Chapter Three

Perempuan yang Datang Sebelum Taruhan

POV: Erga

Aku pertama kali melihatnya sebulan sebelum dia berdiri di samping mejaku dan bilang akan mencariku kalau ada yang rusak.

Waktu itu hari Senin, jam delapan lewat sedikit, dan lift penuh orang yang wajahnya sama-sama belum siap kembali bekerja. Aku berdiri di sudut belakang sambil membaca notifikasi server dari ponsel. Pintu hampir menutup ketika sebuah tangan menahannya dari luar.

Dia masuk sambil menelepon.

“Gue nggak peduli katanya minimalis. Kalau jarak antarhurufnya kayak orang habis berantem, itu bukan minimalis. Itu nggak akur.”

Dua orang di depan bergeser memberi jalan, padahal ruang di dekat pintu masih cukup. Seorang staf baru buru-buru merapikan rambut lewat pantulan dinding lift. Lelaki di sebelahku menurunkan ponselnya dan lupa menaikkan lagi.

Dia nggak memperhatikan satu pun.

“Ganti font-nya. Jangan Montserrat lagi. Kita bukan startup tahun 2017.”

Panggilannya berakhir tepat saat lift berbunyi di lantai tujuh. Dia keluar tanpa melihat angka. Pintu mulai menutup, lalu terbuka lagi karena dia menekan tombol dari luar.

“Design lantai sembilan, kan?” tanyanya.

Seseorang menjawab iya.

Dia menatap lorong divisi IT, lalu menatap angka tujuh di atas pintu.

“Oke. Anggap nggak pernah terjadi.”

Dia masuk lagi dengan wajah setenang orang yang nggak baru saja salah lantai di depan delapan saksi. Ketika pintu tertutup, dia menatap pantulannya sendiri, menahan senyum selama dua detik, lalu tetap tertawa kecil.

Di situlah masalahku dimulai.

Bukan karena kalimat soal font. Bukan karena dia cantik, meski seluruh lift sepertinya sepakat soal itu. Bukan karena dia melakukan sesuatu yang baik atau luar biasa. Aku bahkan belum tahu namanya.

Perasaan itu datang lebih dulu daripada alasan.

Seperti ketika listrik kembali menyala setelah padam dan semua perangkat hidup bersamaan. Mendadak. Tanpa minta izin. Terlalu cepat buat dicegah.

Setelah hari itu, aku mulai melihatnya di mana-mana.

Di antrean kopi sambil mengetik satu tangan. Di lobi bersama tiga temannya yang selalu membuat area sekitar mereka terasa lebih ramai. Di ruang meeting, berdiri di depan layar dengan cara bicara yang bikin orang-orang berhenti mengecek ponsel.

Pernah suatu pagi kami berdiri di kedai kopi yang sama. Dia ada dua orang di depanku, sedang berdebat dengan kasir karena pesanannya tertukar. Bukan marah—dia justru berusaha meyakinkan kasir yang gugup bahwa dunia nggak akan berakhir cuma karena satu iced latte salah nama. Aku sempat berpikir untuk menyapa saat dia berbalik. Tapi seorang lelaki dari tim Business datang lebih dulu, membawakan pesanannya, lalu berjalan bersamanya menuju lift.

Aku tetap di antrean sampai mereka menghilang. Setelah itu aku menertawakan diri sendiri karena sempat membayangkan sapaan sederhana bisa mengubah apa pun.

Aku nggak pernah sengaja mencari tahu tentang dia.

Aku cuma kebetulan membaca namanya di undangan rapat. Kebetulan hafal suara tawanya karena mejaku satu lantai di bawah. Kebetulan tahu dia memesan iced latte tanpa whipped cream karena dua kali berdiri di belakangnya di kedai kopi.

Kebetulan yang terjadi terlalu sering biasanya punya nama lain, tapi aku memilih nggak memikirkannya.

“Lo ngeliatin lagi,” kata Damar suatu siang.

Aku mengalihkan pandangan dari dinding kaca ruang meeting. “Ngeliatin apa?”

“Kondisi pasar global.”

“Kerja.”

“Iya. Gue juga kalau kerja biasanya lihat ke lantai sembilan sambil senyum sendiri.”

Aku melempar bungkus tisu ke arahnya. Damar menangkapnya, lalu membungkuk seolah baru menerima bunga di atas panggung.

“Kenalan sana,” katanya.

“Buat apa?”

“Buat reproduksi. Ya buat ngobrol, goblok.”

“Dia bahkan nggak tahu gue ada.”

“Makanya kasih tahu.”

Aku kembali ke layar. “Nggak perlu.”

Waktu itu aku sungguh mengira rasa suka bisa dibiarkan sampai lelah sendiri. Nggak semua hal harus dikejar. Ada yang cukup dilihat dari jarak aman, lalu disimpan tanpa mengganggu hidup siapa pun.

Dia hidup di dunia yang selalu menoleh ketika dia lewat. Aku lebih nyaman bekerja di ruangan yang orang lain baru ingat keberadaannya saat Wi-Fi mati.

Bukan tragedi. Cuma fakta.

Jadi ketika dia menatapku dari seberang rooftop sebulan kemudian, aku mengira senyumnya ditujukan pada orang di belakangku.

Aku sempat menoleh sedikit. Nggak ada siapa-siapa selain panel proyektor dan tanaman plastik.

Saat kembali melihat ke arahnya, dia masih menatapku.

Aku cuma sanggup mengangguk sebelum pura-pura kembali memeriksa kabel. Tanganku yang biasanya stabil salah memasukkan konektor dua kali.

“Rusak?” tanya staf lounge.

“Enggak.”

“Masnya kelihatan panik.”

“Kabelnya keras.”

Alasan yang buruk, tapi dia cukup baik untuk nggak bertanya lagi.

Besoknya, dia datang ke ruang IT.

Damar melihatnya lebih dulu. Dari tempat duduknya, dia mengangkat kedua alis kepadaku berkali-kali seperti sedang mengirim kode morse. Aku pura-pura nggak paham sampai ada dua ketukan di meja.

Aku menoleh dan mendapati dia berdiri sedekat itu.

Otakku, yang bisa membaca ribuan baris log dan menemukan satu kesalahan kecil, mendadak gagal menyusun sapaan normal.

“Mbak dari Design?”

Begitu keluar, aku langsung tahu itu kalimat paling bodoh yang bisa dipilih. Kartu identitasnya jelas. Semua orang juga tahu dia dari divisi mana.

Tapi dia malah tersenyum.

“Kedengarannya kayak aku datang buat nagih revisi.”

Dia duduk di kursi sebelah tanpa diminta. Wangi parfumnya tipis, bersih, dan membuat ruang kerja yang biasanya cuma berbau kopi serta pendingin udara terasa berbeda.

Dia berterima kasih soal proyektor. Aku menjawab seadanya karena kalau bicara terlalu banyak, kemungkinan besar suaraku akan terdengar aneh.

Lalu dia berdiri di sampingku untuk melihat layar.

Terlalu dekat.

Aku menggeser kursi, berusaha memberinya tempat sekaligus menyelamatkan sisa kemampuan berpikir. Bahunya nyaris menyentuh bahuku. Beberapa helai rambutnya jatuh ke depan saat dia membungkuk.

“Ini apa?”

“Log server.”

Dia mengatakan kelihatannya rumit. Aku menjawab asal. Dia mendekat lagi, seolah sengaja menguji berapa lama aku bisa tetap terlihat normal.

Ketika dia bilang mau diajari, telingaku terasa panas.

Di seberang meja, Damar menutupi mulut dengan mug. Bahunya bergerak-gerak menahan tawa. Aku ingin melempar keyboard ke kepalanya.

Sebelum pergi, dia mengambil kartu namaku. Cara bibirnya mengucapkan nama yang tertulis di sana membuatku butuh beberapa detik untuk ingat cara bernapas. Lalu jarinya menyentuh punggung tanganku.

Ringan. Singkat. Mungkin nggak sengaja.

Tetap saja aku merasakannya lama setelah pintu tertutup.

Ruangan hening selama dua detik.

Lalu Damar mendorong kursinya mendekat.

“Gue mau nanya sesuatu.”

“Jangan.”

“Dia ke sini nyari lo?”

“Katanya mau bilang makasih.”

“Untuk proyektor yang lo benerin lima menit?”

“Iya.”

“Dia duduk di sebelah lo cuma buat bilang makasih?”

“Kayaknya.”

Damar menatapku cukup lama, kemudian memegang kedua bahuku. “Bro. Sebagai teman yang peduli, gue perlu memastikan. Waktu kecil kepala lo pernah jatuh duluan?”

Aku menepis tangannya. “Balik kerja.”

“Dia flirting.”

“Dia ramah.”

“Kalau dia lebih ramah lagi, kalian perlu ruangan sendiri.”

Aku berusaha mengabaikannya, tetapi mataku terus kembali ke punggung tangan yang disentuh tadi.

Malamnya aku membuka Instagram, mencari akun yang sebenarnya sudah kutahu, lalu menutupnya lagi tanpa menekan tombol follow. Aku nggak mau mengubah satu percakapan menjadi sesuatu yang bukan-bukan.

Mungkin dia memang hanya ramah. Mungkin dia bersikap seperti itu kepada semua orang. Mungkin besok dia bahkan lupa pernah datang.

Tetapi sebelum tidur, aku mengingat senyumnya di rooftop, kursi kosong di sebelahku, dan kalimat terakhirnya.

Sampai ketemu lagi, Mas.

Untuk pertama kalinya sejak rasa itu muncul di dalam lift, aku membiarkan diri berharap dia sungguh-sungguh bermaksud akan datang lagi.