← Di Depanmu Aku Waras

Chapter Three

Tiga Kata, Dua Puluh Tiga Balasan

POV Reiga

Aku mengirim pesan itu pukul delapan lewat empat puluh delapan malam.

Dua menit kemudian, aku mulai mempertanyakan kenapa memilih kalimat paling biasa di dunia.

Udah makan?

Kedengarannya seperti pesan dari ibu kos. Atau penjual katering yang sedang memastikan jumlah pesanan.

Aku hampir mengirim pesan kedua, tetapi membatalkannya. Pesan tambahan hanya akan membuatku terlihat panik, dan aku nggak panik cuma karena seorang perempuan belum membalas dalam enam menit.

Sembilan menit.

Aku meletakkan ponsel dalam posisi layar menghadap meja.

Aku membuka laptop, membaca tiga baris dokumen, lalu membalik ponselku lagi.

Tujuh belas menit setelah pesan terkirim, nama Monica muncul di layar.

Monica: Udah, Mas. Makasih udah nanya.

Rapi. Sopan. Tertutup.

Nggak ada pertanyaan balik. Nggak ada lanjutan. Bahkan panggilan “Mas” yang kemarin diperdebatkan kembali muncul seperti pagar.

Aku membaca balasan itu dua kali, lalu menaruh ponselku.

Mungkin aku memang salah mengartikan kalimat-kalimat Monica. Perempuan itu ramah kepada semua orang. Godaannya bisa jadi cuma bagian dari sifatnya, bukan undangan untuk mendekat.

Aku suka Monica. Justru karena itu, aku nggak akan membuat perempuan itu merasa dikejar setelah memberi tanda ingin menjaga jarak.

Besoknya, aku datang lebih pagi dan memilih meja di seberang Monica, bukan kursi yang biasa dipakai di sebelahnya.

Monica tiba lima belas menit kemudian. Langkahnya melambat saat melihat kursi kosong di sebelahku.

“Pagi,” sapanya.

“Pagi.”

Aku kembali melihat laptop.

Monica berdiri satu detik lebih lama dari yang diperlukan sebelum berjalan ke mejanya sendiri.

Pukul sembilan, perempuan itu datang membawa dua sampel warna.

“Aku bingung pilih yang mana.”

Aku melihat keduanya. “Yang kiri.”

“Kenapa?”

“Lebih hangat. Sesuai arah kemarin.”

“Oh.” Monica masih berdiri. “Aku juga mikir begitu.”

“Berarti sudah benar.”

“Iya.”

Aku pergi dengan langkah pelan.

Dion yang duduk dua meja dariku memutar kursi.

“Kalian berantem?”

“Nggak.”

“Terus kenapa auranya kayak pasangan yang habis salah pilih jawaban di WhatsApp?”

“Kerja, Dion.”

Setengah jam kemudian Monica kembali. Kali ini membawa tablet.

“Font judulnya gimana?”

Aku memperhatikan layar. “Yang kedua.”

“Aku juga pilih itu.”

“Bagus.”

Monica menggigit bagian dalam pipinya. “Kamu sibuk?”

“Lumayan.”

“Oh. Oke.”

Aku kembali ke meja.

Kali ketiga, Monica muncul membawa secangkir kopi hitam tanpa gula dan meletakkannya di sisi laptopku.

“Ini buat kamu.”

Aku melihat kopi itu, lalu Monica. “Kenapa?”

“Aku beli dua.”

Di tangan Monica nggak ada gelas lain.

Perempuan itu mengikuti arah pandang aku dan langsung menyembunyikan tangan di belakang tubuh.

“Punyaku udah habis.”

“Cepat.”

“Aku haus.”

Aku menahan senyum. “Makasih.”

Monica mengangguk, masih belum pergi.

“Kamu tahu pesananku?” tanyaku.

“Kopi hitam tanpa gula.”

“Aku belum pernah pesan kopi bareng kamu.”

Wajah Monica tetap tenang. Hanya ujung telinganya yang mulai merah.

“Kamu minum itu waktu briefing pertama.”

Aku terdiam. Hari pertama kami bertemu, aku memang mengambil espresso dari mesin kopi. Monica sudah masuk ke toilet saat itu, setidaknya begitu yang kuingat.

Berarti perempuan itu melihatnya setelah keluar. Berarti Monica memperhatikan.

“Kamu hafal?”

“Kebetulan ingat.”

“Kamu ingat banyak hal tentang semua orang?”

Monica berkedip sekali. “Nggak semua orang.”

Kali ini aku langsung berbalik sebelum aku sempat meminta penjelasan.

Pagar yang aku bayangkan semalam mulai terlihat seperti sesuatu yang lain. Bukan penolakan. Mungkin Monica memang terlalu hati-hati lewat pesan. Atau terlalu gugup.

Menjelang siang, tim berkumpul untuk mempresentasikan revisi awal. Aku berdiri di depan layar, menjelaskan posisi Luméra di antara merek parfum lokal lain. Di tengah presentasi, aku mengusap tengkuk karena ototku mulai kaku.

Setelah rapat, Monica menghampirinya.

“Leher kamu sakit?”

“Sedikit.”

“Dari tadi digosok terus.”

Aku menurunkan tangan. “Kamu lihat?”

“Kamu berdiri di depan semua orang. Ya kelihatan.”

“Yang lain nggak ada yang nanya.”

Monica menggeser map di pelukannya. “Mungkin yang lain nggak peduli.”

Monica membuka map, mengambil satu koyo hangat dari kantong kecil di dalamnya, lalu menyodorkannya.

“Kamu bawa ini ke mana-mana?” tanyaku.

“Aku kerja sambil nunduk seharian. Leher dan punggungku punya kebutuhan khusus.”

Aku menerima koyo itu. Jari kami hampir bersentuhan, tetapi Monica menarik tangannya tepat sebelum terjadi.

“Takut empat detik lagi?” tanyanya.

Monica memberi tatapan tajam yang gagal total karena pipinya memerah. “Aku lagi baik. Jangan dipancing.”

“Dan kamu peduli?”

Pertanyaan itu membuat Monica diam. Di sekitar kami, anggota tim lain mulai keluar dari ruang rapat. Monica menunggu sampai pintu menutup sebelum menjawab.

“Kenapa hari ini kamu duduk jauh?”

Aku nggak menduga aku akan bertanya langsung. “Aku kira kamu nggak nyaman.”

“Karena apa?”

“Pesanku semalam.”

“Aku balas.”

“Tujuh belas menit kemudian. Sangat sopan.”

Monica menatapku seperti sedang berusaha memahami masalah yang dia ciptakan sendiri.

“Aku butuh waktu buat mikir.”

“Mikir jawaban buat pertanyaan udah makan?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Monica membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tangannya memeluk map sedikit lebih erat.

“Karena aku nggak tahu kamu cuma basa-basi atau benar-benar pengin ngobrol.”

“Aku benar-benar pengin ngobrol.”

“Oh.”

Cuma satu kata, tetapi bahu Monica turun seperti baru melepaskan beban.

Aku melangkah sedikit lebih dekat. “Jadi kamu nyaman kalau aku chat?”

Monica mendongak. Ada jeda singkat sebelum senyum kecil muncul.

“Aku nyaman.”

“Cuma nyaman?”

“Mungkin terlalu nyaman.” Tatapannya bertahan di mataku. “Itu yang bikin bahaya.”

Kalimat itu seharusnya terdengar seperti peringatan. Di telingaku, hasilnya justru seperti tantangan.

“Bahaya buat siapa?”

“Belum tahu.” Monica mengembuskan napas pelan. “Tapi kalau kamu menjauh cuma gara-gara balasanku jelek, kayaknya aku yang rugi duluan.”

Aku akhirnya tersenyum. “Berarti aku boleh duduk di sebelah kamu lagi?”

“Boleh.”

“Boleh chat?”

“Boleh.”

“Boleh tanya teori tentang tanganku?”

Monica langsung berbalik menuju pintu. “Aku menyesal ngajak ngobrol.”

Aku tertawa pelan dan mengikutinya keluar. Baru dua langkah di koridor, Monica berhenti begitu mendadak sampai aku nyaris menabraknya.

“Besok makan siang sama aku,” katanya tanpa menoleh.

“Itu ajakan atau perintah?”

Monica berbalik. Wajahnya tenang lagi, tetapi jarinya sibuk meremas sudut map.

“Ajakan.”

“Berdua?”

“Kalau rame-rame, aku nggak perlu gugup dari sekarang.”

Aku menatapnya beberapa detik, sengaja membiarkan perempuan itu menunggu.

“Mau,” jawabnya akhirnya.

Monica mengangguk cepat. “Aku yang pilih tempatnya.”

“Kenapa?”

Aku mundur satu langkah sambil tersenyum.

“Biar kalau aku malu, aku tahu pintu keluar terdekat.”

Lalu Monica berjalan pergi dengan langkah anggun, seolah baru saja nggak mengakui bahwa aku membuatnya gugup.

Aku memandang sampai perempuan itu menghilang di balik pintu studio.

Semalam aku mengira sedang menerima penolakan halus.

Ternyata Monica hanya butuh tujuh belas menit untuk menyembunyikan kepanikan—dan satu hari penuh untuk memberanikan diri mengajakku berkencan.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar nggak sabar menunggu jam makan siang besok.