanggil—bayangan zirah hitam menelan serangan dan memasukkannya ke kristal pusat. Suara Vesper memasuki helm.

Lupakan perempuan itu. Kau akan bebas.

Aku tidak memiliki cukup ingatan untuk melupakannya. Hanya ada pengetahuan bahwa seseorang menunggu pagi.

Aku berjalan ke pusat Gate.

Armor pecah lapis demi lapis. Stellar hilang lebih dulu. Jejak Solar, Lunar, Tempest, Terra, Abyss, dan Nebula mengelilingi aku seperti bintang yang padam setelah menunjukkan jalan. Nova menjadi satu garis putih. Eclipse mengubah seluruh kegelapan terakhir menjadi bahan bakar.

Astra Driver retak di pinggang.

“Lyra, status.”

NO MEMORY DETECTED.

Kristal pusat pecah.

NO IDENTITY DETECTED.

Sabuk terlepas menjadi serpihan cahaya. Suara Lyra tidak lagi terdengar netral.

ONE PROMISE REMAINING.

Di ruang komunikasi, Nora meneriakkan sesuatu. Namanya tidak dapat aku temukan. Wajahnya tidak dapat aku bentuk. Namun dada ini bergerak ke arah suaranya.

Harapan seluruh kota mengalir melalui serpihan Driver. Bukan energi dari manusia yang tidak tahu harganya. Mereka sudah memilih. Mereka tahu mengingat berarti membawa luka, dan tetap menyebut hal yang mereka cintai.

Vesper menyerang dengan semua wajahnya. “Kalau kau menghapusku, mereka akan menghapusmu. Tidak ada monumen. Tidak ada nama. Perempuan itu tidak akan berduka karena dia tidak pernah mengenalmu.”

Tidak ada nama yang bisa aku pertahankan.

Tidak ada sejarah yang dapat dijadikan alasan.

Ada satu pagi yang harus terjadi.

Aku mengangkat tangan kosong.

“Last Henshin.”

Cahaya tidak membentuk armor dari logam. Ia membentuk tubuh dari pilihan manusia: seorang ibu kembali menggenggam anaknya, petugas medis menyebut nama pasien yang gagal dia selamatkan, lelaki di halte memeluk foto putrinya, Mika menolak melupakan siapa pun meski lupa pada aku setiap beberapa detik, Darian mempertaruhkan seluruh BFA, dan seorang perempuan dengan pita merah memilih pagi berikutnya.

Last Astra berdiri sebagai zirah putih tanpa wajah. Bintang empat di dada terbuka menjadi fajar.

Aku tidak menebas Vesper.

Aku membuka kedua tangan dan menerima seluruh keputusasaan yang membentuknya.

Rasa sakit jutaan orang melewati tubuh: kematian, kegagalan, kesepian, penyesalan. Last Astra tidak menghapusnya. Cahaya mengembalikannya kepada pemilik masing-masing bersama bukti bahwa mereka tidak menanggungnya sendirian.

Vesper mengecil. Wajah-wajah terlepas dari tubuhnya dan pulang sebagai ingatan. Di tengah cahaya hanya tersisa pria berpakaian hitam yang pernah menawarkan lupa sebagai belas kasih.

“Mengapa memilih sakit?” tanyanya.

“Karena rasa sakit bukan satu-satunya hal yang kembali.”

Cahaya fajar menembus Origin Hollow.

Vesper melihat ke seluruh kota, kepada orang-orang yang menangis sekaligus saling memegang. Untuk pertama kalinya, wajahnya menunjukkan sesuatu selain kepastian.

Lalu dia terurai menjadi debu bintang.

Astral Gate menutup dari tepi. Nama jalan kembali. Wajah pada foto pulih. Orang-orang menyebut keluarga mereka. Langit hitam terangkat sedikit demi sedikit.

Pada saat bersamaan, dunia mulai melepaskan aku.

Pita merah menjadi benang tanpa pasangan. Rekaman di server BFA kehilangan subjeknya. Apartemen, pekerjaan, jejak kaki, dan suara memudar. Bahkan Lyra pecah menjadi cahaya tanpa pernah sempat mengucapkan selamat tinggal.

Seseorang memanggil dari bawah.

Aku tidak tahu namanya. Aku hanya tahu dia harus melihat matahari terbit.

Last Astra hancur.

Pikiran terakhir aku bukan tentang menjadi pahlawan, bukan tentang nama yang hilang, dan bukan tentang apakah ada yang akan mengingat.

Hanya satu keinginan tanpa pemilik:

Semoga perempuan itu menjalani pagi berikutnya.