← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Seventeen

Kursi Devan

POV: Devan

Aku tidak tahu kapan kursi di sudut ruang OSIS menjadi kursiku.

Tidak ada rapat.

Tidak ada voting.

Tidak ada surat keputusan.

Aku hanya datang suatu sore, lalu menemukan sebuah kopi susu diletakkan di meja sebelah kursi itu.

Di atasnya ada sticky note.

Untuk anggota tidak resmi.

Aku melihat Clara.

Dia sedang bicara dengan junior kelas sepuluh.

Begitu mata kami bertemu, dia tersenyum lebar.

Aku mengangkat sticky note.

Clara mengangguk seperti orang yang sangat bangga pada sistem administrasinya.

Aku duduk.

Lima menit kemudian Nadine lewat.

“Itu kursimu sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena semua orang sudah tahu.”

“Tahu apa?”

“Kalau ada tas hitam di sana, jangan dipindah.”

Aku melihat tasku.

Lalu kursinya.

“Aku bahkan bukan anggota OSIS.”

“Sudah terlambat.”

Bima muncul dari belakang lemari.

“Van, sekalian cek file vendor, ya?”

Aku menatapnya.

“Lihat?” kata Nadine.

Aku membuka laptop.

Kesalahan terbesar hidupku adalah terlihat kompeten.

Satu jam kemudian ruang OSIS mulai sepi.

Bima pergi ke aula.

Nadine pulang lebih dulu.

Dua junior selesai mencetak poster.

Tinggal aku dan Clara.

Dia duduk di meja utama dengan dua map terbuka.

Aku mengerjakan tugas matematika.

Tidak ada percakapan.

Lima menit.

Sepuluh.

Lima belas.

Anehnya, hening itu tidak terasa seperti menunggu sesuatu.

Clara sesekali membalik halaman.

Aku sesekali mengetik.

AC berdengung.

Suara orang latihan basket terdengar samar dari luar.

“Van.”

“Hm?”

“Bosannya?”

“Nggak.”

“Kamu dari tadi diam.”

Aku mengangkat kepala.

“Kamu juga.”

“Aku kerja.”

“Aku juga.”

Clara tersenyum.

Lalu dia menutup map dan pindah ke kursi sebelahku.

Tidak untuk menggoda.

Dia hanya duduk.

Bahu kami hampir bersentuhan.

“Capek?” tanyaku.

“Sedikit.”

“Mau pulang?”

“Lima belas menit.”

Aku menatapnya.

Dia tertawa pelan.

“Beneran lima belas menit.”

“Oke.”

Aku kembali ke soal.

Beberapa menit kemudian berat kecil menyentuh bahuku.

Clara menyandarkan kepala.

Tanganku berhenti menulis.

“Ganggu?” tanyanya.

“Nggak.”

“Yakin?”

“Iya.”

Dia tidak bicara lagi.

Aku juga tidak.

Ini berbeda dengan kontak fisik biasanya.

Tidak ada eksperimen.

Tidak ada telinga merah yang diumumkan.

Tidak ada kemenangan.

Hanya Clara yang lelah dan memilih bahuku sebagai tempat berhenti sebentar.

Aku melanjutkan menulis dengan gerakan lebih pelan.

Sepuluh menit kemudian dia berkata, “Aku suka begini.”

“Diam?”

“Iya.”

“Kamu?”

Dia mengangkat kepala sedikit. “Apa?”

“Kamu biasanya nggak tahan diam.”

“Aku tahan kalau sama kamu.”

Pensilku berhenti.

Clara melihat.

Senyumnya muncul.

“Merah?”

“Jangan.”

Dia tertawa kecil, lalu kembali bersandar.

Beberapa menit kemudian pintu terbuka.

Bima masuk.

Dia berhenti.

Aku melihatnya.

Dia melihat Clara.

Lalu kursiku.

“Oh.”

“Apa?” tanyaku.

“Nggak ada.”

Dia mengambil map dari meja.

Sebelum pergi, dia menunjuk kursiku.

“Jangan dipindah, ya. Itu kursi Devan.”

Pintu menutup.

Aku menatap Clara.

Dia sudah tertawa tanpa suara.

“Aku benci tempat ini.”

“Bohong.”

Aku menatap kopi susu di meja.

Lalu kepalanya di bahuku.

“Sedikit,” kataku.

Clara tersenyum.

Aku kembali mengerjakan soal.

Entah sejak kapan, ruang OSIS yang dulu terlalu ramai mulai terasa tenang selama Clara ada di dalamnya.