Chapter Two
Empat Detik yang Nggak Mau Hilang
POV Monica
Aku punya dua puluh tujuh tahun pengalaman menjadi manusia normal.
Sayangnya, semua pengalaman itu seperti nggak berguna setiap kali Reiga Bramasta berada dalam radius dua meter.
Sejak kejadian di lift kemarin, aku sudah mengulang percakapan kami sekitar tiga puluh kali di kepalaku. Bagian ketika aku berkata kalau Reiga masih mau melihatku, nanti saja setelah pintu lift menutup, selalu membuatku ingin menendang selimut.
Siapa yang bicara begitu kepada lelaki yang baru dikenal?
Aku, rupanya.
Lebih parah lagi, Reiga nggak terlihat terganggu. Lelaki itu malah mengembalikan godaannya saat rapat. Aku begitu senang sampai menjatuhkan tempat tisu di toilet, lalu mengumpat dengan suara yang mungkin terdengar sampai mesin kopi.
Hari ini aku berjanji akan lebih baik.
Datang ke kantor. Kerja. Jangan menatap Reiga seperti perempuan kelaparan.
Sederhana.
“Pagi.”
Suara Reiga terdengar tepat di belakangku saat aku sedang membuka file moodboard.
Aku menutup mata satu detik, menarik napas, lalu menoleh dengan senyum yang sudah dilatih di depan cermin.
“Pagi, Mas Reiga.”
Hari ini lelaki itu memakai kemeja putih. Lengannya masih terpasang rapi sampai pergelangan, tetapi jam tangan hitam di tangan kirinya entah kenapa terlihat terlalu bagus.
Aku memaksa mataku naik ke wajah.
“Nggak perlu pakai Mas,” kata Reiga sambil duduk di kursi sebelahku.
“Kamu lebih tua.”
“Tiga tahun.”
“Tetap lebih tua.”
“Kalau aku panggil kamu Mbak Monica?”
Aku menatapnya. “Aku bisa tersinggung.”
Sudut bibir Reiga bergerak sedikit. Lelaki itu nggak tertawa penuh, tetapi aku tetap merasa baru memenangkan sesuatu.
Kami menghabiskan pagi dengan memilih arah visual Luméra. Meja kerja penuh potongan warna, botol sampel, kartu tekstur, dan cetakan ilustrasi. Reiga duduk dekat sekali karena layar tabletku cuma sepuluh inci.
Setiap aku membungkuk, aroma parfumku sampai ke hidungku.
Bersih. Hangat. Sedikit woody.
Aku mempertimbangkan untuk bertanya mereknya, lalu membatalkan niat karena takut terdengar seperti ingin membelinya dan menyemprotkan ke bantal.
Padahal memang begitu rencananya.
“Menurutmu bentuk botol ini terlalu kaku?” tanya Reiga.
Aku menatap layar. Setidaknya aku berusaha. “Untuk target market-nya, iya. Luméra mau terasa personal, tapi garisnya terlalu dingin.”
“Kalau pakai lengkung yang ini?”
Reiga meraih dua sampel sekaligus. Aku melakukan hal yang sama.
Jari kami bersentuhan di atas botol kaca berwarna amber.
Satu.
Aku seharusnya menarik tangan.
Dua.
Reiga juga nggak bergerak.
Tiga.
Telunjuk lelaki itu hangat. Ujung jarinya menempel tepat di sisi jariku.
Empat.
Reiga akhirnya mengambil sampel di sebelah kiri. Aku mengambil yang kanan, lalu melanjutkan bicara dengan nada setenang mungkin.
“Yang ini lebih lembut. Kalau ilustrasinya mengikuti lengkung botol, hasilnya bakal terasa menyatu.”
“Kamu selalu bisa langsung lanjut kerja setelah terjadi sesuatu?”
Stylus aku berhenti.
Aku menoleh. “Terjadi apa?”
“Nggak ada.” Tatapan Reiga turun sebentar ke tangannya. “Mungkin aku salah merasa.”
Kurang ajar.
Aku tersenyum manis dan menggambar satu garis lengkung di layar. “Kalau cuma empat detik, memang belum sempat terjadi apa-apa.”
Kali ini Reiga benar-benar diam.
Aku berhasil mempertahankan ekspresi selama enam detik sebelum pura-pura mencari file di folder lain. Di dalam kepalaku, aku sudah lari keliling gedung sambil membawa spanduk kemenangan.
Kami kembali bekerja. Beberapa menit kemudian, Reiga membuka kancing mansetnya lalu menggulung lengan kemeja satu kali.
Aku membenci kenyataan bahwa perhatiannya langsung jatuh ke tangan itu.
Jari panjang. Kuku rapi. Urat tipis terlihat saat Reiga memegang botol sampel.
Tuhan menciptakan tangan sebagus itu untuk apa?
Aku menatap terlalu lama.
“Kenapa?” tanya Reiga.
“Tangan kamu bagus.”
Kalimat itu keluar sebelum sempat dihentikan.
Reiga melihat tangannya sendiri, lalu kembali menatapku. “Bagus buat apa?”
Ada banyak jawaban di kepalaku. Nggak ada satu pun yang layak diucapkan pada jam sebelas pagi di kantor.
Aku mengangkat dagu sedikit.
“Belum tahu. Aku baru punya beberapa teori.”
Untuk pertama kalinya, ketenangan Reiga retak.
Nggak banyak. Lelaki itu cuma salah menaruh tutup botol, lalu harus mengambilnya lagi. Tapi aku melihatnya. Ujung telinga Reiga bahkan sedikit merah.
Rasa malu aku mendadak berubah menjadi kepuasan.
Oh.
Jadi aku juga bisa membuat lelaki ini kehilangan ritme.
“Mau jelasin teorinya?” tanya Reiga setelah berhasil menutup botol.
Aku memiringkan kepala. “Di kantor?”
“Berarti ada tempat lain yang lebih cocok?”
Serangan balik itu begitu cepat sampai aku nyaris menjatuhkan stylus.
Reiga menangkap benda itu sebelum menyentuh lantai. Lagi-lagi tangannya masuk ke dekat tanganku, tetapi kali ini aku buru-buru menarik diri.
“Tadi katanya punya beberapa teori,” bisik Reiga sambil menyerahkan stylus. “Kenapa sekarang takut?”
“Aku nggak takut.”
“Bagus.”
“Aku cuma sadar riset yang baik butuh waktu.”
“Kalau butuh objek penelitian, bilang.”
Aku mengambil stylus itu pelan-pelan. Reiga bahkan nggak tersenyum setelah mengatakannya. Wajahnya tetap setenang orang yang baru menawarkan bantuan memindahkan meja.
Ini nggak adil. Seharusnya lelaki setampan itu punya sedikit belas kasihan.
Untung kepala desain datang meminta revisi. Aku berdiri terlalu cepat dan membawa tabletnya ke meja seberang tanpa berani menoleh lagi.
Sepanjang sore, aku merasakan tatapan Reiga sesekali. Bukan tatapan yang bikin nggak nyaman. Lebih seperti lelaki itu sedang mencoba memecahkan teka-teki, dan aku adalah teka-teki yang baru saja sengaja memberikan petunjuk paling menyesatkan.
Begitu sampai di apartemen malam itu, aku meletakkan tas, melepas sepatu, lalu berdiri di depan Naya sambil mengangkat tangan kanan.
“Jangan sentuh aku.”
Naya yang sedang makan mi menatapnya datar. “Kenapa?”
“Tangan ini habis menyentuh tangan Reiga.”
“Terus?”
Aku mendekatkan tanganku ke hidung. Aroma parfum Reiga sebenarnya sudah hampir nggak ada, tetapi aku yakin masih bisa menemukan sisanya kalau berusaha.
“Aku belum mau cuci tangan.”
Naya menurunkan garpu. “Monica.”
“Cuma satu jam.”
“Kamu pegang gagang pintu, tombol lift, sama kartu parkir pakai tangan itu.”
Aku melihat telapak tanganku.
“Kenapa kamu harus merusak suasana?”
“Karena bakteri nggak peduli sama kisah cinta.”
Aku tetap bertahan sebelas menit. Setelah Naya mengancam menyemprot tanganku dengan disinfektan, aku akhirnya masuk kamar mandi dan mencuci tangan dengan wajah seperti sedang melepas cinta pertamanya ke luar negeri.
Selesai mandi, aku menjatuhkan diri ke kasur lalu memeluk bantal.
Aku mengingat empat detik itu.
Lalu tangan Reiga.
Lalu pertanyaan tentang tempat lain yang lebih cocok untuk membahas teorinya.
Aku berguling ke kanan, kembali ke kiri, lalu menendang selimut.
“Kenapa dia harus bisa membalas?” keluhnya ke bantal. “Kenapa nggak ganteng doang?”
ponselku bergetar di atas nakas.
Aku meraihnya sambil masih memeluk bantal. Begitu melihat nama pengirimnya, aku langsung duduk.
Reiga: Udah makan?
Tiga kata.
Cuma tiga kata sederhana.
Aku menatapnya selama hampir satu menit, lalu membuka aplikasi catatan untuk menyusun jawaban yang nggak membuatku terlihat seperti sudah merencanakan nama anak kami.
- 1 Perempuan yang Kelihatan Bercahaya
- 2 Empat Detik yang Nggak Mau Hilang reading
- 3 Tiga Kata, Dua Puluh Tiga Balasan
- 4 Makan Siang Paling Normal
- 5 Payung Bernama Bram
- 6 Jangan Gulung Lengan Bajumu
- 7 Eksperimen Reiga Bramasta
- 8 Kencan yang Nggak Bisa Disangkal
- 9 Jadi Pacarku
- 10 Pacar Monica Sangat Tampan
- 11 Siapa yang Menyerah Dulu
- 12 Cium Aku Sampai Aku Lupa
- 13 Museum Rahasia Monica
- 14 Sama-Sama Nggak Normal
- 15 Di Depanmu Aku Nggak Perlu Waras