← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Twenty Two

Prosedur

POV: Renata


Aku menyusun berkasnya selama sebelas hari.

Judul dokumen: Pengajuan Keringanan Biaya Pendidikan — Jalur Prestasi Non-Akademik dan Kondisi Ekonomi.

Dasar hukum: Peraturan Yayasan Nomor 14 Tahun 2019, Pasal 8 ayat (2) dan (3).

Aku menemukan pasal tersebut pada hari kelima, di dalam dokumen setebal seratus enam halaman yang tidak pernah dibaca oleh siapa pun termasuk sebagian besar pengurus yayasan. Pasal 8 ayat (3) menyatakan bahwa keringanan dapat diberikan berdasarkan rekomendasi tertulis dari organisasi kesiswaan apabila siswa yang bersangkutan telah memberikan kontribusi signifikan terhadap penyelenggaraan kegiatan sekolah.

Kontribusi signifikan.

Sebelas menit. Seratus empat belas nota. Selisih satu juta dua ratus empat puluh ribu rupiah yang telah dikembalikan kepada pemiliknya.

Itu kontribusi signifikan.

Aku menyusun lampirannya: kronologi, salinan laporan audit, pernyataan Gita Anggraini, dan surat rekomendasi tertulis di atas kop OSIS yang telah aku tandatangani.

Total: sembilan belas halaman.

Aku memeriksanya empat kali. Tidak ada celah. Tidak ada satu pun titik di mana pengajuan ini dapat ditolak secara administratif.

Sistemnya bekerja. Sistemnya selalu bekerja. Aku telah membuktikannya sebelas kali dalam tiga tahun.

Terdapat satu masalah.

Pada halaman pertama, di bagian bawah, terdapat kolom yang harus diisi oleh siswa yang bersangkutan:

Saya, yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa saya mengajukan permohonan keringanan biaya pendidikan.

Dan di bawahnya:

Tanda tangan pemohon.


Aku membawa berkas itu ke atas gudang pada hari Senin.

Aku tidak mengeluarkannya.

Aku membawanya lagi pada hari Selasa. Aku tidak mengeluarkannya.

Rabu. Kamis. Jumat.

Pada hari Jumat, dia bertanya.

“Renata.”

“Ya.”

“Map kamu tebel.”

“Ya.”

“Dari Senin.”

“Ya.”

“Belum dibuka.”

Aku meletakkan tangan di atas map tersebut.

“Ini pekerjaan yang belum selesai.”

“Bagian mana yang belum selesai?”

Dan aku menjawab hal yang benar, yang mana adalah kesalahan.

“Bagian yang tidak dapat saya kerjakan sendiri.”


Aku perlu mencatat mengapa aku tidak mengeluarkannya, karena aku telah menyusun alasannya berkali-kali dan setiap versinya berbeda.

Versi pertama, hari Senin: Aku belum menemukan momen yang tepat.

Ini tidak benar. Terdapat lima belas menit setiap hari yang seluruhnya adalah momen yang tepat.

Versi kedua, hari Rabu: Aku belum yakin pengajuannya akan diterima.

Ini juga tidak benar. Aku telah memeriksanya empat kali.

Versi ketiga, hari Kamis malam, pukul 23.40, di meja belajarku:

Apabila saya mengeluarkan map ini, saya akan mengetahui jawabannya.

Dan aku tidak menginginkan jawabannya, karena aku telah mengetahui jawabannya sejak hari pertama aku menyusun berkas tersebut, dan seluruh sebelas hari itu aku habiskan untuk membangun sesuatu yang cukup sempurna sehingga jawabannya mungkin berubah.

Sistem yang kupercayai selama enam tahun memiliki satu asumsi dasar: bahwa apabila prosedurnya benar, hasilnya akan benar.

Asumsi tersebut mensyaratkan bahwa manusia yang berada di dalam prosedur bersedia menandatangani.

Aku belum pernah menghadapi manusia yang tidak bersedia.


Aku perlu mencatat satu percakapan yang terjadi pada hari kesembilan, karena percakapan tersebut seharusnya sudah cukup memberitahuku.

“Saudara Andhika.”

“Hm.”

“Apabila seseorang menawarkan bantuan kepada Anda, dan bantuan tersebut tidak memerlukan pengorbanan apa pun dari orang tersebut, apakah Anda akan menerimanya?”

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Tergantung dia ngasihnya gimana.”

“Tolong jelaskan.”

Dia meletakkan kotak makan.

“Kalau dia ngasihnya kayak orang naruh barang di meja, terus pergi, saya ambil.”

“Dan apabila tidak?”

“Kalau dia berdiri di situ nungguin saya ambil, saya nggak ambil.”

“Mengapa? Hasilnya sama.”

“Hasilnya beda.” Dia memandang ke arah pohon. “Yang pertama, dia ngasih barang. Yang kedua, dia ngasih barang plus dia liat saya butuh.”

Aku menuliskan kalimat tersebut di sistem pensil pada malam harinya, dan aku membacanya kembali, dan aku menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah perbedaan yang tidak signifikan.

Aku salah.

Dan berkas sembilan belas halaman yang kususun adalah versi paling ekstrem dari cara kedua: bukan hanya berdiri menunggu, melainkan berdiri menunggu sambil memegang dokumentasi tertulis mengenai betapa dia membutuhkannya.


Hari Senin berikutnya, aku mengeluarkannya.

Aku tidak merencanakan hari itu; aku merencanakan hari Rabu. Tetapi pada hari Senin dia naik dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya, dan ketika dia duduk, dia bersandar sepenuhnya ke tembok.

Sepenuhnya.

Aku telah mencatat selama satu bulan dua minggu bahwa dia tidak pernah menyandarkan punggung sepenuhnya; selalu tersisa jarak dua sampai tiga sentimeter.

Hari Senin, jaraknya nol.

Aku membuka map.

“Saudara Andhika.”

“Hm.”

“Saya ingin Anda membaca sesuatu.”

Aku menyerahkan halaman pertama.

Dia menerimanya. Dia membacanya — satu setengah detik, sebagaimana kebiasaannya, karena orang ini tidak membaca melainkan memindai.

Kemudian dia berhenti.

Dan dia membacanya lagi, dari atas, pelan-pelan, dengan kecepatan manusia biasa.

Aku menghitung: dua puluh dua detik.

Dia mengembalikannya.

“Nggak usah, Renata.”


“Anda belum membaca lampirannya.”

“Nggak perlu.”

“Terdapat sembilan belas halaman yang menjelaskan dasar hukum—”

“Renata.”

“Pasal 8 ayat (3) Peraturan Yayasan Nomor 14—”

“Renata.”

Aku berhenti.

“Kamu tau saya nggak bakal tanda tangan,” katanya.

“Saya tidak mengetahui hal tersebut.”

“Kamu tau.” Dia memandang ke arah pohon. “Kamu nyusun ini sebelas hari. Kalau kamu nggak tau, kamu bakal ngasih ke saya hari pertama.”

Aku memegang map itu dengan dua tangan.

“Mengapa,” kataku.

“Karena kalau saya tanda tangan, ada sembilan belas halaman tentang saya di ruang TU.”

“Yang membacanya tiga orang.”

“Tiga orang cukup.”

“Cukup untuk apa?”

Dan dia menoleh, dan dia mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat biasa dan yang membuatku tidak dapat menjawab selama hampir satu menit:

“Cukup buat bikin saya jadi anak yang itu.”


“Saudara Andhika.”

“Hm.”

“Saya tidak memahami.”

“Iya. Saya tau.”

“Itu bukan penghinaan. Saya benar-benar tidak memahami.”

“Saya tau.” Dia tidak marah sama sekali. “Kamu nggak pernah jadi orang yang dikasihanin.”

“Saya juga tidak pernah jadi orang yang ditolong.”

Dia menoleh.

Untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, dia terlihat kehilangan sesuatu.

“Saya tidak mengatakannya untuk memenangkan argumen,” kataku. “Saya menyatakan fakta. Terdapat tujuh belas orang di kepengurusan saya. Seluruhnya akan menolong saya apabila saya meminta. Tidak satu pun yang pernah menawarkan.”

“Kenapa?”

“Karena saya tidak pernah terlihat membutuhkan.”

Kami duduk di atas gudang itu, empat meter, dengan map sembilan belas halaman di antara kami.

“Renata.”

“Ya.”

“Kita berdua bego.”

Dan aku — dan aku mencatat ini dengan seluruh keterkejutan yang layak — tertawa.

Suara. Keluar dari mulutku. Di atas atap gudang, pukul 12.51, pada hari Senin.

Aku tidak dapat mengingat kapan terakhir kali hal tersebut terjadi.


Aku menutup map itu.

“Apabila Anda tidak menandatanganinya,” kataku, “berkas ini menjadi tidak berguna.”

“Iya.”

“Sebelas hari.”

“Iya.”

“Saya akan menyimpannya.”

“Kenapa?”

“Karena saya tidak dapat membuangnya.”

Dia mengangguk sekali.

Dan kemudian aku melakukan hal yang tidak ada dalam rencana sebelas hariku, tidak ada dalam agendaku, dan tidak ada dalam versi diriku mana pun yang pernah kukenali.

Aku mengeluarkan pulpen. Aku membuka halaman pertama. Dan pada kolom Tanda tangan pemohon, aku menuliskan tanggal — hari ini — dan di bawahnya, dengan huruf kecil:

Berlaku apabila diminta.

Kemudian aku menutupnya dan memasukkannya ke dalam tas.

“Saudara Andhika.”

“Hm.”

“Berkas ini tidak akan saya ajukan.”

“Oke.”

“Berkas ini akan berada di dalam tas saya setiap hari.”

Dia tidak menjawab.

“Anda tidak perlu memintanya,” kataku. “Anda hanya perlu mengetahui bahwa berkas tersebut ada.”

Dan aku berdiri, dan aku berjalan ke tangga, dan pada anak tangga pertama aku berhenti karena ada satu hal lagi yang harus kukatakan dan yang tidak akan sanggupku katakan sambil menatap wajahnya.

“Saya telah menyelesaikan segala hal dalam hidup saya dengan prosedur yang benar,” kataku, menghadap tangga. “Selama enam tahun. Tanpa pengecualian.”

Hening.

“Dan saya baru mengetahui hari ini bahwa terdapat hal-hal yang tidak memiliki prosedur.”

Aku menuruni tiga anak tangga.

“Renata.”

Aku berhenti.

“Ada,” katanya.

“Ada apa?”

“Prosedurnya.”

Aku berbalik. Dia sedang menghadap ke arah pohon, sebagaimana biasa.

“Apa prosedurnya?”

Dan dia berkata:

“Dateng lagi besok.”


Malam itu aku membuka tasku, mengeluarkan map cokelat setebal sembilan belas halaman, dan meletakkannya di meja belajar.

Aku menatapnya.

Kemudian aku memasukkannya kembali ke dalam tas.

Dan aku melakukan hal yang sama setiap malam selama sisa novel ini — mengeluarkannya, menatapnya, memasukkannya kembali — tanpa satu kali pun mengubah satu huruf di dalamnya.

Yang tidak kuketahui pada malam itu, dan yang baru kuketahui delapan puluh tiga hari kemudian, adalah bahwa map tersebut memiliki tanggal kedaluwarsa.

Peraturan Yayasan Nomor 14 Tahun 2019, Pasal 8 ayat (5):

Permohonan keringanan hanya dapat diajukan selambat-lambatnya tiga puluh hari sebelum batas akhir penyelesaian kewajiban.

Batas akhir penyelesaian kewajiban: 12 Februari.

Aku telah membaca pasal tersebut. Aku membacanya pada hari kelima, bersama seluruh Pasal 8.

Aku tidak mencatatnya.

Itu adalah satu-satunya hal yang tidak kucatat sepanjang tahun itu, dan aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri untuk itu.


Jumlah kata: ±1390