Chapter Thirty Three
Tiga Hari
POV: Tamara
Yang kuucapkan malam itu sesudahnya adalah kalimat terburuk yang pernah keluar dari mulutku seumur hidup.
Aku mau mencatatnya persis, karena aku tidak berhak melembutkannya.
Kami berdiri di kios itu setelah pertanyaan “punya apa, Tam” yang tidak bisa kujawab. Sunyi mungkin satu menit. Sarno sudah kabur lewat pintu belakang. Kipas gantung di tengah berputar.
Dan aku, karena kalah dan tidak sanggup kalah, memilih menyerang tempat yang paling lemah.
“Kamu nggak punya pilihan,” kataku, “karena kamu nggak pernah bikin pilihan.”
“Tam.”
“Kamu selalu nunggu, Mas. Delapan tahun kamu nunggu ada yang rusak biar ada kerjaan. Kamu nunggu sampai anak kamu diambil orang baru kamu buka kios. Kamu nunggu sampai aku teriak di parkiran baru kamu ngomong.”
Wajahnya tidak berubah sama sekali.
Itu tanda paling buruk. Aku sudah tahu itu sejak Oktober dan aku tetap melanjutkan.
“Dan sekarang kamu nunggu lagi,” kataku. “Nunggu mereka ngizinin kamu jadi bapaknya sendiri.”
Dia tidak berteriak.
Aku ingin dia berteriak. Aku sungguh-sungguh menginginkannya, karena kalau dia berteriak, kami impas.
Dia mengambil lap, menyeka tangannya, dan bicara dengan suara yang sama sekali tidak naik.
“Kamu ngomong gitu,” katanya, “karena kamu nggak pernah nggak punya apa-apa.”
“Mas—“
“Kamu belum selesai denger.”
Aku menutup mulut.
“Kamu tumbuh di rumah yang lantainya keramik gede,” katanya. “Kamu kuliah. Kamu punya gaji tanggal satu. Kalau kamu berantem sama orang tua kamu hari ini, kamu masih punya kos, dan kalau kos kamu kenapa-kenapa, kamu masih punya rumah itu.”
“Itu nggak ada hubungannya—“
“Ada.” Dia menaruh lapnya. “Kamu bisa bilang ‘bikin pilihan’ karena kalau pilihan kamu salah, kamu masih bisa balik. Aku nggak punya tempat balik, Tam. Kalau aku salah, aku jatuh, dan yang di bawah itu bukan apa-apa. Kosong.”
“Aku ngerti—“
“Kamu nggak ngerti.”
“Aku ngerti, Mas!”
“Kamu nggak ngerti!” Dan itu satu-satunya kalimat malam itu yang dia keraskan, dan cuma satu kali. “Kamu nggak pernah berdiri di depan kaca kasir klinik jam dua pagi sambil ngitung uang yang kamu sudah tahu kurang!”
Kios itu sunyi.
“Aku yang berdiri di sana,” kataku pelan. “Aku yang bayar.”
Wajahnya berubah.
Dan aku tahu — aku tahu persis di detik itu, sebelum kalimatku selesai keluar — bahwa aku baru saja melakukan hal yang paling tidak bisa dimaafkan yang bisa dilakukan seseorang: memakai kebaikan sendiri sebagai senjata.
“Mas, bukan itu maksudku.”
Dia mengangguk sekali.
“Iya,” katanya. “Aku tahu.”
Dan dia melanjutkan membereskan meja, dan tidak melihatku lagi sampai aku mengambil tasku dan keluar.
Hari pertama aku yakin dia yang harus minta maaf.
Aku menyusun daftarnya di kepala sepanjang mengajar. Dia yang menyerah tanpa bertanya siapa-siapa. Dia yang membiarkan orang lain mengatur berapa lama dia boleh bicara dengan anaknya. Dia yang menyerangku soal keramik dan gaji tanggal satu, padahal aku tidak minta lahir di rumah itu.
Hari kedua daftarnya masih ada tapi urutannya berubah.
Hari ketiga aku sadar ada satu baris yang tidak bisa dipindah ke mana pun.
Aku yang bayar.
Tiga kata. Aku mengucapkannya di dalam kios yang dia bangun dengan uang pinjaman dan jam tangan yang dijual, kepada laki-laki yang libur satu hari kerja dan menunggu tiga jam di klinik supaya bisa mengembalikannya.
Aku pernah menulis di buku kunjungan bahwa aku menghormati privasi anak itu. Aku pernah berdiri di ruang guru kosong dan menyimpulkan sendiri bahwa membantu diam-diam bukan menghormati.
Ternyata aku belum selesai belajar. Ternyata bagian keduanya adalah ini: kalau kamu masih ingat berapa yang pernah kamu keluarkan, kamu belum pernah benar-benar memberi.
Bu Yanti menyadarinya hari kedua.
“Tam.”
“Nggak.”
“Aku belum—“
“Kamu udah ngomong di muka kamu.”
“Kamu berantem.”
Aku menaruh pulpen merah.
“Kok tahu?”
“Kamu ngoreksi ulangan tiga hari, Tam.” Dia menunjuk tumpukan di mejaku. “Biasanya sehari. Dan kemarin kamu ngasih nilai delapan puluh ke anak yang jawabannya salah semua.”
Aku menarik kertas paling atas dan memeriksanya.
Delapan puluh. Jawabannya memang salah semua.
“Ya Allah.”
“Sini.” Bu Yanti menarik kursi. “Cerita.”
“Nggak.”
“Ya udah nggak usah cerita. Aku ngomong aja, kamu dengerin.”
Dia duduk.
“Aku nikah dua belas tahun,” katanya. “Suamiku pegawai kelurahan. Kami berantem paling parah tahun kedua, gara-gara aku ngomong satu kalimat soal gajinya.”
Aku mengangkat wajah.
“Dia diam empat hari,” lanjut Bu Yanti. “Bukan ngambek. Diam beneran. Dan aku nunggu dia minta maaf, karena menurutku dia yang salah duluan.”
“Terus?”
“Terus hari kelima aku sadar sesuatu.” Dia menepuk mejaku sekali. “Yang duluan salah itu nggak selalu yang paling banyak ngerusak, Tam.”
Aku ke kios hari ketiga, jam setengah delapan malam.
Rolling door-nya sudah setengah turun. Lampu depan mati. Yang menyala cuma lampu meja kerja di dalam.
Aku menunduk masuk.
Dia sedang menyolder. Tidak menoleh.
Aku berdiri di ambang selama mungkin dua puluh detik.
“Mas.”
“Hm.”
“Aku salah.”
Solder itu tidak berhenti.
“Yang soal ‘kamu nggak pernah bikin pilihan’ itu salah,” kataku. “Yang soal ‘aku yang bayar’ itu lebih salah. Yang kedua nggak ada alasannya sama sekali. Itu bukan kalah adu argumen. Itu jahat.”
Dia meletakkan soldernya di dudukan.
“Tam.”
“Aku belum selesai.” Aku maju satu langkah. “Dan kamu juga salah, karena kamu nggak nanya aku sekali pun sebelum bilang iya ke Vanya, padahal aku bukan orang lewat, aku— “
Aku berhenti.
“Kamu apa?”
“Aku nggak tahu aku apa,” kataku, dan suaraku pecah di tengah dan aku benci itu. “Itu masalahnya, Mas. Aku nggak tahu aku apa di hidup kamu. Aku bukan istri kamu. Aku bukan siapa-siapanya anak kamu selain gurunya. Aku nggak berhak marah dan aku tetap marah dan itu bikin aku kelihatan gila.”
Dia berdiri.
“Kamu bukan orang lewat.”
“Aku tahu.”
“Nggak, kamu nggak tahu.” Dia berjalan mengitari meja. “Kamu nggak tahu, karena aku nggak pernah bilang, karena aku pikir kamu bisa lihat sendiri.”
“Aku nggak bisa lihat, Mas.”
“Sekarang aku bilang.”
Dia berhenti di depanku.
“Waktu Vanya nelepon minggu lalu, orang pertama yang aku pikirin bukan dia. Bukan Kirana.” Suaranya rendah. “Aku mikir gimana caranya cerita ini ke kamu tanpa kamu marah. Itu yang aku pikirin duluan. Aku sampai nyusun kalimatnya di kepala waktu masih di telepon.”
“Terus kenapa kamu tetap bilang iya?”
“Karena aku pengecut, Tam.”
Aku menatapnya.
“Itu jawabannya,” katanya. “Nggak ada yang lebih bagus. Kamu benar dan aku salah dan aku nggak punya pembelaan.”
Aku tidak ingat siapa yang bergerak duluan.
Aku sudah memikirkannya berkali-kali sesudahnya dan aku tetap tidak tahu, dan aku curiga jawabannya adalah tidak ada yang duluan.
Yang aku ingat: punggungku menabrak etalase dan ada sesuatu di dalamnya yang jatuh dan tidak ada satu pun dari kami yang berhenti untuk melihat apa.
Yang aku ingat: tangannya di rahangku, dan itu tangan yang tiga hari terakhir kupikirkan terus, dan garis-garis hitam itu.
Yang aku ingat: aku menarik kerah kemejanya seperti di parkiran, seperti di gerbang sekolah, seperti setiap kali, karena ternyata cuma itu yang bisa kulakukan setiap kali aku tidak punya kata-kata.
Yang aku ingat: lampu meja kerja jatuh dan tidak mati, cuma menyorot ke arah yang salah, ke langit-langit.
Dan yang paling aku ingat: dia yang berhenti.
Dua tangannya di bahuku, mendorong pelan, jaraknya jadi sejengkal.
Napasnya tidak beraturan sama sekali.
“Tam.”
“Kenapa.”
“Nggak di sini.”
“Mas—“
“Nggak di sini, dan nggak sekarang, dan bukan karena aku nggak mau.”
Aku memejamkan mata dan menempelkan keningku ke dadanya dan berdiri begitu sampai napasku sendiri kembali.
“Aku tahu,” kataku.
“Kamu marah?”
“Aku lega.” Aku menarik napas. “Dan aku juga marah. Dua-duanya. Jangan tanya lagi.”
Dia tertawa. Di dadanya. Aku merasakannya sebelum mendengarnya.
Kami membereskan etalase selama lima belas menit.
Yang jatuh ternyata kotak berisi enam puluh sekrup ukuran campur, dan itu adalah bentuk hukuman paling adil yang bisa diberikan alam semesta kepada dua orang dewasa yang seharusnya tahu diri.
“Ini yang panjang masuk mana?”
“Yang kotak biru.”
“Yang ini?”
“Biru juga.”
“Yang ini?”
“Tam, semua yang panjang biru.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi.”
Kami di lantai, berhadapan, dengan sekrup di antara kami dan lampu meja yang masih menyorot ke langit-langit karena tidak ada yang sempat membetulkannya.
“Mas.”
“Hm.”
“Ini nggak bisa diterusin.”
Tangannya berhenti.
“Bukan kita,” kataku cepat. “Yang ini. Cara ini.”
Dia menaruh sekrup di kotak biru.
“Aku tahu.”
“Tiga hari kemarin aku nggak bisa tidur, dan aku nggak bisa telepon kamu, karena aku nggak tahu aku ini apa buat kamu.” Aku menatap lantai. “Kalau aku pacarmu, aku bisa marah dua hari terus baikan. Kalau aku istrimu, aku bisa marah dan tetap tidur di rumah yang sama.”
“Tam.”
“Aku ini apa, Mas?”
Dia tidak menjawab.
Dia mengambil kotak biru itu, menutupnya, dan menaruhnya di rak.
Lalu dia berdiri, dan mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri, dan berkata satu kalimat yang membuatku harus menunggu sampai di parkiran sebelum boleh menangis.
“Kasih aku waktu sampai bulan depan.”
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari reading
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis