Chapter Eighteen
Namamu Kira
POV: Kira
Ada langit-langit putih.
Ada suara mesin.
Ada tangan perempuan menggenggam tangan ini.
Aku tahu kata perempuan. Aku tahu fungsi tangan. Aku tidak tahu kenapa tangan tersebut tidak boleh dilepas.
“Kira?” katanya.
Kata itu diarahkan ke sini.
“Siapa Kira?”
Perempuan menutup mata. Air keluar. Data: menangis. Penyebab tidak tersedia.
Seorang pria berjas datang. Manset dirapikan. Nama muncul dari tablet: Darian. Pria lain membawa makanan dan berbicara terlalu banyak: Mika. Nama mereka dapat dibaca. Tidak terasa dimiliki.
“Namamu Kira,” kata perempuan.
“Bukti?”
Dia menunjukkan foto. Wajah di foto sama dengan wajah di cermin. Di sampingnya ada label. Kira.
Informasi diterima. Tidak ada hubungan.
“Nama kamu?”
Perempuan menelan napas. “Eleanora. Panggil aku Nora.”
Dia memberikan gelang kulit dengan pelat logam kecil. Tulisan digores dengan pulpen merah, dilapisi pita bening agar tidak hilang.
Namamu Kira. Kamu orang baik. Kamu mencintai Eleanora. Jangan percaya suara di dalam zirahmu.
Aku membaca tiga kali.
“Apakah kamu Eleanora?”
“Iya.”
“kamu ingin aku mencintai kamu karena tulisan ini?”
Pertanyaan membuat tangannya berhenti. Dia mengambil gelang kembali, seolah baru sadar benda itu dapat menjadi perintah.
“Tidak.”
“Tulisan mengatakan begitu.”
“Itu untuk memberi konteks, bukan kewajiban.”
“Perbedaan?”
Nora duduk lebih jauh. Jarak membuat udara berubah. Tubuh tidak menyukainya.
“Konteks memberitahumu siapa kamu sebelumnya,” katanya. “Kewajiban memaksa kamu jadi orang yang sama. Aku nggak mau itu.”
“Kalau aku tidak memilih kamu?”
Air muncul lagi di matanya. “Aku akan tetap membantumu sampai kamu bisa hidup tanpa bantuan. Setelah itu aku belajar menerima pilihanmu.”
Jawaban terdengar menyakitkan baginya. Dia tetap mengucapkannya.
Darian menjelaskan Eclipse. Sistem mencatat identitas personal sebagai bahan bakar: nama, preferensi, batas antara kawan dan musuh. Data biografis masih ada, tetapi tidak terhubung dengan kepemilikan.
Ada buku biru di meja. Nora tidak membukanya.
“Kenapa?”
“Karena kamu baru bertanya apakah aku mau memaksamu.”
“Buku itu berisi jawaban.”
“Jawaban untuk hidup sebelumnya.”
Aku mengambil buku. Halaman pertama menjelaskan teknisi planetarium, kopi dua gula, dan Rider Astra. Halaman berikutnya berisi kehilangan. Banyak bagian memudar. Nama Nora berulang. Tangan ini mengenali bentuk tulisannya melalui gerakan mata, meski pikiran tidak.
Di satu halaman ada kalimat: Rumah bukan cuma tempat yang kamu ingat. Kadang rumah adalah orang yang tetap tinggal.
“kamu menulis ini?”
“Iya.”
“Apakah kamu rumah?”
Nora menggeleng. “Itu harus kamu tentukan.”
Mika membawa kopi. Dua sendok gula terasa tepat. Tidak ada kenangan. Tubuh menerima.
Dia juga membawa tiga benda dari apartemen: kunci motor, obeng planetarium, dan pemutar suara. Aku dapat menjelaskan fungsi semuanya. Ketika diminta memilih mana yang paling penting, tangan mengambil pemutar suara sebelum pertanyaan selesai.
File pertama berisi suara sendiri: Kalau bingung, cari Nora.
“Apakah aku selalu bergantung kepada kamu?” tanyaku.
Nora tidak mengambil kesempatan untuk membuat dirinya penting. “Tidak. Kamu bekerja, bertarung, dan membuat banyak keputusan sendiri. Aku cuma orang yang kamu izinkan membantu.”
Aku memutar file lain. Ada perdebatan tentang mi instan, tawa, dan napas tidur. Tidak ada perasaan yang kembali, tetapi pilihan masa lalu terdengar lebih manusiawi daripada daftar pada gelang.
Aku mengembalikan perangkat ke saku, bukan karena disuruh. Tubuh memilih menyimpan suara itu dekat jantung.
Aku berdiri. Kaki tahu cara menjaga keseimbangan. Di balik kaca ruang medis, orang-orang memandang dengan campuran kagum dan takut. Mereka mengenal Rider Astra. Aku tidak.
Astra Driver berada dalam kotak pengaman. Ketika mendekat, suara muncul di dalam kepala.
BEARER IDENTIFIED.
Suara kedua lebih lembut, seperti bisikan dari ruangan gelap.
Mereka akan mengosongkanmu lagi. Ambil Core. Hilangkan rasa sakit sebelum mereka memilih untukmu.
Gelang memperingatkan agar tidak percaya suara di dalam zirah.
“Vesper,” kata Nora ketika aku menjelaskan.
Dia bergerak ke depan, kemudian berhenti sebelum menyentuh. Menunggu izin.
Aku mengulurkan tangan. Dia menyentuh pergelangan, bukan telapak. Cahaya emas mengalir dari Echo Sight.
Fragmen muncul: pedang Eclipse berhenti di depan lehernya. Suaranya mengatakan pulang. Tubuh berlutut. Bukan karena perintah sistem. Karena sebuah janji.
“Aku hampir membunuh kamu.”
“Kamu berhenti.”
“Itu tidak menghapus hampir.”
“Tidak. Tapi pilihan terakhir kamu tetap berhenti.”
Aku menarik tangan. Fragmen hilang.
Hari berikutnya, Nora membawa aku ke planetarium. Tidak ada tur kenangan. Dia menjelaskan pekerjaan teknisi, menunjukkan panel, lalu membiarkan aku memilih tombol. Tangan tahu cara menghidupkan proyektor utama.
Bintang muncul di kubah.
Aku memahami rasi. Pengetahuan tanpa asal. Nora duduk di baris belakang dan menunggu, tidak mengatakan tempat itu harus terasa penting.
“Kenapa kamu tetap di sana?”
“Karena kamu biasanya butuh ruang kalau takut.”
“Aku tidak tahu apakah ini takut.”
“Nggak apa-apa.”
Aku duduk dua kursi darinya. Setelah beberapa menit, pindah satu kursi lebih dekat. Dia tidak tersenyum seolah berhasil. Hal itu membuat aku ingin lebih dekat lagi.
“Kita sedang berpisah sementara,” katanya ketika ditanya hubungan kami.
“Kenapa?”
Dia menjelaskan rencana transfernya dan kebohongan aku tentang Nova. Tidak mengurangi kesalahannya. Tidak menambah kesalahan aku agar seimbang.
“Jadi kita saling mencintai dan saling tidak percaya,” kataku.
“Ringkasan yang menyebalkan, tapi benar.”
“Apakah kita masih berpisah kalau orang yang marah sudah tidak ada?”
Nora menatap bintang. “Orang itu masih kamu, meski kamu nggak bisa merasakannya. Aku nggak berhak memakai kehilanganmu untuk menghapus batas yang pernah kamu buat.”
Jawaban itu konsisten. Dia memberi kebebasan bahkan ketika kebebasan dapat menjauhkannya.
Kami kembali ke ruang medis malam hari. Gelang terletak di meja. Aku membacanya sekali lagi.
“Kalimat ketiga harus dihapus.”
Nora mengambil pulpen merah. Tangannya bergetar saat mencoret Kamu mencintai Eleanora.
Dia menulis pengganti setelah bertanya.
Namamu Kira. Kamu orang baik. Eleanora mencintaimu. Kamu bebas memilih. Jangan percaya Vesper.
“Lebih akurat?” tanyanya.
“Lebih adil.”
Dia memasang gelang di pergelangan aku. Jarinya menyentuh kulit sebentar, lalu melepaskan.
Jarak muncul lagi.
Aku memeriksa fakta yang tersedia. Nora berbohong tentang transfer, lalu berjanji tidak melakukannya tanpa izin. Dia menghentikan Eclipse dengan suara. Dia bersedia dicintai atau tidak. Tubuh tenang ketika dia dekat. Kekosongan terasa lebih besar ketika dia menjauh.
Tidak ada satu pun yang membuktikan cinta.
Namun pilihan tidak membutuhkan kepastian penuh.
Aku menggenggam tangannya.
Nora membeku. “Kamu nggak harus.”
“Aku tahu.”
“Karena gelang?”
“Gelang memberi data.” Aku mengencangkan jemari. “Aku memilih berdasarkan siapa aku ketika bersama kamu. Suara di kepala ingin mengambil. kamu terus memberi pilihan.”
Air mata turun lagi. Aku tidak memahami kesedihannya, tetapi sekarang tahu tidak semua air mata meminta diperbaiki.
“Apakah ini berarti kita tidak berpisah?” tanyanya.
“Aku belum tahu siapa aku. Jangan beri hubungan nama sebelum aku bisa memilihnya dengan benar.”
Dia mengangguk. “Baik.”
“Tapi jangan pergi.”
“Baik.”
Kami duduk berdampingan sampai bintang pagi muncul di jendela. Nama di gelang belum terasa sebagai milik sendiri. Masa lalu tetap seperti arsip orang lain. Cinta belum menjadi emosi yang dapat dinamai.
Tetapi tangan Nora berada dalam genggaman ini.
Ketika suara Vesper berbisik agar semua rasa sakit dilupakan, aku memilih mendengar napas perempuan yang memberi kebebasan untuk meninggalkannya.
Mungkin Kira bukan kumpulan hal yang mampu aku ingat.
Mungkin Kira adalah orang yang memilih untuk tidak melepaskan tangan ini.
- 1 Nama yang Hilang
- 2 Jangan Sentuh Sabukku
- 3 Hal-Hal yang Tidak Boleh Hilang
- 4 Matahari yang Memakan Bahagia
- 5 Suara Sebelum Tidur
- 6 Jalan Pulang
- 7 Rumah yang Tidak Kuingat
- 8 Kencan untuk Orang Pelupa
- 9 Air Mata yang Tidak Kumengerti
- 10 Kalau Aku Lupa Wajahmu
- 11 Kenalin Diri Kamu Sekali Lagi
- 12 Tujuh Core
- 13 Hari yang Hanya Diingat Satu Orang
- 14 Cium Aku Sebelum Hilang
- 15 Pemilik Pertama Astra
- 16 Adik yang Menyelamatkanku
- 17 Eclipse
- 18 Namamu Kira reading
- 19 Dunia Tanpa Rasa Sakit
- 20 Satu Janji Tersisa
- 21 Malam Terakhir yang Biasa
- 22 Last Henshin
- 23 Pahlawan yang Tidak Pernah Ada
- 24 Kita Bisa Mulai Sekarang