Chapter Eighteen
Enam Kali
POV: Renata
“Saudara Andhika.”
“Hm.”
“Apakah wajar apabila seseorang mengingat suatu percakapan sebanyak enam kali dalam satu hari?”
Dia berhenti mengunyah.
“Tergantung percakapannya.”
“Percakapan biasa. Durasi kurang dari dua menit. Tidak mengandung informasi penting.”
“Percakapan sama siapa?”
Aku telah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. Aku telah menyiapkannya selama tiga hari, dalam empat versi, dengan tingkat kerincian yang berbeda-beda.
Aku menggunakan versi yang paling aman.
“Tidak relevan.”
“Oh.”
Dia melanjutkan makan.
Aku menunggu.
“Anda tidak menjawab pertanyaan saya.”
“Kamu nggak nanya.”
“Saya menanyakan apakah hal tersebut wajar.”
“Iya, wajar.”
“Berdasarkan apa?”
“Berdasarkan saya juga gitu.”
Aku menoleh terlalu cepat.
Dia sedang menutup kotak makan, mengelapnya dengan tisu, dan tidak melihat ke arahku sama sekali.
“Anda juga mengingat suatu percakapan enam kali.”
“Hm.”
“Percakapan dengan siapa?”
“Tidak relevan,” katanya.
Dan sudut mulutnya bergerak satu milimeter.
Aku duduk di sudut barat daya atap gudang, pada hari kerja ke tiga puluh empat, dan menyadari bahwa aku baru saja dikalahkan menggunakan kalimatku sendiri, dan bahwa aku tidak keberatan sama sekali.
Aku perlu mencatat perkembangan berikut, karena perkembangan ini melibatkan pelanggaran terhadap tiga protokol sekaligus.
Pada hari Jumat, aku tidak menghadiri rapat pleno persiapan Bulan Bahasa.
Rapat tersebut bersifat opsional. Aku telah mencoretnya dari agenda sembilan hari sebelumnya. Tidak ada konsekuensi.
Terdapat satu masalah: aku tidak memiliki kegiatan pengganti.
Aku berada di ruang sekretariat OSIS pukul 15.00 hari Jumat, sendirian, dengan seluruh pekerjaan telah terselesaikan, dan tidak memiliki satu pun hal yang harus dilakukan untuk pertama kalinya dalam dua tahun sebelas bulan.
Aku duduk selama dua puluh menit.
Kemudian aku berjalan ke koridor laboratorium.
Aku tidak naik. Aku berdiri di ujung koridor, di dekat tiang, dan aku melihat ke arah tangga besi.
Ada seseorang di atas sana. Aku dapat mendengar suara — suara perempuan, berbicara terus-menerus, dengan jeda yang sangat pendek di antara kalimat-kalimatnya.
Aku berdiri di sana selama, aku perkirakan, empat menit.
Kemudian aku pulang.
Dan aku menghabiskan seluruh akhir pekan itu mencoba merumuskan apa yang kurasakan, karena aku tidak memiliki nama untuk perasaan tersebut, dan hal-hal yang tidak memiliki nama tidak dapat diarsipkan.
Yang paling mendekati adalah ini: aku menyadari bahwa lima belas menit yang kumiliki bukanlah satu-satunya lima belas menit.
Dan bahwa aku tidak pernah, sekalipun, bertanya.
Senin, aku bertanya.
“Saudara Andhika.”
“Hm.”
“Apakah terdapat orang lain yang menggunakan area ini?”
Aku mengamati responsnya dengan cermat.
Tidak ada perubahan pada postur. Tidak ada perubahan pada kecepatan pernapasan. Tidak ada jeda yang tidak wajar.
“Ada.”
“Berapa orang?”
“Dua.”
“Termasuk saya?”
“Nggak termasuk kamu.”
Aku menerima informasi tersebut dan menyimpannya, dan aku perlu mencatat bahwa penerimaan tersebut tidak berjalan dengan mulus di dalam dadaku, yang mana adalah reaksi fisiologis yang tidak proporsional terhadap sebuah data.
Aku juga perlu mencatat pertanyaan yang tidak kuajukan.
Aku tidak menanyakan siapa.
Aku telah menyusun pertanyaan tersebut, lengkap, di dalam kepalaku: Siapa saja mereka? Enam suku kata. Waktu pengucapan kurang dari dua detik.
Aku tidak mengucapkannya.
Alasan yang kuberikan kepada diriku pada saat itu: informasi tersebut tidak relevan bagiku.
Alasan sebenarnya, yang kuakui tiga hari kemudian: aku takut mengetahui apakah salah satu dari mereka mendapat waktu lebih lama dari lima belas menit.
Aku mencatat hal ini karena ini adalah pertama kalinya dalam hidupku bahwa aku memilih untuk tidak memiliki sebuah data.
“Sejak kapan?”
“Yang satu dari awal. Yang satu dari bulan lalu.”
“Dan kita bertiga tidak pernah bertemu.”
“Iya.”
“Itu bukan kebetulan.”
“Bukan.”
Aku menyusun kalimat berikutnya selama beberapa detik.
“Anda mengatur jadwalnya.”
“Iya.”
“Setiap hari kerja.”
“Iya.”
“Selama satu bulan dua minggu.”
“Iya.”
Aku berdiri.
Aku tidak merencanakan untuk berdiri; hal tersebut terjadi.
“Mengapa Anda tidak memberi tahu saya?”
“Kamu nggak nanya.”
“Itu bukan alasan yang memadai.”
“Iya,” katanya. “Maaf.”
Dan dia mengatakan “maaf” itu dengan cara yang membuatku justru semakin tidak dapat marah, karena tidak ada pembelaan di dalamnya, tidak ada permintaan pengertian, tidak ada apa pun yang dapat kubantah.
“Saudara Andhika.”
“Hm.”
“Berapa banyak tenaga yang Anda habiskan untuk mengatur hal ini?”
“Nggak banyak.”
“Sebutkan angkanya.”
Dia menoleh.
“Kenapa harus angka?”
“Karena Anda selalu memiliki angkanya.”
Dia diam.
Aku telah mempelajari jeda-jeda ini selama satu bulan dua minggu dan aku kini mampu membedakan tiga jenisnya: jeda karena sedang memutuskan berapa banyak yang akan diberikan; jeda karena sedang menyusun kalimat yang paling pendek; dan jeda karena sedang mempertimbangkan untuk berbohong.
Ini jenis yang pertama.
“Dua puluh menit sehari,” katanya. “Kira-kira.”
“Untuk apa saja?”
“Ngitung. Nunggu. Nyari alasan.”
“Alasan untuk apa?”
“Buat nyuruh orang turun tanpa keliatan nyuruh.”
Aku duduk kembali.
Dua puluh menit sehari. Dua puluh delapan hari kerja. Sembilan jam dua puluh menit.
Sembilan jam, dihabiskan oleh seseorang yang tidur — aku telah memperkirakan ini berdasarkan lingkaran di bawah matanya dan waktu yang diperlukan untuk pulih setelah tidur siang — kurang dari empat jam per malam.
“Anda kehilangan sembilan jam tidur.”
“Nggak. Saya ngitungnya sambil jalan.”
“Itu tidak—”
“Renata.”
Aku berhenti.
“Nggak usah dihitung,” katanya.
“Saya menghitung segala sesuatu.”
“Iya. Saya tau.” Dia memandang ke arah pohon. “Tapi yang ini jangan.”
Dan kemudian aku melakukannya.
Aku perlu mencatat bahwa tindakan berikut tidak direncanakan, tidak dianalisis sebelumnya, dan tidak memiliki dasar rasional apa pun. Aku telah memeriksanya berkali-kali sejak saat itu dan aku tetap tidak menemukan dasarnya.
“Saudara Andhika.”
“Hm.”
“Boleh saya meminjam bahu Anda selama satu menit?”
Dia menoleh.
“Apa?”
“Bahu Anda. Satu menit.”
Dia tidak menjawab selama kira-kira dua detik.
“Boleh,” katanya.
Aku berdiri. Aku berjalan tiga langkah. Aku duduk di sebelah kanannya, dengan jarak yang kuperhitungkan sebagai jarak minimum yang memungkinkan.
Dan aku menyandarkan dahiku ke bahunya.
Bukan kepala. Dahi. Sudutnya lebih sulit dan posisinya tidak nyaman, tetapi menyandarkan kepala memerlukan izin yang berbeda dan aku tidak meminta izin untuk itu.
Bahunya keras. Ada bau kertas dan sesuatu yang tajam seperti tinta.
Dia tidak bergerak sama sekali.
Aku perlu mencatat apa yang terjadi selama sembilan detik tersebut, karena aku telah memeriksanya berkali-kali dan karena setiap kali aku memeriksanya, aku menemukan sesuatu yang baru.
Detik pertama sampai ketiga: aku menghitung. Aku melakukan apa yang kulakukan terhadap segala hal, yaitu mengubahnya menjadi durasi.
Detik keempat: aku menyadari bahwa napasnya berhenti.
Bukan melambat. Berhenti.
Detik kelima sampai ketujuh: napasnya tetap berhenti.
Aku mengetahui hal ini karena dahiku menempel pada bahunya, dan bahu bergerak ketika seseorang bernapas, dan bahu itu tidak bergerak.
Detik kedelapan: napasnya kembali. Satu tarikan, pendek, seperti orang yang baru menyadari bahwa dia lupa.
Detik kesembilan: aku berhenti.
Aku berdiri.
Aku merapikan rokku. Aku membenahi letak tasku. Aku menghadap ke arahnya dan menundukkan kepala sekitar lima belas derajat.
“Mohon maaf,” kataku. “Sembilan detik. Bukan enam puluh.”
“Nggak apa-apa.”
“Saya menyampaikan permintaan yang tidak wajar.”
“Renata.”
“Ya.”
“Kamu boleh lima puluh satu detik lagi.”
Aku berdiri di atas gudang itu memegang tali tasku dengan dua tangan.
Dan aku menjawab hal yang paling jujur yang pernah kuucapkan kepada siapa pun sejak usia delapan tahun:
“Saya tidak dapat.”
“Kenapa?”
“Karena apabila saya melanjutkan,” kataku, “saya tidak akan berhenti pada enam puluh.”
Aku turun pukul 12.55.
Pada anak tangga ketiga dari bawah, aku berhenti sebagaimana biasa. Aku meluruskan bahu. Aku menarik napas satu kali.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya, hal tersebut tidak berhasil.
Aku berjalan ke ruang sekretariat dengan wajah yang kuyakini masih memerlukan penyesuaian, dan Wisnu berdiri untuk menyapa, dan kemudian dia berhenti di tengah gerakan berdirinya.
“Ketua?”
“Ya.”
“Ketua nggak apa-apa?”
“Saya baik.”
“Ketua keliatan—”
“Wisnu.”
“Ya, Ketua?”
Aku membuka mulut untuk memerintahkan sesuatu, sebagaimana yang telah berhasil setiap kali selama dua tahun sebelas bulan.
Kemudian aku menutupnya.
“Tidak apa-apa,” kataku. “Terima kasih sudah bertanya.”
Wisnu berdiri di tempatnya selama beberapa detik dengan ekspresi seseorang yang mesin cucinya baru saja berbicara.
Dan aku duduk di kursiku, membuka agenda, dan menemukan bahwa aku tidak dapat menuliskan apa pun di kolom pukul 12.40 hari itu.
Bukan karena tidak ada yang terjadi.
Karena satu-satunya kalimat yang akurat adalah sembilan detik, dan aku tidak sanggup melihat dua kata itu tertulis di atas kertas.
Malamnya, ayahku memeriksa agenda.
Beliau melakukannya setiap bulan, pada tanggal yang sama, setelah makan malam. Prosesnya memakan waktu sekitar delapan menit.
“Renata.”
“Ya, Pa.”
“Ini apa?”
Beliau menunjuk kolom pukul 12.40.
Andhika.
Dua puluh delapan kali, berturut-turut, di hari kerja.
Aku telah menyiapkan jawaban untuk momen ini selama tiga minggu. Empat versi. Aku telah menilai masing-masing berdasarkan kemungkinan diterima dan risiko pertanyaan lanjutan.
“Anggota pengurus,” kataku. “Koordinasi harian program bimbingan karier.”
Versi kedua. Skor tertinggi kedua.
Ayahku menatap kolom itu selama beberapa detik.
“Setiap hari?”
“Ya.”
“Lima belas menit?”
“Ya.”
“Programnya sebesar apa sampai perlu setiap hari?”
Dan aku, yang telah menyiapkan empat versi jawaban dan tidak satu pun mencakup pertanyaan ini, mendengar suaraku sendiri berkata:
“Tidak besar, Pa.”
Beliau mengangkat wajah.
“Lalu?”
Aku menutup mulut.
Aku membukanya kembali.
“Saya akan menghapusnya apabila Papa menghendaki.”
Ayahku menatapku cukup lama. Kemudian beliau menutup buku itu dan menyerahkannya kembali.
“Nggak usah,” katanya. “Bagus kok.”
Beliau berdiri dan pergi ke ruang kerjanya.
Dan aku duduk di meja makan dengan agenda di pangkuan, memegangnya dengan dua tangan, dan menyadari sesuatu yang membuatku tidak dapat berdiri selama beberapa menit:
Selama enam tahun, ayahku memeriksa buku itu untuk memastikan tidak ada blok yang sia-sia.
Dan barusan, ketika aku menawarkan untuk menghapus satu-satunya blok yang tidak dapat kupertanggungjawabkan—
—beliau menolak.
Jumlah kata: ±1554
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali reading
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu